Latest Program: PTFI perkuat pengelolaan sampah pesisir berbasis ekonomi sirkular

WhatsApp-Image-2026-06-29-at-20.40.44

PTFI Perkuat Pengelolaan Sampah Pesisir Berbasis Ekonomi Sirkular

Latest Program – Di Pantai Kemukem, Desa Kramat, Kecamatan Bungah, Gresik, Jawa Timur, PT Freeport Indonesia (PTFI) melakukan upaya untuk meningkatkan pengelolaan sampah pesisir melalui program Waste for Waste. Inisiatif ini bertujuan menciptakan sistem daur ulang yang melibatkan masyarakat sekaligus mengubah cara melihat sampah menjadi sumber daya berharga. Dalam acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, para peserta termasuk warga setempat dan organisasi lingkungan turut serta dalam mengambil bagian pada berbagai kegiatan yang bertujuan memperkuat kesadaran lingkungan dan memastikan keberlanjutan ekosistem.

Senior Vice President Geoengineering and Environmental PT Freeport Indonesia, Ardhin Yuniar, menyatakan bahwa Waste for Waste merupakan langkah strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Program ini menekankan kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat, sehingga aksi pembersihan lingkungan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi terus-menerus terjaga sepanjang waktu. “Kami ingin membangun sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir, sehingga sampah tidak lagi dianggap sebagai limbah, tapi sebagai sumber daya yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ungkapnya.

Upaya Membangun Sistem Berkelanjutan

Menurut Ardhin, pendekatan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah memiliki potensi besar untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Dengan memanfaatkan kembali bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna, program ini berupaya mendorong inovasi di tingkat lokal. Contohnya, sampah yang dikumpulkan akan dipilah, lalu didaur ulang menjadi produk baru atau diolah menjadi kompos. Proses ini memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat, termasuk pengelolaan sampah sejak sumbernya.

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menilai inisiatif PTFI sebagai langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Ia menekankan bahwa penanaman mangrove dan kegiatan pembersihan pantai merupakan bagian dari aksi nyata yang berdampak langsung pada lingkungan. “Perubahan iklim harus diimbangi dengan upaya konkret seperti penanaman mangrove untuk menjaga kawasan pesisir utara. Sinergi seperti ini perlu terus diperkuat,” jelas Yani. Ia juga mengapresiasi kombinasi antara aksi bersih pantai, edukasi lingkungan, dan pembangunan infrastruktur daur ulang yang dilakukan oleh perusahaan.

Partisipasi Masyarakat dalam Proses Daur Ulang

Kegiatan Waste for Waste tidak hanya melibatkan warga Desa Kramat, tetapi juga peserta dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar, mahasiswa, dan komunitas lokal. Acara tersebut menyediakan ruang untuk kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat. Ardhin menjelaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada keterlibatan aktif seluruh pihak, termasuk pemahaman tentang pentingnya pengurangan sampah, pemanfaatan ulang, dan daur ulang (3R). “Keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama untuk memastikan keberlanjutan program,” katanya.

Dalam rangkaian acara Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, PTFI mengadakan berbagai kegiatan seperti Environmental Awareness Workshop dan Student Exhibition. Workshop tersebut bertujuan memberikan edukasi tentang pentingnya lingkungan hidup, sementara pameran karya siswa memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitas dalam isu-isu lingkungan. Selain itu, aksi bersih Pantai Kemukem melibatkan sekitar 350 peserta yang berhasil mengumpulkan 1.626,2 kilogram sampah. Sampah-sampah tersebut tidak hanya dibuang sembarangan, tetapi diproses sesuai standar daur ulang atau kompos.

Komitmen untuk Perkuat Ekonomi Sirkular

Dalam rangka memperkuat program Waste for Waste, PTFI juga menyerahkan bantuan Bank Sampah Induk kepada desa penerima manfaat. Bantuan ini bertujuan mendorong pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan memungkinkan komunitas lokal memiliki akses ke sumber daya ekonomi dari limbah. “Bank Sampah Induk menjadi alat untuk menciptakan ekonomi sirkular di tingkat desa, dengan mengubah sampah menjadi barang bernilai,” kata Ardhin. Ia menambahkan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen PTFI untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hidup dan ekonomi sekaligus.

Kerja sama antara PTFI dan pemerintah daerah tidak hanya terbatas pada kegiatan saat ini, tetapi juga mencakup perencanaan jangka panjang. Bupati Yani mengingatkan bahwa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang diterapkan di kawasan pesisir perlu dikembangkan lebih lanjut. “Dengan TPST yang menerapkan prinsip 3R, sampah dapat dikelola secara efektif sejak dari sumbernya, sehingga mengurangi beban lingkungan,” tegasnya. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar, termasuk meningkatkan kualitas hidup dan menjaga kelestarian sumber daya alam.

Kegiatan Sosial dan Lingkungan yang Berkelanjutan

Acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang diadakan oleh PTFI juga menyoroti peran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Seluruh peserta kegiatan diberikan pelatihan dasar tentang cara mengelola sampah secara efektif dan berkelanjutan. “Dengan memahami teknik daur ulang, warga bisa lebih terlibat dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar,” jelas Ardhin. Selain itu, program ini juga mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, karena bahan tersebut merupakan penyumbang utama sampah di daerah pesisir.

Sebagai bagian dari program Waste for Waste, PTFI berupaya membangun ekosistem daur ulang yang terpadu. Dengan membangun hubungan antara industri, pemerintah, dan masyarakat, perusahaan tersebut berharap mampu menciptakan model pengelolaan sampah yang dapat diadopsi oleh daerah lain. “Program ini menjadi contoh bagaimana ekonomi sirkular dapat berdampak positif pada lingkungan dan ekonomi lokal,” kata Ardhin. Kegiatan seperti penanaman mangrove dan aksi bersih pantai juga ditekankan sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Dengan partisipasi sekitar 2.000 peserta, acara tersebut menunjukkan dukungan luas dari berbagai pihak. Banyak warga Desa Kramat mengungkapkan kebahagiaan mereka karena bisa terlibat langsung dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Saya merasa bangga karena bisa ikut serta dalam kegiatan ini, karena ini membantu mengurangi sampah di sekitar rumah kami,” kata salah satu peserta. Ardhin berharap program ini akan terus berkembang, serta menjadi bagian dari komitmen jangka panjang PTFI dalam menjaga lingkungan hidup.