New Policy: Buku Bung Karno, halaman awal Bangsa

Launching-Buku-Bung-Karno-14

Buku Bung Karno, Halaman Awal Bangsa

New Policy – Surabaya, sebuah kota yang tidak hanya dibangun oleh infrastruktur seperti jalan raya, gedung-gedung monumental, atau layanan publik yang terorganisir, juga tumbuh dari ingatan kolektif masyarakat. Kota ini menjadi tempat di mana sejumlah manusia yang berperan penting dalam membentuk identitas nasional lahir dan berkembang. Di era digital saat ini, ketika generasi muda lebih akrab dengan video singkat yang menyebar cepat daripada narasi sejarah yang panjang, kembali ke akar peristiwa sejarah melalui perspektif lokal semakin relevan. Peluncuran buku *“Bung Karno: Aku Arek Suroboyo”* oleh Pemerintah Kota Surabaya baru-baru ini membuka ruang untuk menggali kembali bagian sejarah yang sering kali tertutup oleh narasi dominan di tingkat nasional.

Penerbitan Buku yang Memperkaya Pemahaman Lokal

Buku ini ditulis oleh empat penulis, yaitu Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta. Penulis-penulis tersebut mengusahakan pendekatan yang unik, yaitu menyajikan kehidupan Bung Karno melalui lensa kota asalnya, Surabaya. Soekarno, sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia, lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Kota ini bukan sekadar titik pada dokumen kelahiran, melainkan ruang awal yang ikut membentuk karakter, pengalaman sosial, dan imajinasi kebangsaannya. Dengan memasukkan detail sehari-hari, buku ini membawa pembaca untuk melihat sosok proklamator dari perspektif yang lebih dekat dan manusiawi.

Keterhubungan antara Bung Karno dengan Surabaya yang dijelaskan dalam buku ini menawarkan kesempatan bagi masyarakat untuk menggali kembali jejak sejarah yang sering dianggap kaku.

Sebelumnya, sosok Soekarno lebih sering muncul dalam bentuk yang luas, seperti pembaca teks proklamasi, penjelajah ide Pancasila, presiden, orator, dan pemimpin gerakan anti-kolonial. Semua peran tersebut memang benar, namun sering kali terasa jauh dari kehidupan anak-anak sekolah. Melalui pendekatan lokal, buku ini mengajak pembaca untuk merasakan bahwa gagasan besar bangsa bermula dari lingkungan yang nyata, seperti keluarga, sekolah, pergaulan sehari-hari, jalan kampung, dan dinamika sosial di sekitar kota.

Pameran Sebagai Bantuan Pemahaman Sejarah

Peluncuran buku ini sejalan dengan pameran *“Aku Arek Suroboyo”* yang digelar di ruang bawah Alun-Alun Surabaya pada Juni 2026. Pameran tersebut menampilkan berbagai foto, arsip, film, dan jejak kehidupan Soekarno di Kota Pahlawan. Rangkaian karya ini menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu harus dijelaskan dalam ruang kelas. Dengan menjadi pengalaman publik, sejarah bisa memicu rasa ingin tahu warga kota untuk menelusuri hubungan antara tempat lahir proklamator dengan identitas bangsa.

Keterlibatan Surabaya dalam menggali sejarah nasional ini bukanlah hal baru. Sejak lama, kota ini dianggap sebagai pusat pergerakan kemerdekaan. Namun, dengan adanya buku dan pameran ini, keterhubungan tersebut diperjelas melalui narasi yang lebih kongkret. Buku *“Bung Karno: Aku Arek Suroboyo”* hadir sebagai bahan pembelajaran untuk siswa SD dan SMP. Kebijakan ini patut diapresiasi sebagai peluang untuk mengembangkan sejarah menjadi mata pelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman anak-anak Surabaya.

Menurut Kukuh Yudha Karnanta, salah satu penulis buku ini, “Jika sejarah hanya dianggap sebagai bahan hafalan, maka semangatnya akan menguap sebelum sampai ke pembaca muda.” Pendekatan lokal yang digunakan buku ini membantu mengubah persepsi tentang sejarah nasional, agar tidak terasa abstrak atau terpisah dari kehidupan nyata. Dengan menekankan aspek keseharian, Bung Karno tidak hanya menjadi tokoh dalam halaman buku nasional, tetapi juga sebagai bagian dari kota tempat para pembaca tinggal.

Buku ini menghadirkan cerita tentang seorang anak bernama Koesno Sosrodihardjo, yang kelak menjadi Bung Karno. Dalam konteks Surabaya, kisah ini menggambarkan bagaimana lingkungan lokal berperan dalam membentuk pola pikir dan kepribadian sang proklamator. Dari sini, masyarakat dapat melihat bahwa kebangsaan bukanlah gagasan yang muncul secara mendadak, tetapi hasil dari proses sosial dan interaksi yang terjadi di tingkat daerah. Pemerintah Kota Surabaya menjadikan buku sebagai alat untuk mengakarkan sejarah nasional dalam konteks lokal, sehingga lebih mudah dicerna oleh generasi muda.

Dalam upaya memperkaya pembelajaran sejarah, Surabaya menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat lokal sangat penting. Selama ini, narasi sejarah sering kali berpusat pada tokoh-tokoh utama seperti Soekarno, dengan kurangnya penekanan pada peran kota atau masyarakat dalam proses pembentukan identitas bangsa. Buku ini berusaha mengatasi hal tersebut dengan memasukkan elemen-elemen yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak-anak Surabaya. Misalnya, bagaimana lingkungan keluarga dan lingkungan sosial di sekitar kota membentuk pola pikir dan nilai-nilai kebangsaan sang proklamator.

Sejarah nasional tetap memiliki wibawa, tetapi pendekatan lokal membantu memperjelas maknanya. Jika sejarah hanya dijelaskan dalam konteks nasional, maka anak-anak akan lebih sulit menghubungkannya dengan pengalaman pribadi. Dengan membaca kisah Bung Karno dari perspektif Surabaya, mereka dapat memahami bahwa kebangsaan adalah hasil dari perjuangan dan interaksi yang terjadi di ruang-ruang yang lebih dekat. Ini juga mengingatkan bahwa pengelolaan sejarah tidak hanya terbatas pada kelas, tetapi bisa menjadi bagian dari kehidupan komunitas lokal.

Sebagai kesimpulan, peluncuran buku *“Bung Karno: Aku Arek Suroboyo”* dan pameran yang disertai oleh Pemerintah Kota Surabaya menunjukkan komitmen dalam mengajarkan sejarah dengan cara yang lebih manusiawi dan kontekstual. Tantangan utamanya adalah bagaimana cara sejarah diajarkan, apakah hanya sebagai bahan hafalan atau sebagai sarana pemahaman yang mendalam. Dengan pendekatan ini, Surabaya tidak hanya menjadi tempat lahir Bung Karno, tetapi juga menjadi ruang yang terus menggali makna kebangsaan dalam konteks kota.