New Policy: Kimia Farma perkuat produksi bahan baku obat dalam negeri

1000164071

Kimia Farma perkuat produksi bahan baku obat dalam negeri

Upaya Membangun Kemandirian Industri Farmasi Nasional

New Policy – PT Kimia Farma (Persero) Tbk telah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan baku obat di dalam negeri. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mengurangi ketergantungan pada impor serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional. Dengan menghadapi tantangan global seperti gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya logistik, langkah ini diharapkan memberikan dampak positif pada stabilitas pasokan obat di Indonesia.

“Ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku obat masih sangat tinggi, lebih dari 95 persen,” kata Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis. Menurut Hadi, tingginya ketergantungan pada bahan baku impor berpotensi membuat ketahanan kesehatan Indonesia rentan terhadap perubahan dinamika ekonomi global.

Dalam upaya menangani risiko tersebut, Kimia Farma mengoptimalkan penggunaan fasilitas produksi yang dimiliki. Salah satu proyek utama perseroan adalah pembangunan pabrik di Cikarang melalui PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP). Fasilitas ini diharapkan menjadi bagian dari strategi memperkuat produksi lokal dan mengurangi kebutuhan impor. Hadi menekankan bahwa keberhasilan program ini akan memperkuat keberlanjutan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta menjamin ketersediaan obat secara lebih stabil.

Ketersediaan Bahan Baku Obat Lokal yang Menjanjikan

KFSP kini telah memproduksi 19 jenis bahan baku obat yang telah bersertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 bahan baku juga telah memenuhi standar halal yang diberikan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Hal ini menunjukkan komitmen Kimia Farma dalam menghasilkan produk yang memenuhi kriteria nasional dan internasional.

“Dengan inisiatif ini, Kimia Farma sedikit demi sedikit akan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor,” kata Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam.

Langkah-langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa bahan baku obat dalam negeri dapat diproduksi secara efisien dan berkualitas. Kimia Farma juga fokus pada pengembangan bahan baku lokal untuk kategori terapi prioritas, seperti obat untuk gangguan kardiovaskular, antibiotik, serta antiretroviral yang digunakan dalam penanganan HIV. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mendukung kebutuhan pasien dalam negeri tetapi juga memberikan kontribusi pada pertumbuhan industri farmasi nasional.

Penguatan Ketersediaan Produk Prioritas Nasional

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi, Kimia Farma mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal pada produk-produk prioritas nasional. Contohnya, produk TLE 300 mg dan 600 mg yang digunakan untuk penanggulangan HIV nasional memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 52,78 persen. Selain itu, Rosuvastatin, obat untuk terapi kardiovaskular, juga berhasil mencapai TKDN hingga 59 persen.

“Kami fokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Penguasaan lini hulu, peluncuran produk inovatif, serta capaian TKDN hingga 59 persen adalah fondasi utama Kimia Farma saat ini,” ungkap Djagad.

Kimia Farma juga merencanakan peluncuran empat produk baru pada tahun 2025, termasuk Fentakaf/Fentanyl Injeksi, Sildenafil, Pantokaf/Pantoprazole, dan Moxifloxacin. Proyek ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk terus mengembangkan inovasi dan memperluas portofolio produk. Pertumbuhan penjualan bahan baku obat domestik dan ekspor yang mencapai 124 persen pada 2025 menjadi bukti efektivitas strategi penguatan lini hulu yang dijalankan.

Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Kemandirian Farmasi

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan industri farmasi dalam negeri. “Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan industri, kita optimistis dapat mewujudkan industri farmasi Indonesia yang semakin mandiri, berdaya saing global, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Faisol menyoroti pentingnya penguatan kapasitas produksi lokal sebagai langkah untuk menekan impor dan meningkatkan ketersediaan obat. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan melalui penyempurnaan regulasi, insentif, serta memastikan penggunaan produk dalam negeri dalam program kesehatan nasional. Ini diharapkan mendorong peningkatan daya saing sektor farmasi Indonesia di pasar internasional.

“Kami fokus pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Penguasaan lini hulu, peluncuran produk inovatif, serta capaian TKDN hingga 59 persen adalah fondasi utama Kimia Farma saat ini,” ungkap Djagad.

Pabrik Banjaran sebagai Sentra Produksi Utama

Plant Banjaran, yang merupakan fasilitas produksi terbesar Kimia Farma, menjadi pusat utama dalam memenuhi kebutuhan obat nasional. Pabrik yang memiliki luas lahan 51.000 meter persegi ini mampu menghasilkan berbagai bentuk sediaan obat, seperti tablet, kapsul, cairan, dan serbuk oral. Dengan kapasitas produksi yang besar, Plant Banjaran berperan penting dalam memastikan pasokan obat yang stabil dan berkelanjutan.

Perseroan juga berupaya memperkuat penguasaan bahan baku obat yang local. Hal ini dilakukan dengan memastikan bahwa produk-produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas nasional dan internasional. Dengan struktur biaya yang lebih efisien, Kimia Farma mampu meningkatkan daya tahan terhadap perubahan ekonomi global dan memastikan keberlanjutan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Tantangan Global dan Solusi Lokal

Dinamika geopolitik global berdampak signifikan pada rantai pasok bahan baku obat. Hal ini memperkuat kebutuhan untuk membangun kemandirian industri farmasi di dalam negeri. Kimia Farma secara aktif menghadapi tantangan tersebut dengan mem