Meeting Results: Kemendikdasmen petakan kemahiran berbahasa Indonesia lebih inklusif

1000194451

Kemendikdasmen Perluas Pemetaan Kemahiran Berbahasa Indonesia untuk Lebih Inklusif

Meeting Results – Jakarta, Rabu – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedang melakukan perluasan pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia, dengan tujuan menyusun kebijakan kebahasaan yang lebih tepat sasaran dan inklusif. Langkah ini diungkapkan oleh Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, dalam wawancara terbarunya. Menurutnya, upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa layanan kebahasaan dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Salah satu inisiatif yang diperkenalkan adalah pengembangan UKBI Adaptif Disabilitas Rungu, yang dirancang agar lebih ramah terhadap kebutuhan peserta yang mengalami gangguan pendengaran.

UKBI Adaptif: Langkah Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia, yang sebelumnya berfokus pada kelompok umum, kini diubah agar lebih mencakup penyandang disabilitas. Hafidz menekankan bahwa UKBI Adaptif Disabilitas Rungu memberikan kesempatan setara bagi peserta dalam mengukur kemampuan berbahasa. “Kemendikdasmen berkomitmen menjembatani hak atas pendidikan dan kebahasaan yang inklusif, sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,” jelasnya. Undang-Undang ini menjamin hak berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi, yang menjadi dasar pengembangan program UKBI Adaptif.

“Kami akan terus menyiapkan berbagai bentuk adaptasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi,” kata Moch. Abduh, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan.

Menurut Hafidz, pengembangan layanan UKBI Adaptif Disabilitas Rungu telah dimulai sejak tahun 2024. Pada Oktober 2025, program ini diuji secara nasional, yang melibatkan 222 peserta dari berbagai daerah. Peserta tersebut terdiri dari penyandang disabilitas rungu yang berbeda latar belakang dan tingkat kemahiran. Materi ujian dikembangkan dengan mempertimbangkan pengalaman berbahasa peserta, yang lebih dominan bergantung pada informasi visual dan tulisan. Hal ini tidak mengurangi kualitas pengukuran, tetapi justru memastikan bahwa hasil pemetaan lebih relevan dan akurat.

UKBI Adaptif Disabilitas Rungu juga memperhatikan keberagaman metode komunikasi yang digunakan peserta. Dalam ujian, peserta diberi kesempatan untuk mengekspresikan kemahiran mereka melalui bentuk-bentuk yang lebih mudah diakses, seperti diagram, gambar, atau tulisan. Penggunaan metode ini diharapkan bisa memperkuat pemahaman dan penguasaan bahasa Indonesia, terutama bagi kelompok yang mengalami kesulitan mendengar. Hafidz menambahkan, kebijakan kebahasaan yang inklusif tidak hanya menjangkau peserta dalam kelompok disabilitas, tetapi juga menjadi fondasi untuk meningkatkan literasi dan pendidikan secara keseluruhan.

Pemetaan Kemahiran: Upaya Membangun Data yang Berkelanjutan

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Kemendikdasmen berupaya mengumpulkan data yang lebih representatif. Pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia yang dilakukan sejak 2024 menunjukkan pergeseran signifikan dalam mencakup kelompok masyarakat yang sebelumnya kurang diperhatikan. Hasil pemetaan tahun 2025, misalnya, mencatat Angka Kemahiran Berbahasa Indonesia secara nasional sebesar 64,23. Angka ini menunjukkan bahwa kemajuan dalam penguasaan bahasa masih bisa ditingkatkan, terutama melalui pendekatan yang lebih inklusif.

Proses pemetaan juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan, peneliti, dan penyandang disabilitas. Hafidz menjelaskan bahwa pengembangan UKBI Adaptif Disabilitas Rungu tidak hanya berhenti pada desain ujian, tetapi juga mencakup pelatihan pengguna dan penyesuaian infrastruktur. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua peserta dapat berpartisipasi secara efektif tanpa hambatan teknis. Selain itu, Kemendikdasmen juga menggali kebutuhan masyarakat dalam menyusun kebijakan yang lebih responsif.

Keterlibatan Masyarakat Luar Negeri dalam Program UKBI

Dalam pemetaan tahun 2025, jumlah peserta UKBI Adaptif mencapai 321.383 orang, yang tersebar di 38 provinsi dan 493 kabupaten/kota. Angka ini mencerminkan keberhasilan Kemendikdasmen dalam menjangkau masyarakat secara luas. Tidak hanya peserta lokal, program ini juga menarik perhatian warga negara asing dari 51 negara. Dari total peserta, sebanyak 243 di antaranya adalah warga negara asing. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa UKBI Adaptif Disabilitas Rungu bukan hanya menjadi alat untuk mengukur kemahiran berbahasa di dalam negeri, tetapi juga memiliki potensi dalam menyebarkan nilai-nilai inklusivitas ke tingkat internasional.

Program ini memperlihatkan komitmen Kemendikdasmen dalam mengintegrasikan pendidikan dan kebahasaan. Pemetaan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk mengumpulkan data, tetapi juga untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Abduh, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, menambahkan bahwa pengembangan layanan akan terus dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. “Dengan adanya adaptasi yang lebih baik, kita bisa memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan kebahasaan,” tuturnya.

Hasil UKBI Adaptif 2025 menjadi acuan penting dalam menyusun kebijakan pendidikan. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia yang semakin luas dan inklusif telah berhasil mengidentifikasi tingkat penguasaan bahasa di berbagai kelompok. Hal ini memungkinkan Kemendikdasmen untuk merancang strategi yang lebih tepat, seperti peningkatan literasi atau penyusunan kurikulum yang sesuai. Selain itu, hasil pemetaan bisa digunakan untuk memantau perkembangan kebahasaan secara berkala dan mengukur keberhasilan program inklusivitas.

Kemendikdasmen optimis bahwa program UKBI Adaptif Disabilitas Rungu akan menjadi salah satu inisiatif penting dalam meratakan akses pendidikan. Dengan menerapkan pendekatan yang lebih beragam, mereka berharap semua peserta, baik penyandang disabilitas maupun masyarakat umum, bisa mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa mereka. Pemetaan yang lebih inklusif dianggap sebagai langkah awal untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil dan berbasis data. “Kita perlu memastikan bahwa setiap peserta memiliki kemampuan untuk mengekspresikan diri secara efektif, terlepas dari kondisi fisik mereka,” pungkas Hafidz.