Main Agenda: Komdigi perkuat peran global melalui panggung UNESCO
Komdigi Perkuat Peran Global Melalui Panggung UNESCO
Main Agenda – Jakarta – Indonesia terus mengoptimalkan peran globalnya dengan memanfaatkan platform UNESCO dalam menjaga integritas informasi dan meningkatkan keselamatan jurnalis. Upaya ini terlihat dalam The 70th Meeting of the Bureau of the Intergovernmental Council of UNESCO’s International Programme for the Development of Communication (IPDC), yang diadakan di Kantor Pusat UNESCO, Paris, Prancis. Acara ini menjadi momentum penting untuk mendiskusikan isu-isu terkini terkait perubahan teknologi dan dampaknya terhadap dunia jurnalisme.
Perspektif Transformasi Digital
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi saat ini telah mengalami pergeseran besar dalam cara masyarakat menciptakan, mengakses, serta mempercayai informasi. “Perubahan ini memerlukan kerja sama internasional untuk memastikan digitalisasi berjalan sejalan dengan perlindungan kualitas informasi publik,” ujar Fifi dalam pernyataan resmi, Minggu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi tantangan yang dihadapkan oleh industri kecerdasan buatan (AI), yang semakin mengubah dinamika komunikasi global.
“Karena itu, diperlukan kolaborasi global untuk memastikan transformasi digital berjalan seiring dengan perlindungan terhadap kualitas informasi publik,” kata Fifi Aleyda Yahya dalam keterangan resminya, Minggu.
Di bawah naungan UNESCO, diskusi dalam pertemuan tersebut mencakup arah kebijakan pengembangan media global yang kini menghadapi disrupsi teknologi digital. Indonesia hadir sebagai Wakil Ketua Grup IV IPDC, yang menjadi ruang untuk menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang. Fifi menjelaskan bahwa posisi ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk berperan aktif dalam membentuk strategi global yang inklusif.
Strategi untuk Keberlanjutan Media
Acara yang dibuka oleh UNESCO Assistant Director-General for Communication and Information, Mariya Gabriel, serta dipimpin oleh Chair IPDC, Ambassador Kano Takehiro, menghasilkan kesepakatan strategis dalam beberapa bidang. Langkah-langkah ini fokus pada keberlanjutan media, integritas informasi, jurnalisme lingkungan, serta pemanfaatan AI sebagai alat transformasi. Sebanyak 48 proyek internasional telah disetujui untuk mendapatkan pendanaan dalam periode 2026–2027, dengan tema dampak AI terhadap jurnalisme menjadi prioritas utama dalam sidang mendatang.
“Sebagai Wakil Ketua Grup IV IPDC, Indonesia dapat mendorong langkah-langkah praktis melalui penguatan koordinasi antarnegara anggota, identifikasi kebutuhan prioritas sektor media, peningkatan kapasitas jurnalis, serta memastikan isu keselamatan jurnalis, literasi media, dan transformasi digital menjadi bagian penting agenda kerja IPDC ke depan,” ujarnya.
Pembahasan mengenai dampak AI terhadap jurnalisme menjadi relevan terutama bagi Indonesia yang tengah mengalami transformasi digital secara masif. Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Satrya Wibawa, menyoroti bahwa pemanfaatan teknologi ini sangat penting untuk memperkuat infrastruktur media nasional. “Penguatan pemanfaatan AI bagi infrastruktur media Indonesia menjadi isu yang sangat signifikan,” tambahnya.
Satrya Wibawa juga menyatakan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam IPDC memberikan momentum untuk memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. “Kehadiran Indonesia dalam forum ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih representatif, terutama dalam menyuarakan kebutuhan spesifik media dan jurnalis di wilayah berkembang,” ujarnya. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kebijakan yang lebih adil dan bermakna bagi masyarakat luas.
Keseimbangan Antara Inovasi dan Kepercayaan Publik
Transformasi digital, meski memberikan peluang baru, juga menimbulkan tantangan terkait disinformasi dan kesalahpahaman publik. Satrya menjelaskan bahwa masa depan media tidak hanya bergantung pada kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga pada upaya menjaga kepercayaan masyarakat di tengah arus informasi yang sangat cepat. “Dalam konteks ini, literasi media dan keselamatan jurnalis menjadi aspek kritis yang perlu diperkuat,” lanjutnya.
“Bagi Indonesia, pembahasan tersebut memiliki arti penting karena masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kepercayaan publik di tengah banjir informasi dan maraknya disinformasi,” ujarnya.
Melalui partisipasi aktif di UNESCO IPDC, Indonesia menegaskan komitmennya untuk bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan global. Hal ini sejalan dengan visi negara dalam mendorong penggunaan AI yang berkelanjutan, termasuk untuk meningkatkan kapasitas jurnalis dan memastikan informasi tetap akurat dan transparan. “Indonesia ingin menjadi bagian dari perubahan yang membawa dampak positif bagi seluruh masyarakat,” kata Satrya.
Diskusi dalam forum tersebut juga menyoroti pentingnya pendanaan untuk proyek-proyek yang menunjang transformasi digital. 48 proyek internasional yang disetujui mencakup berbagai bidang, seperti penguatan infrastruktur digital, pelatihan jurnalis, dan pengembangan kebijakan di tingkat global. Kehadiran Indonesia sebagai anggota aktif diharapkan dapat mempercepat implementasi inisiatif-inisiatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal.
Kecerdasan buatan, sebagai bagian dari perubahan teknologi, dianggap sebagai peluang besar bagi media untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas laporan. Namun, tantangan seperti bias algoritma dan penyebaran informasi palsu tetap menjadi perhatian utama. “Transformasi digital harus diiringi upaya untuk memastikan akses informasi yang adil dan terpercaya bagi semua kalangan,” kata Fifi Aleyda Yahya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antarnegara sangat penting untuk mengatasi isu-isu ini secara bersama.
Sebagai bagian dari upaya ini, Indonesia berkomitmen untuk menjadi pionir dalam mengintegrasikan teknologi dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik. Fifi menjelaskan bahwa partisipasi dalam IPDC tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih informatif dan kritis. “Kita harus memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya memberikan keuntungan, tetapi juga mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat,” pungkasnya.
Dengan penekanan pada penguatan keberlanjutan media, keselamatan jurnalis, dan literasi informasi, Indonesia menunjukkan peran aktifnya dalam menghadapi tantangan digitalisasi. Partisipasi di UNESCO IPDC menjadi langkah strategis untuk menciptakan ekosistem komunikasi yang lebih sehat, terutama di tengah laju perkembangan AI yang pesat. “Kita perlu memastikan teknologi tidak hanya mendukung kemajuan, tetapi juga menjaga nilai-nilai demokrasi dan kepercayaan masyarakat,” tegas Satrya Wibawa.
Kehadiran Indonesia di forum global ini tidak hanya memperkuat posisi negara sebagai pengambil kebijakan, tetapi juga menunjukkan keinginan untuk menjadi bagian dari solusi bersama. Dalam prosesnya, Indonesia berharap dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dari negara-negara lain, sekaligus menyebarkan prinsip-prinsip lokal yang relevan. “Pertemuan ini menjadi sarana untuk membangun jembatan antara isu internasional dan kebutuhan nasional,” pungkas Fifi Aleyda Yahya.
