New Policy: Amanah Aceh libatkan warga untuk pengembangan melon golden alisha

IMG-20260620-WA0011_1

Amanah Aceh Libatkan Warga dalam Pengembangan Melon Golden Alisha

New Policy – Banda Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (Amanah) terus menggandeng masyarakat dalam proses budidaya dan distribusi melon golden alisha sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Proyek ini, yang diinisiasi Badan Intelijen Negara (BIN) selama PON Aceh-Sumut 2024, berfokus pada pembinaan warga sebagai pelaku utama produksi dan pemasaran. Dengan melibatkan masyarakat, Amanah mencoba membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Kolaborasi untuk Menghasilkan Produk Lokal Berkualitas

Amanah, yang berlokasi di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Kabupaten Aceh Besar, menjadi wadah kolaborasi antara pihak swasta, pemerintah, dan masyarakat. Gedung ini sebelumnya diresmikan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo, dan kini berperan sebagai pusat kreativitas, inovasi, serta pengembangan kewirausahaan untuk generasi muda Aceh. Upaya ini bertujuan meningkatkan nilai tambah produk lokal, termasuk melon golden alisha, yang dianggap sebagai salah satu inovasi pertanian unggul.

Syaifullah Muhammad, Ketua Yayasan Amanah, menjelaskan bahwa kegiatan budidaya melon golden alisha masih dalam tahap awal. Saat ini, hanya dua dari enam rumah kaca (greenhouse) yang diisi dengan benih melon ini. Setiap tiga bulan, hasil panen dari dua greenhouse tersebut dipanen dan dikemas untuk pemasaran. “Dari enam greenhouse, saat ini hanya dua yang digunakan, masing-masing berkapasitas 200 dan 400 benih,” ujarnya. Dalam setiap panen, pendapatan yang dihasilkan mencapai sekitar Rp36 juta.

“Yang memelihara melon di Amanah saat ini adalah masyarakat yang kita berikan pembinaan. Mereka juga mendapatkan bagi hasil dari hasil panen, sehingga menjadi gerakan ekonomi yang melibatkan banyak pihak,” kata Syaifullah Muhammad.

Dalam praktiknya, hasil panen melon golden alisha tidak pernah tersisa. Semua produk langsung terjual meski pasar yang dituju masih terbatas, terutama bagi pengunjung KIA Ladong. Syaifullah menambahkan bahwa warga sekitar yang terlibat dalam budidaya melon ini juga memperoleh pelatihan teknis dan didorong untuk memperluas penanaman ke lokasi lain. “Kami berharap melon ini bisa menjadi andalan baru untuk masyarakat Aceh,” imbuhnya.

Edukasi untuk Membangun Kesadaran Masyarakat

Proyek Amanah tidak hanya fokus pada produksi melon, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan pertanian ke dalam programnya. Selama ini, melon golden alisha digunakan sebagai bahan edukasi bagi pelajar di Aceh. “Melon unggul ini juga menjadi sarana belajar bagi anak-anak sekolah tentang pertanian modern dan ekonomi kreatif,” kata Syaifullah. Kegiatan edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi pertanian lokal, termasuk keunggulan melon golden alisha.

Menurut Syaifullah, pendapatan dari penjualan melon golden alisha digunakan untuk membeli benih baru dan menutupi biaya produksi. “Saat ini, harga jual melon di pasar sekitar Rp30 ribu per kilogram. Dengan omzet yang stabil, warga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memperluas skala usaha,” terangnya. Selain itu, hasil panen juga disalurkan ke sejumlah tempat usaha lokal, seperti toko kelontong dan warung tradisional, sebagai langkah pemasaran awal.

Langkah Menuju Pasar yang Lebih Luas

Meski sukses, Syaifullah mengakui bahwa produksi melon golden alisha di Amanah masih terbatas. “Kami belum mampu memenuhi permintaan pasar yang lebih luas, seperti pasar modern dan supermarket,” ujarnya. Oleh karena itu, pihaknya merencanakan ekspansi ke enam greenhouse yang tersedia di KIA Ladong. Dengan peningkatan jumlah greenhouse, target produksi diperkirakan akan meningkat secara signifikan.

Pengembangan ini tidak hanya memperluas kuantitas produksi, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas melon. “Kami akan membuat standarisasi hasil panen agar bisa bersaing di pasar lebih luas,” jelas Syaifullah. Standarisasi ini mencakup proses panen, pengemasan, dan distribusi yang lebih terstruktur. Tujuannya adalah agar melon golden alisha tidak hanya menjadi produk lokal, tetapi juga bisa diakses oleh konsumen di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam jangka panjang, Amanah berharap melon golden alisha bisa menjadi salah satu andalan ekonomi kreatif Aceh. “Kami ingin melon ini menembus supermarket dan toko-toko besar,” ujarnya. Untuk mencapai hal ini, Yayasan Amanah menyiapkan program pelatihan lanjutan bagi masyarakat sekitar, termasuk peningkatan keterampilan dalam perawatan tanaman, pengelolaan sumber daya, dan pemasaran. Dengan melibatkan warga secara aktif, diharapkan akan tercipta ekosistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Syaifullah, keberhasilan proyek ini bergantung pada keterlibatan masyarakat secara konsisten. “Melon golden alisha adalah salah satu bentuk inovasi pertanian yang bisa menjadi inspirasi bagi warga lainnya,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam membangun industri pertanian modern. “Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan kesejahteraan warga,” tambahnya.

Di sisi lain, program Amanah juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap komoditas pertanian konvensional. Dengan melon golden alisha yang memiliki nilai jual lebih tinggi, warga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih stabil. Syaifullah menyebutkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan visi Aceh dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang berbasis pertanian. “Amanah menjadi contoh nyata bagaimana inovasi pertanian bisa menggerakkan perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Menjadi pusat pengembangan kewirausahaan, Amanah juga berupaya membangun kemitraan dengan pelaku usaha lokal. “Selain penjualan langsung, kami juga berencana bekerja sama dengan warung dan toko-toko untuk menyebarluaskan melon golden alisha,” jelas Syaifullah. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mendorong pengembangan jaringan distribusi yang lebih luas. “Pembinaan terus dilakukan agar warga bisa memanfaatkan potensi melon ini secara optimal,” tuturnya.

Pembangunan ekosistem pertanian modern seperti Amanah juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia. “Pertanian kreatif seperti ini perlu didukung lebih luas, terutama di daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian unggul,” kata Syaifullah. Ia menambahkan bahwa Amanah akan terus berupaya meningkatkan kualitas dan jumlah produksi melon golden alisha, sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar untuk turut serta dalam pembangunan ekonomi lokal.

Sebagai upaya penguatan ekonomi kreatif, Amanah juga melibatkan warga dalam pemasaran dan penerapan teknologi pertanian. “Kami memberikan pelatihan teknis, termasuk pengelolaan rumah kaca, agar warga bisa mandiri dalam budidaya melon,” ujarnya. Dengan pemberdayaan ini, Syaifullah yakin bahwa melon golden alisha bisa menjadi salah satu komoditas unggul Aceh yang mampu bersaing di pasar nasional.