Special Plan: Ketum KBPP Polri: Kritik boleh menghina jangan

IMG-20241213-WA0010

Ketua KBPP Polri Mengingatkan Pentingnya Kritik yang Konstruktif

Special Plan – Jakarta – Dalam sebuah pernyataan yang dilontarkan di Jakarta pada Senin, Ketua Umum Keluarga Besar Putra-Putri (KBPP) Polri, AH Bimo Suryono, menyoroti peran kritik dalam sistem demokrasi Indonesia. Ia menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan merupakan hak warga negara yang tidak boleh dipandang sebagai bentuk penghinaan. Namun, ia memperingatkan bahwa jika kritik diubah menjadi serangan pribadi atau penghinaan, itu bisa merusak nilai-nilai demokrasi dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Kritik Sebagai Pilar Demokrasi

Bimo Suryono mengatakan, dalam sebuah demokrasi yang sehat, kritik harus didasari oleh niat untuk memperbaiki situasi, bukan sekadar mempermalukan. “Kritik yang konstruktif bisa memperkuat kebijakan, tetapi jika terlalu tergesa-gesa atau tidak disertai dengan fakta, maka itu akan berdampak negatif,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa etika dalam berkomunikasi publik sangat penting untuk menjaga kualitas demokrasi dan persatuan bangsa.

“Ketika etika hilang dari ruang publik, yang runtuh bukan hanya wibawa pemimpin, melainkan juga kualitas demokrasi, persatuan bangsa, dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara,” ujarnya.

Kondisi Sosial dan Politik Terkini

Dalam konteks ini, Bimo Suryono memaparkan bahwa Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan di sektor politik, ekonomi, dan sosial. Ia menyebut bahwa kondisi tersebut semakin menuntut adanya dialog yang bijaksana dan menghargai perbedaan. “Kritik yang terarah dan berimbang justru bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah, selama tidak dilakukan secara tidak sopan,” imbuhnya.

Bimo juga mengkritik tindakan kelompok-kelompok yang menggunakan bahasa kasar untuk menyerang tokoh publik. Menurutnya, hal ini menunjukkan sikap tidak matang dalam berdemokrasi. “Banyak orang lupa bahwa kritik adalah bagian dari kemajuan, tetapi jika dilakukan dengan cara menghina, itu bisa mengaburkan tujuan sebenarnya,” jelasnya.

Pengaruh Aksi Mahasiswa

Satu aspek yang menarik perhatian Bimo adalah gelombang aksi mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir. Ia mengungkapkan bahwa mahasiswa kerap menjadi pelaku kritik yang keras terhadap kebijakan pemerintah, terutama dalam bidang ekonomi. “Mereka punya kekuatan untuk mengungkap kelemahan kebijakan, tetapi harus diimbangi dengan kehati-hatian agar tidak merugikan pihak yang bersangkutan,” katanya.

Dalam aksi-aksi tersebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu isu yang dipertanyakan. Bimo mengatakan, program ini dirasa kurang efektif dalam mencapai tujuan utamanya, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa kritik terhadap MBG tidak boleh berubah menjadi serangan yang tidak berdasar atau melecehkan institusi yang menerapkan kebijakan tersebut.

Harapan untuk Diskusi yang Lebih Produktif

Bimo Suryono menyoroti bahwa kebebasan berbicara harus diiringi dengan tanggung jawab. Ia menginginkan masyarakat Indonesia mampu membedakan antara kritik yang bermanfaat dan kata-kata yang hanya memicu perpecahan. “Dalam demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi jika dibiarkan menjadi bentuk penyelewengan, itu akan merusak proses kebijakan,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan seperti MBG memerlukan evaluasi yang terus-menerus, tetapi dengan cara yang santun dan penuh pertimbangan. “Kritik harus jelas, objektif, dan didasari oleh rasa hormat terhadap institusi serta peserta diskusi,” imbuh Bimo. Ia menambahkan bahwa selama ini, KBPP Polri berupaya memfasilitasi ruang dialog yang sehat antara masyarakat dan pemerintah, agar semua pihak saling menghargai.

Peran Media dan Pemimpin dalam Mempertahankan Etika

Bimo juga menyoroti peran media dan pemimpin dalam memelihara etika komunikasi. Ia mengatakan, media harus menjadi penyebar informasi yang akurat dan jernih, bukan alat untuk memperkuat sikap provokatif. “Pemimpin harus mampu menangani kritik dengan tenang, sebab itu adalah bagian dari tugasnya untuk terus berusaha memperbaiki diri,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Bimo mengingatkan bahwa penghinaan dalam ruang publik bisa merusak citra institusi negara. Ia mencontohkan bahwa program MBG, meskipun sempat dikritik, tetap menjadi langkah penting dalam upaya memperbaiki kualitas hidup masyarakat. “Kritik yang tajam tetapi tepat sasaran bisa menjadi penggerak perubahan, selama tidak melupakan nilai-nilai kesopanan,” katanya.

Bimo Suryono menegaskan bahwa demokrasi Indonesia memerlukan keseimbangan antara kebebasan berbicara dan kepatuhan pada etika. “Jika kita membiarkan penghinaan menjadi budaya baru, maka kepercayaan publik terhadap institusi akan terus menurun,” tukasnya. Ia menambahkan bahwa KBPP Polri siap mendukung upaya-upaya untuk memperkuat kualitas demokrasi melalui dialog yang produktif dan berimbang.

Analisis dan Langkah Masa Depan

Dalam wawancara terpisah, Bimo Suryono mengungkapkan bahwa masyarakat perlu lebih sadar tentang dampak dari kata-kata yang mereka luncurkan. Ia mencontohkan bagaimana penggunaan istilah provokatif bisa memicu polarisasi, terutama dalam isu-isu yang sensitif. “Jangan sampai kritik yang seharusnya mendorong perbaikan justru memperparah ketegangan sosial,” katanya.

Ia menyarankan bahwa seluruh pihak, baik pemimpin maupun warga negara, harus mampu memahami bahwa kritik yang baik adalah kritik yang mendorong kualitas demokrasi, bukan sekadar menghancurkan reputasi. “Ketika masyarakat mampu berbicara dengan bijak, maka institusi negara akan tetap dihormati,” ujarnya.

Kebijakan MBG, yang sempat menjadi bahan kritik, menurut Bimo Suryono adalah contoh bagaimana kritik harus dilakukan secara rasional. “Program ini tidak sempurna, tetapi kritiknya tidak boleh dilakukan dengan cara yang merusak integritasnya,” tegasnya. Ia berharap bahwa pemerintah dan masyarakat bisa bekerja sama untuk memperbaiki kebijakan, bukan hanya mempermalukan.

Sebagai kesimpulan, Bimo Suryono menekankan bahwa kritik adalah bentuk warga negara yang peduli, tetapi harus diutamakan kesopanan dan kejujuran dalam menyampaikan pendapat. “Kita harus bangga dengan hak kritik, tetapi jangan sampai lupa bahwa hak tersebut juga memiliki tanggung jawab,” katanya. Ia yakin dengan adanya kesadaran ini, demokrasi Indonesia akan tetap berkembang sehat dan tangguh.