Key Strategy: PTPN I siapkan skema pembelian kopi rakyat perkuat pasar global

0EBC1599-71A4-4D8A-92B7-B6765AEDF247

PTPN I Siapkan Skema Pembelian Kopi Rakyat untuk Memperkuat Pasar Global

Key Strategy – Jakarta – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I sedang mengembangkan model baru dalam membeli hasil panen kopi dari para petani lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemitraan dan daya saing produk kopi Indonesia di tingkat internasional. Rencana ini dijelaskan oleh Aris Handoyo, Sekretaris Perusahaan PTPN I, dalam diskusi bersama jurnalis di Jakarta, Senin malam. Menurutnya, skema pembelian ini bertujuan untuk memperkuat keterlibatan perusahaan dengan masyarakat penghasil kopi sekaligus memastikan kualitas dan konsistensi pasokan dalam industri.

“Kami berencana mengembangkan strategi pembelian kopi rakyat yang mirip dengan pola kemitraan dalam komoditas seperti sawit plasma, tebu rakyat, atau bahan olah karet (bokar). Dengan pendekatan ini, PTPN I dapat mengintegrasikan produksi petani ke dalam sistem pasokan dan distribusi perusahaan secara berkelanjutan,” kata Aris.

Perusahaan juga berkomitmen untuk memperluas program pembinaan terhadap para petani di sekitar area operasional perkebunan. Hal ini mencakup dukungan teknis dan sumber daya untuk meningkatkan kualitas hasil panen. “PTPN akan terus berupaya membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat penghasil kopi,” tambahnya.

Kopi dianggap sebagai salah satu komoditas strategis yang memiliki potensi pertumbuhan besar di pasar global, karena telah menjadi minuman favorit di banyak negara. Sebagai komoditas inti, pengembangan kopi tetap menjadi prioritas perusahaan meskipun tidak masuk dalam program hilirisasi yang sedang digencarkan pemerintah. PTPN I memiliki sejarah panjang dalam industri kopi, terutama di Jawa Timur melalui wilayah Ijen dan Banaran yang terkenal menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Dalam upaya meningkatkan daya saing, PTPN I fokus pada dua varietas utama, yaitu Arabika dan Robusta. Untuk Arabika, perusahaan mengembangkan jenis seperti Andung Sari 2 K, Gayo, dan Kamasti yang menawarkan produktivitas hingga 850 kilogram per hektare. Sementara itu, varietas Robusta yang digunakan mencakup klon BP 42, BP 409, BP 939, dan Tugusari 6 dengan hasil panen hingga 1.000 kilogram per hektare. Pemilihan varietas tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar premium global, baik dari segi rasa maupun konsistensi produksi.

Menurut Teddy Yunirman Danas, Direktur Utama PTPN I, integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi strategi utama untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri kopi internasional. “Transformasi ini merupakan komitmen jangka panjang perusahaan untuk menghadirkan kopi Indonesia yang kompetitif secara global. Kami fokus pada peningkatan produktivitas kebun, efisiensi pengolahan, serta pengembangan produk bernilai tambah,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (12/6).

Penguatan Rantai Pasok dan Fasilitas Pengolahan

Integrasi sistem pasokan kopi PTPN I didukung oleh keterlibatan langsung antara area perkebunan dan fasilitas pengolahan modern yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Banyuwangi, Jember, dan Banaran. Di Jawa Timur, PTPN I Regional 5 mengelola kebun-kebun robusta seperti Bangelan di Malang, Ngrangkah Pawon, Renteng, serta Silosanen. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan Java Coffee Estate (JCE) di lereng Gunung Ijen sebagai bagian dari pengembangan kopi premium.

Di Jawa Tengah, PTPN I Regional 3 beroperasi di Kebun Banaran serta area produksi lain seperti Sukamangli, Ngobo, Getas, dan Jolong. Melalui integrasi ini, perusahaan berharap meningkatkan efisiensi dalam pengolahan dan memastikan kualitas produk yang sesuai dengan standar pasar internasional. Produk kopi PTPN I kini tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik melalui merek seperti Banaran Coffee, tetapi juga telah mencapai beberapa negara tujuan ekspor, termasuk Jepang, Amerika Serikat, dan wilayah Uni Eropa.

Pemilihan varietas kopi Arabika dan Robusta dilakukan secara strategis untuk memenuhi permintaan konsumen global yang berbeda. Arabika dikenal memiliki rasa lebih kompleks dan aromatik, sedangkan Robusta memiliki karakteristik konsistensi tinggi dan ketahanan terhadap kondisi lingkungan yang kurang ideal. Dengan menawarkan kedua varietas tersebut, PTPN I memperluas peluang pasar dan mengakomodasi preferensi berbagai segmen konsumen.

Dalam penguatan ekosistem kopi nasional, PTPN I terus berupaya memperbaiki kondisi tanaman tua dengan program peremajaan serta memanfaatkan lahan yang belum optimal. Aris Handoyo menegaskan bahwa perusahaan akan menambah areal tanam sesuai dengan karakteristik wilayah, sekaligus memperkuat pengembangan kemitraan dengan masyarakat sekitar. “Komitmen kami adalah menciptakan rantai pasok yang stabil dan memastikan kualitas produk tetap terjaga sepanjang proses produksi,” tambahnya.

Keberhasilan skema pembelian kopi rakyat diharapkan dapat meningkatkan volume pasokan dan memperkuat kerja sama antara perusahaan dengan petani. Dengan menjangkau lebih banyak pelaku usaha kecil, PTPN I bertujuan untuk memperluas jaringan distribusi sambil menjaga standar kualitas. Selain itu, perusahaan juga berencana untuk mengembangkan teknologi dan metode pengolahan yang lebih inovatif agar produknya dapat bersaing di tingkat internasional.

PTPN I menargetkan perbaikan ekosistem kopi nasional agar komoditas tersebut mampu meningkatkan nilai tambah dan memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai produsen kopi berkualitas. Dengan pendekatan holistik, perusahaan memastikan bahwa kopi tidak hanya menjadi produk yang dikonsumsi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas ekonomi nasional yang bisa dikenal dunia. Aris Handoyo menekankan bahwa pengembangan kopi adalah prioritas utama, dan skema ini menjadi salah satu langkah penting dalam mewujudkan tujuan