Key Discussion: PTPN I perluas lahan tebu hingga Sulawesi demi swasembada gula
PTPN I Perluas Area Tanam Tebu hingga Sulawesi untuk Mendukung Target Swasembada Gula
Key Discussion – Jakarta – Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan, khususnya PTPN I, tengah berupaya memperluas lahan pengembangan tebu ke wilayah Sulawesi. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi nasional untuk mencapai swasembada gula, yang menjadi prioritas pemerintah melalui Kementerian Pertanian. Aris Handoyo, Sekretaris Perusahaan PTPN I, menjelaskan bahwa ekspansi lahan tebu menjadi salah satu cara memperkuat pasokan bahan baku bagi industri gula dalam negeri.
Strategi Ekstensifikasi dan Kolaborasi dengan SGN
Menurut Aris, perusahaan saat ini mengelola sekitar 60 ribu hektare lahan tebu yang dikembangkan bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), perusahaan anak yang menangani sebagian besar bisnis gula. “Kita melakukan berbagai strategi, salah satunya melalui ekstensifikasi lahan,” ujarnya dalam wawancara bersama media di Jakarta, Senin malam. Strategi ini menargetkan peningkatan luas area tanam di Jawa serta Sulawesi, sebagai bagian dari fondasi peningkatan produksi tebu nasional.
Kesulitan di Sumatra dan Fokus pada Jawa Timur
Pengembangan area tanam tebu di Pulau Jawa terutama difokuskan pada Jawa Timur, wilayah yang dianggap sebagai pusat utama produksi tebu nasional. Selain itu, sebagian kecil wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat juga menjadi target. Di sisi lain, ekspansi ke Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Bone dan Takalar, diharapkan mampu menjadi titik baru untuk memperluas produksi. Namun, Aris mengungkapkan bahwa di Sumatra, pengembangan tebu menghadapi tantangan karena persaingan dengan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa sawit.
“Di Sumatra mungkin agak kesulitan karena kalau di Sumatra kan tentu persaingan dengan komoditas sawit,” ujarnya.
Ekspansi lahan ini tidak hanya memperhatikan luas wilayah, tetapi juga ketersediaan sumber daya dan keberlanjutan produksi. Aris menyatakan bahwa proses penambahan area tanam masih terus berlangsung, dengan perubahan dan penyesuaian setiap hari. “Karena perkembangan penambahan ekstensifikasi itu kan bisa dikatakan harian atau mingguan. Setiap hari kita ada upaya untuk menambah luas areal,” lanjutnya.
Meningkatkan Produktivitas melalui Intensifikasi
Selain ekstensifikasi, PTPN I juga menerapkan strategi intensifikasi untuk meningkatkan hasil panen tebu. Langkah ini meliputi penggunaan varietas unggul dan metode budidaya yang lebih efektif. “Kita berusaha memperbaiki produktivitas dengan memastikan kualitas tanaman tetap optimal,” jelas Aris. Untuk mendukung hal ini, perusahaan juga bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia agar pupuk tersedia secara tepat waktu.
Pemupukan yang sesuai kebutuhan tanaman diharapkan meningkatkan kandungan nira tebu, sehingga rendemen gula menjadi lebih tinggi. Peningkatan rendemen ini sangat krusial, karena selain meningkatkan produksi nasional, juga berdampak positif pada keuntungan petani. “Dengan hasil yang lebih baik, minat masyarakat menanam tebu bisa semakin besar,” tambahnya.
Program Bongkar Ratoon dan Target Swasembada Gula
PTPN I juga melakukan program bongkar ratoon di sejumlah wilayah Jawa Timur. Tujuan dari bongkar ratoon adalah memperbaiki produktivitas kebun yang sudah mengalami penurunan hasil. Aris menegaskan bahwa ekspansi dan intensifikasi dilakukan secara bersamaan agar target swasembada gula bisa tercapai lebih cepat. “Dengan dua strategi ini, kita optimis bisa mencapai tujuan dalam waktu yang lebih singkat,” kata Aris.
Menurutnya, swasembada gula tidak hanya menyangkut pemasokan dalam negeri, tetapi juga memberi peluang Indonesia kembali menjadi eksportir gula global. Aris menambahkan bahwa ekspansi lahan ke Sulawesi Selatan dianggap sebagai langkah strategis untuk mengakomodasi permintaan konsumsi gula nasional, terutama di tengah tantangan yang dihadapi sektor pertanian.
Dukungan Pemerintah dan Persiapan untuk 2027
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya memastikan bahwa target swasembada gula konsumsi pada tahun 2027 tetap berjalan sesuai rencana. “Target kita adalah tahun depan (swasembada) white sugar, gula putih. Itu target kita. Mudah-mudahan tidak meleset lagi,” ujarnya usai menghadiri Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Jakarta, Senin (13/4).
Andi Amran menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga target ini dengan memperkuat perlindungan terhadap petani tebu. Langkah ini bertujuan meningkatkan produksi secara berkelanjutan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan gula konsumsi dalam negeri. “Kita memastikan keberlanjutan produksi, karena swasembada gula tidak hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas dan kestabilan pasokan,” tambahnya.
Kebutuhan swasembada gula menjadi fokus utama pemerintah dalam upaya meminimalkan ketergantungan pada impor. Dengan ekspansi ke Sulawesi dan pengembangan metode pertanian yang lebih modern, PTPN I berharap mampu memenuhi target tersebut. “Kita percaya bahwa perluasan lahan dan peningkatan produktivitas akan menjadi pondasi untuk mencapai swasembada gula,” kata Aris Handoyo.
Langkah-langkah yang diambil oleh PTPN I diharapkan bisa menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam sektor pertanian. Dengan kerja sama yang lebih kuat antar instansi, serta dukungan dari masyarakat, produksi gula nasional dianggap bisa meningkat signifikan. “Kami optimis dengan perencanaan yang matang, target swasembada bisa tercapai,” pungkas Aris.
Dalam jangka panjang, selain memenuhi kebutuhan konsumsi, swasembada gula juga diharapkan meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar internasional. PTPN I akan terus berupaya menyesuaikan strategi berdasarkan kondisi setiap wilayah, sehingga pengembangan tebu bisa berjalan optimal. “Dengan keberlanjutan program ini, kita bisa menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan,” tutup Aris.
