Latest Program: 168 SPPG di Lombok Tengah kantongi sertifikat laik higiene sanitasi

f6ae1b07-6a09-4095-ac3b-bf2c9122e437-0

168 SPPG di Lombok Tengah Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

Latest Program – Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil mencapai pencapaian penting dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah setempat melaporkan bahwa 168 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di 12 kecamatan telah memperoleh sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS). Berdasarkan pernyataan Lalu Setiawan, Sekretaris Satgas Program MBG di kabupaten tersebut, pengelolaan SPPG kini telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang ditetapkan.

Proses Pemenuhan Standar SLHS

Setiawan menjelaskan bahwa selama ini, beberapa SPPG sempat diberhentikan sementara karena tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Kondisi ini berubah setelah pengelola SPPG menyesuaikan protokol kerja, termasuk penggunaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). “Dua hal utama yang ditemukan oleh BGN menyebabkan sejumlah SPPG ditutup sementara, tetapi setelah persyaratan tersebut terpenuhi, mereka diperbolehkan beroperasi kembali,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Setiawan menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap melakukan pengawasan ketat terhadap SPPG untuk memastikan program ini berjalan sesuai rencana. “Pengawasan terhadap SPPG dilakukan secara intensif agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat secara optimal,” tambahnya. Dengan adanya sertifikat SLHS, setiap SPPG menjadi bukti formal bahwa unit tersebut memenuhi kriteria kebersihan dan keamanan lingkungan, terutama dalam pengolahan makanan.

Pemenuhan Syarat dan Dampak Lingkungan

Sertifikat SLHS tidak hanya mengacu pada kondisi fisik dapur, tetapi juga pada cara pengelolaan limbah cair. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas makanan di SPPG cukup signifikan dan bisa memengaruhi kualitas lingkungan sekitar. “Bau limbah yang dihasilkan dari dapur SPPG menjadi masalah, sehingga penggunaan IPAL diwajibkan untuk mengurangi dampak negatif tersebut,” kata Setiawan.

Kebutuhan pengolahan air limbah menjadi salah satu penekanan dari BGN dalam menilai kelayakan operasional SPPG. Dengan adanya IPAL, limbah dapat diolah sebelum dibuang ke lingkungan, sehingga mengurangi risiko pencemaran dan menjaga kenyamanan warga sekitar. Selain itu, IPAL juga menjadi alat untuk memastikan air yang digunakan dalam proses pelayanan gizi tetap aman dan bersih.

Program MBG dan Jumlah Penerima Manfaat

Menurut data yang disampaikan Setiawan, total penerimaan manfaat program MBG di Lombok Tengah mencapai 413.793 jiwa. Angka ini terdiri dari 326.946 orang siswa dan tenaga pendidik, serta 86.847 individu dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (B3). “Program ini memberikan dampak luas, terutama dalam peningkatan gizi bagi masyarakat yang kurang terlayani,” jelasnya.

SPPG yang berhasil memperoleh SLHS menjadi bagian dari jaringan pelayanan yang terstruktur, membantu distribusi makanan bergizi secara efisien. Setiawan menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari koordinasi yang intensif antara pemerintah daerah dan para pengelola SPPG. “Kerja sama antara pihak pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam memastikan SLHS bisa diperoleh,” tutur dia.

Status SPPG yang Masih dalam Tahap Persiapan

Di sisi lain, Setiawan menyebutkan bahwa dari total 178 SPPG yang telah dibangun, 10 unit masih dalam proses persiapan. “Beberapa dari SPPG tersebut belum bisa beroperasi penuh karena masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan proses persetujuan dan pemasangan IPAL,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan persiapan tersebut.

Dalam rangka peningkatan kualitas program, pemerintah kabupaten Lombok Tengah juga fokus pada pelatihan bagi pengelola SPPG. Materi pelatihan mencakup sanitasi dapur, penggunaan alat pengolahan air, serta penanganan limbah yang baik. “Dengan pelatihan ini, kita bisa memastikan setiap SPPG tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga berkomitmen untuk menjaga kesehatan masyarakat,” jelas Setiawan.

Misi dan Tujuan Program MBG di Lombok Tengah

Program MBG tidak hanya bertujuan memberikan makanan bergizi, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nutrisi dalam kehidupan sehari-hari. Setiawan menekankan bahwa SLHS menjadi salah satu indikator keberhasilan program ini, karena mencerminkan kualitas layanan yang diberikan. “Jika dapur tidak bersih, maka manfaat program bisa terganggu, baik secara langsung maupun tidak langsung,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, program MBG di Lombok Tengah juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan organisasi kesehatan. “Kolaborasi ini sangat berharga dalam memperluas cakupan manfaat program, terutama di daerah-daerah yang masih kurang akses ke layanan gizi,” ujar Setiawan. Selain itu, pemerintah daerah juga berencana memperluas jaringan SPPG ke daerah yang lebih terpencil.

Dengan 168 SPPG yang sudah memiliki sertifikat SLHS, Lombok Tengah kini memiliki sistem pelayanan gizi yang lebih terpadu. Kebutuhan akan makanan bergizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan keluarga miskin dapat terpenuhi secara lebih baik. “Kita harapkan program ini bisa terus berkembang dan menjadi bagian dari solusi kebutuhan masyarakat,” tutur Setiawan. Ia juga menambahkan bahwa langkah ini menjadi bagian dari kebijakan nasional dalam memerangi masalah gizi di daerah-daerah terpencil.

Peran SPPG dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

SPPG di Lombok Tengah tidak hanya berfungsi sebagai pusat distribusi makanan, tetapi juga sebagai pusat edukasi tentang nutrisi dan kesehatan. Setiap unit SPPG didesain untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang pola makan yang sehat dan pencegahan malnutrisi. “Kita melibatkan warga dalam proses pengelolaan makanan, sehingga mereka bisa memahami pentingnya gizi dalam kehidupan sehari-hari,” kata Setiawan.

Pada masa pandemi, program MBG terbukti menjadi penyeimbang kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Kebutuhan akan bahan makanan secara langsung ditingkatkan, karena SPPG juga menjadi tempat pemerataan distribusi makanan. “Program ini sangat vital untuk masyarakat yang kesulitan memperoleh makanan bergizi karena berbagai faktor ekonomi,” jelasnya.

Saat ini, pengelolaan SPPG juga diperkuat dengan penggunaan teknologi. Beberapa unit SPPG sudah menerapkan sistem digital untuk memantau kualitas makanan dan manfaat program secara real-time. “Kita ingin memastikan setiap penerima manfaat merasakan hasil dari program ini secara nyata,” kata Setiawan. Dengan adanya sertifikat SLHS, ia berharap kualitas pelayanan gizi bisa terus ditingkatkan, baik dalam aspek sanitasi maupun kesadaran warga.

Setiawan menutup wawancaranya dengan menegaskan bahwa pengawasan terhadap SPPG akan terus dilakukan, termasuk evaluasi berkala untuk memastikan standar SLHS tetap terjaga. “Kita ingin program MBG ini menjadi langkah konkrit dalam menangani masalah gizi di daerah-daerah terpencil, termasuk Lombok Tengah,” ujarnya. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, ia yakin program ini bisa berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas.