Rano Karno terinspirasi Kopenhagen kelola sampah secara terintegrasi

Rano Karno terinspirasi Kopenhagen kelola sampah secara terintegrasi

Rano Karno terinspirasi Kopenhagen kelola sampah – Jakarta – Sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengungkapkan pengalaman dari fasilitas pengolahan sampah Copen Hill di Kopenhagen, Denmark, memberikan inspirasi penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Dalam sebuah keterangan resmi yang diberikan di Jakarta pada Selasa, Rano menjelaskan bahwa teknologi di Copen Hill sangat canggih, tidak hanya mengubah sampah menjadi energi, tetapi juga memanfaatkan sisa pembakaran sebagai bahan baku campuran aspal. Ini menunjukkan bahwa lingkungan hidup bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang sekaligus fungsional.

“Teknologinya sangat maju. Tidak hanya mengolah sampah menjadi energi, sisa pembakarannya juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran aspal,” kata Rano dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Menurut Rano, fasilitas lingkungan di Kopenhagen menunjukkan bahwa bangunan modern tidak harus tertutup dari pengunjung. Justru, kawasan ini dirancang untuk masyarakat, termasuk area edukasi, kafe, dan arena ski rumput. Hal ini memperlihatkan bahwa pusat pengolahan sampah bisa menjadi ruang yang dinamis dan interaktif, bukan hanya tempat penampungan limbah.

Dalam mengelola sampah, Copen Hill menggabungkan inovasi teknologi dengan pendekatan partisipatif. Rano menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tergantung pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah sampah sejak sumbernya. “Pemilahan sampah di hulu adalah kunci. Teknologi bisa dibangun, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh partisipasi warga,” ujarnya.

Copen Hill, yang mulai beroperasi pada tahun 2017, menjadi contoh bagus bagaimana kota besar bisa mengatasi masalah sampah secara berkelanjutan. Fasilitas ini menerapkan sistem waste-to-energy yang memanfaatkan sampah yang sudah dipilah. Prosesnya dimulai dengan membakar sampah pada suhu tinggi hingga 1.000 derajat Celsius, sehingga menghasilkan uap panas yang digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik.

“Kami menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga dengan 10 kategori. Sampah makanan diproses di fasilitas berbeda, sedangkan sampah rumah tangga dipisahkan antara kaca, plastik, serta logam sebelum diolah menjadi energi,” ungkap Flemming G Nielsen dari Amager Resource Center, pengelola Copen Hill.

Dari proses pengolahan ini, Copen Hill mampu menghasilkan sekitar 283 gigawatt jam (GWh) listrik dan 1.383 GWh energi panas setiap tahun. Angka tersebut diperoleh dari pemrosesan sampah sebanyak 440.000 hingga 610.000 ton per tahun. Selain itu, limbah makanan yang diolah di fasilitas terpisah dikonversi menjadi biogas, yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Rano menegaskan bahwa inspirasi dari Kopenhagen tidak hanya berupa teknologi, tetapi juga pola manajemen yang melibatkan seluruh masyarakat. “Kawasan ini memberikan gambaran bahwa fasilitas lingkungan bisa menjadi ruang publik yang menyenangkan dan bermanfaat,” katanya. Fasilitas Copen Hill, yang dikelola oleh Amager Resource Center, memperlihatkan bagaimana kombinasi antara inovasi dan keterlibatan warga dapat mengubah cara kita melihat sampah.

Menurut Rano, Jakarta memiliki peluang besar untuk meniru model yang diterapkan di Kopenhagen. “Dengan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat, kita bisa mengurangi tantangan sampah kota secara signifikan,” imbuhnya. Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, yang menjadi langkah awal, dinilai sangat penting untuk mendorong pengolahan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Dalam prosesnya, Copen Hill menggabungkan teknologi mutakhir dengan kepedulian lingkungan. Misalnya, area edukasi yang disediakan memberikan wawasan tentang pentingnya memilah sampah, sementara kafe dan arena ski rumput menarik minat warga untuk mengunjungi dan memahami proses pengolahan. “Yang menarik, kawasan ini dirancang ramah bagi masyarakat, ada area edukasi, kafe, hingga arena ski rumput. Jadi, fasilitas lingkungan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang tertutup dan kumuh,” ujar Rano.

Menurut Flemming G Nielsen, manajemen Copen Hill menyadari bahwa kesuksesan pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada peralatan atau teknologi, tetapi juga pada disiplin masyarakat dalam mengelola sampah sejak awal. “Kami menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga dengan 10 kategori. Sampah makanan diproses di fasilitas berbeda, sedangkan sampah rumah tangga dipisahkan antara kaca, plastik, serta logam sebelum diolah menjadi energi,” tambahnya.

Pengalaman Kopenhagen menjadi bekal berharga bagi Jakarta dalam upaya mempercepat pengurangan sampah perkotaan. Rano mengatakan bahwa keberhasilan ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah dan warga. “Jika kita bisa menciptakan sistem yang sama, Jakarta memiliki potensi besar untuk mengurangi masalah sampah kota,” jelasnya. Proses pembakaran sampah di Copen Hill tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat penampungan.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, Rano menyoroti pentingnya inovasi yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sambil menjaga lingkungan. “Sampah tidak lagi menjadi masalah, tetapi bisa menjadi sumber energi yang berkelanjutan,” tegasnya. Fasilitas Copen Hill, sebagai contoh, tidak hanya menghasilkan listrik dan panas, tetapi juga menciptakan ruang interaktif yang mendorong partisipasi warga.

Rano menambahkan bahwa Copen Hill menjadi bukti bahwa kota besar bisa mengelola sampah secara terpadu. “Kopenhagen menunjukkan bahwa lingkungan hidup bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial,” ujarnya. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan sampah adalah kunci untuk mencapai keberlanjutan.

Dengan teknologi waste-to-energy yang mumpuni, Copen Hill berhasil mengubah sampah menjadi energi. Proses ini memungkinkan kota Kopenhagen memenuhi kebutuhan listrik dan pemanas sekitar 100.000 hingga 150.000 rumah tangga. Jumlah tersebut mencerminkan efisiensi dan skala sistem yang dijalankan. Rano berharap Jakarta bisa meniru model ini, terutama dalam memperkuat peran masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya.

Kebiasaan memilah sampah sejak di rumah tangga, seperti yang diterapkan di Copen Hill, menjadi langkah awal yang krusial. “Pemilahan sampah di hulu adalah kunci. Teknologi bisa dibangun, tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh partisipasi warga,” tutur Rano. Dengan keikutsertaan masyarakat, Jakarta bisa mengurangi beban lingkungan dan mempercepat pencapaian target pengurangan sampah secara berkelanjutan.