Latest Update: Di tengah arus disinformasi, ANTARA dorong mahasiswa lebih kritis

Di tengah arus disinformasi, ANTARA dorong mahasiswa lebih kritis

Latest Update – Dalam suasana di mana disinformasi digital semakin meluas, Perum LKBN ANTARA menekankan pentingnya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan literasi media bagi generasi muda, terutama mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar, selama sebuah seminar umum yang diadakan di Auditorium FISIP Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah, Jumat (8/5). Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah besar mahasiswa dari berbagai fakultas, yang turut mendengarkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi tantangan informasi palsu di era digital.

Peran mahasiswa dalam menyaring informasi

Kehadiran Benny Siga Butarbutar menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi sasaran utama dari disinformasi, tetapi juga pelaku penting dalam memerangi fenomena ini. Ia menyoroti bahwa media sosial menjadi alat efektif untuk menyebarkan berita palsu, yang sering kali mengandalkan kecepatan dan daya tarik visual untuk mengalihkan perhatian publik dari fakta. “Mahasiswa harus menjadi pemandu yang cerdas dalam menyaring informasi, karena mereka adalah generasi yang paling mudah terpengaruh oleh konten yang tidak otentik,” ujar Benny dalam pidatonya.

“Kemampuan berpikir kritis adalah kunci untuk mengenali informasi yang tidak benar dan menghindari penyebaran disinformasi secara tidak sadar,” kata Benny.

Menurut Benny, era digital memberikan peluang besar bagi pertumbuhan informasi, tetapi juga membawa risiko berupa kebingungan akibat berita yang tidak terverifikasi. Ia menekankan bahwa literasi media yang baik dapat membantu mahasiswa membedakan antara fakta dan opini, serta mengurangi dampak negatif dari misinformasi yang menyebar cepat melalui platform daring. “Kita perlu melatih mahasiswa untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengevaluasi sumber dan konteksnya sebelum membagikannya,” tambahnya.

Strategi ANTARA dalam meningkatkan kesadaran

Sebagai lembaga penyiaran nasional, Perum LKBN ANTARA terus berupaya mengembangkan program edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, termasuk generasi muda, tentang pentingnya memeriksa kebenaran informasi. Benny mengungkapkan bahwa lembaga tersebut telah merancang beberapa inisiatif, seperti pelatihan teknis dan diskusi rutin, untuk melatih mahasiswa dalam mengidentifikasi berita yang tidak akurat. “Kita harus mengajak mereka berpikir lebih mendalam dan bertindak lebih bijaksana,” jelas Benny.

Dalam konteks ini, Benny menyoroti bahwa mahasiswa tidak hanya perlu memahami cara membedakan berita asli dari berita palsu, tetapi juga harus menguasai teknik pengeditan dan penyebaran informasi. “Beberapa kasus disinformasi muncul karena pemuda tidak memahami mekanisme yang digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk memanipulasi opini publik,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa kemampuan analitis dan kritis adalah keahlian yang harus dikembangkan sejak dini, agar mereka tidak terjebak dalam kebohongan yang terus-menerus menghiasi ruang daring.

Langkah-langkah konkret untuk menghadapi disinformasi

Menurut Benny, strategi utama untuk mengatasi disinformasi adalah dengan memperkuat sistem pendidikan media. Ia menyarankan bahwa universitas dan institusi pendidikan lainnya harus berperan aktif dalam menyediakan materi pelatihan yang praktis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa. “Program seperti ini bisa menjadi pondasi untuk membangun masyarakat yang lebih informasi dan lebih terbuka terhadap berbagai perspektif,” ujarnya.

Dalam seminar tersebut, Benny juga mengingatkan bahwa kebiasaan membaca dan mengecek sumber informasi harus menjadi kegiatan rutin bagi mahasiswa. “Sering kali, berita palsu menyebar karena manusia terbiasa mengandalkan informasi yang dilihat di media sosial tanpa melakukan verifikasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa harus belajar membedakan antara berita yang valid dengan berita yang memiliki tujuan memanipulasi. “Contoh sederhana seperti memeriksa tanggal postingan, sumber asli, dan kredibilitas penulis bisa menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan kritis,” terang Benny.

Benny juga menyebutkan bahwa disinformasi tidak hanya berdampak pada opini publik, tetapi juga bisa mengubah kepercayaan masyarakat terhadap institusi dan kebenaran. “Kita harus memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya terlatih dalam mengenali disinformasi, tetapi juga mampu menjadi penyebar informasi yang lebih akurat,” katanya. Ia berharap bahwa acara seperti ini bisa menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antara lembaga penyiaran dan kalangan akademik, serta meningkatkan kolaborasi dalam menyediakan edukasi media yang berkualitas.

Seminar tersebut dihadiri oleh lebih dari 500 mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Jawa Tengah. Para peserta mengungkapkan antusiasme besar dalam mengikuti diskusi tentang peran media dalam era digital. Seorang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Deni Putra, mengatakan bahwa materi yang disampaikan Benny sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. “Saya baru menyadari betapa mudahnya informasi bisa disalahartikan atau dimanipulasi,” kata Deni.

Benny Siga Butarbutar, yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang memperhatikan kualitas informasi, juga menegaskan bahwa ANTARA terus berkomitmen untuk menjadi mitra edukasi bagi generasi muda. “Kita perlu menggalang kerja sama dengan berbagai pihak agar masyarakat bisa lebih terdidik dalam memilih sumber informasi yang tepat,” tambahnya. Ia berharap bahwa dengan meningkatkan literasi media, mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi problem disinformasi yang kian hari kian kompleks.

Kuliah umum ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang penuh antusiasme. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan tentang cara mengecek kebenaran informasi, serta peran media dalam menyebarkan pemahaman yang lebih luas. Benny menjawab dengan tegas bahwa ANTARA terus meningkatkan keakuratan berita dan kejujuran dalam penyampaian informasi, sekaligus memastikan bahwa semua konten yang disiarkan dapat diandalkan.

Dengan langkah-langkah seperti ini, Benny menilai bahwa mahasiswa memiliki peran sentral dalam membentuk masyarakat yang lebih informatif dan terbuka. “Generasi muda adalah aset penting bangsa, dan kita harus memastikan mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu menilai dan menyampaikannya secara tepat,” ujarnya. Acara ini menjadi langkah awal dalam upaya jangka panjang untuk membentuk pemuda yang mampu berpikir kritis dan memilih sumber informasi yang benar-benar dapat dipercaya.

Sebagai salah satu lembaga penyiaran yang telah ada sejak tahun 1965, Perum LKBN ANTARA terus berinovasi dalam menyampaikan berita yang relevan dan bermakna. Dengan menggalang kolaborasi dengan institusi pendidikan, lembaga tersebut ingin memastikan bahwa kebenaran dan akurasi informasi tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah arus disinformasi yang kian cepat dan luas.