Special Plan: Pemprov Jatim targetkan produksi padi naik hingga 5 persen pada 2026

Pemprov Jawa Timur Berambisi Meningkatkan Hasil Panen Beras Hingga 5 Persen pada Tahun 2026

Special Plan – Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menetapkan target peningkatan produksi beras sebesar 5 persen di tahun 2026. Tujuan ini ditegaskan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin acara Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat lalu. Upaya tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan volume hasil pertanian, tetapi juga untuk memperkuat posisi Jawa Timur sebagai sentra pangan yang berkelanjutan.

Komitmen Meningkatkan Produksi Beras

Khofifah menegaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian di Jatim harus diiringi dengan inovasi dan pengelolaan sumber daya yang lebih efektif. “Kami ingin Jawa Timur tidak hanya menjadi penyuplai beras yang andal, tetapi juga mendukung keberlanjutan pangan nasional melalui strategi yang lebih terpadu,” jelasnya. Dalam konteks ini, provinsi yang dikenal sebagai lumbung pangan Indonesia berencana mengembangkan metode pertanian modern untuk menghadapi tantangan iklim dan global.

Data Produksi Tahun 2025 dan Prediksi 2026

Berdasarkan data Angka Tetap Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2025, luas lahan pertanian yang digunakan untuk menanam padi mencapai 1,84 juta hektare, dengan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 10,44 juta ton. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 12,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 9,77 juta ton. Menariknya, prediksi BPS pada bulan Mei 2026 memperkirakan hasil panen Januari-Juni 2026 akan meningkat 5,28 persen dibanding periode yang sama di tahun 2025.

Meningkatnya produksi beras di Jatim dinilai sebagai indikator penting dalam memperkuat kapasitas pangan daerah. “Dengan peningkatan ini, kami percaya pertanian Jawa Timur tetap mampu bertahan di tengah perubahan iklim dan tekanan pasar global,” tambah Khofifah. Dia juga menyoroti bahwa tingkat produktivitas pertanian di provinsi ini terus mengalami pertumbuhan, yang menjadi fondasi untuk mencapai target berkelanjutan pada 2026.

Kebutuhan Modernisasi Alsintan

Untuk mendukung target tersebut, Khofifah menekankan pentingnya modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) di berbagai daerah. “Modernisasi alsintan merupakan bagian integral dari upaya kita membangun ketahanan pangan yang lebih kuat,” kata gubernur. Beberapa perangkat kunci yang direncanakan termasuk penggunaan transplanter, rotavator, drone sprayer, dan combine harvester. Peralatan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi tanam, panen, serta pengolahan lahan secara massal.

Langkah Strategis Jawa Timur

Pemprov Jawa Timur telah mengambil sejumlah langkah strategis guna memastikan keberlanjutan produksi pangan. Pertama, percepatan penanaman di area yang telah selesai dipanen dengan benih unggul yang tahan terhadap kekeringan. Kedua, optimalisasi penggunaan alsintan untuk mempercepat proses pertanian secara keseluruhan. Ketiga, penyusunan pola tanam adaptif yang mengintegrasikan teknologi dan mitigasi dampak perubahan iklim. Keempat, penguatan infrastruktur irigasi melalui pompanisasi, rehabilitasi jaringan, pembangunan perpompaan, serta pemanfaatan sumber air secara lebih maksimal.

Langkah-langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kuantitas produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil pertanian. “Dengan cara ini, Jawa Timur dapat menjadi contoh dalam mengelola pertanian secara berkelanjutan, sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem,” tambah Khofifah. Ia juga menyebutkan bahwa sistem pelaporan cepat bencana alam dan serangan hama akan diperkuat untuk memastikan respons yang tepat dan cepat.

Dukungan dari Kementan RI

Menurut Plh. Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Tin Latifah, Pemprov Jatim telah berkontribusi signifikan terhadap target nasional. “Sampai Mei 2026, Jawa Timur sudah menanam 238.000 hektare dari total 1,7 juta hektare yang ditetapkan untuk seluruh Indonesia,” ungkap Tin Latifah. Menurut data BPS, peningkatan produksi padi di Jatim pada Semester I 2026 diperkirakan mencapai 5 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan catatan keberhasilan mitigasi hama (OPT) dan kekeringan.

“Kami yakin produksi padi yang diprediksi naik 5 persen itu dapat tercapai, terutama melalui sinergi antara pemerintah daerah dan pusat,” tutur Tin Latifah. Ia menambahkan bahwa Kementan RI telah menetapkan luasan tanam yang diperlukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional dalam satu tahun, yang mencakup 16 juta hektare. Jawa Timur menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek ini.

Di sisi lain, acara Gerakan Panen dan Percepatan Tanam juga menampilkan kehadiran Bupati Madiun Hari Wuryanto, Wakil Bupati Purnomo Hadi, serta sejumlah pejabat dari Pemprov Jatim dan Pemkab Madiun. Dalam acara tersebut, bantuan alsintan secara simbolis diserahkan kepada Kelompok Tani Sumber Rukun sebagai perwakilan petani Kecamatan Balerejo. Bantuan yang diberikan mencakup tiga unit hand traktor singkal, empat unit cultivator, enam unit combine harvester besar, dan satu unit rotavator.

Kehadiran para pemangku kebijakan di acara tersebut menggarisbawahi komitmen bersama dalam mencapai visi Jawa Timur sebagai lumbung pangan yang berkelanjutan. Dengan dukungan modernisasi pertanian dan pengelolaan sumber daya secara terpadu, Kementan dan Pemprov Jatim berharap bisa memastikan stabilitas pasokan beras dan mengurangi ketergantungan pada impor. Peningkatan produksi yang diharapkan tidak hanya berdampak pada ekonomi lokal, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pertanian di Indonesia.

Dalam konteks jangka panjang, langkah-langkah ini juga bertujuan untuk mengurangi risiko gagal panen dan meningkatkan daya tahan pertanian terhadap fluktuasi iklim. “Dengan teknologi dan pola tanam adaptif, Jawa Timur bisa menjadi model bagi daerah lain dalam mencapai pertanian yang lebih resilien dan berkelanjutan,” pungkas Khofifah. Acara tersebut menunjukkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah dan pusat dalam menjamin ketersediaan pangan nasional, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai sentra produksi beras yang andal di masa depan.