Kemenko PMK-ISI Yogyakarta tanam pohon peringati 20 tahun gempa

Kemenko PMK-ISI Yogyakarta Tanam Pohon Peringati 20 Tahun Gempa

Kegiatan Penanaman Pohon di Kampus ISI Yogyakarta

Kemenko PMK ISI Yogyakarta tanam pohon – Yogyakarta menjadi tempat pelaksanaan kegiatan penanaman pohon yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Acara ini berlangsung di Kampus ISI, Jumat, sebagai bagian dari rangkaian perayaan memperingati peristiwa gempa 20 tahun yang terjadi pada 27 Mei 2006. Upacara simbolis tersebut menekankan pentingnya memori kolektif masyarakat dan akademisi dalam mengenang dampak bencana yang dirasakan di wilayah tersebut.

Gempa besar yang mengguncang Yogyakarta pada 2006 menjadi momen bersejarah yang mengubah kota ini secara mendalam. Kampus ISI Yogyakarta, khususnya, tercatat sebagai area yang terkena dampak serius, dengan banyak bangunan rusak dan perubahan pada lingkungan sekitarnya. Kegiatan penanaman pohon kali ini diharapkan tidak hanya sebagai upaya rekonstruksi, tetapi juga sebagai bentuk peringatan terhadap kekuatan alam dan upaya pemulihan yang terus berlangsung. Dengan menanam bibit srikaya dan almon, Kemenko PMK dan ISI Yogyakarta mencoba menyatukan kepedulian lingkungan dengan peringatan historis.

Upaya Memperkuat Ketahanan Ekosistem

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana dari Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menjelaskan bahwa tindakan ini bertujuan menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap ancaman bencana di wilayah Yogyakarta. “Penanaman pohon secara simbolis diharapkan menjadi wujud penghormatan terhadap Kampus ISI yang menjadi salah satu wilayah terparah saat Gempa Jogja 2006,” ujarnya. Menurut Andre, kegiatan ini juga bertujuan mengingatkan pentingnya persiapan menghadapi risiko alam, yang tetap menjadi isu utama di sini.

“Pohon bukan hanya simbol ketangguhan ekosistem, tetapi juga representasi kekuatan komunitas dalam mengatasi krisis,” kata Andre. Dalam konteks ini, tumbuhnya pohon srikaya dan almon di Kampus ISI dianggap sebagai bentuk keberlanjutan dari upaya membangun ketahanan bencana. “Kedua jenis pohon ini memiliki nilai ekologis yang tinggi, seperti membantu menyerap karbon dan menjaga keseimbangan air tanah,” tambahnya.

Menurut Andre, budidaya pohon yang ditanam di kampus ini bukan hanya proyek perkebunan, tetapi juga cara membangun hubungan antara lingkungan hidup dan kehidupan masyarakat. “Bibit yang dihasilkan oleh civitas akademika ISI Yogyakarta memiliki potensi ekonomis, seperti menjadi sumber penghasilan bagi warga sekitar,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa penanaman pohon menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan, karena pohon berperan dalam memperkuat lapisan tanah, mengurangi erosi, serta memperbaiki kualitas air.

Kolaborasi dan Dukungan Institusi

Kegiatan penanaman pohon ini tidak hanya melibatkan Kemenko PMK dan ISI Yogyakarta, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY turut berpartisipasi dalam memastikan kegiatan ini berjalan efektif. Sementara itu, PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, yang dikenal sebagai InJourney Destination Management (IDM), memberikan kontribusi dalam pengelolaan lingkungan dan pengembangan ekosistem. “EDRR (Emergency Disaster Risk Reduction) juga menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat memahami cara merespons bencana secara lebih cepat,” tambah Andre.

Kolaborasi ini menggambarkan keseriusan dalam menghadapi ancaman alam di daerah Yogyakarta. Dengan melibatkan berbagai pihak, kegiatan penanaman pohon dianggap sebagai langkah konkret untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya tindakan pencegahan dan mitigasi. “Ini adalah upaya untuk mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan dan lingkungan dalam pemulihan pasca-bencana,” ujarnya. Pohon yang ditanam diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari alam, tetapi juga sebagai pengingat akan perjuangan masyarakat dalam menghadapi musibah.

Membangun Pemahaman Bersama

Dalam peringatan 20 tahun Gempa Jogja, Andre menekankan bahwa pesan utama dari kegiatan ini adalah memperkuat kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana. “Pengurangan risiko bencana adalah kunci dalam membangun ketangguhan ekosistem dan masyarakat,” tuturnya. Ia menyoroti bahwa penanaman pohon menjadi salah satu metode penting untuk menciptakan ruang hijau yang bisa berfungsi sebagai pelindung terhadap dampak bencana di masa depan.

“Ketahanan ekosistem alam sekaligus kekuatan mental masyarakat adalah dua aspek yang saling terkait,” kata Andre. Ia menyebutkan bahwa pohon yang ditanam di Kampus ISI tidak hanya menjadi simbol peringatan, tetapi juga sebagai media edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan. “Melalui kegiatan ini, kita mencoba mengajarkan bahwa kehidupan yang berkelanjutan membutuhkan kesadaran kolektif dan kerja sama yang baik,” lanjutnya.

Andre juga mengatakan bahwa penanaman pohon ini menjadi bagian dari inisiatif jangka panjang dalam membangun sistem ketahanan bencana. “Kampus ISI Yogyakarta menjadi contoh bagaimana lingkungan dan kebudayaan bisa diintegrasikan dalam kebijakan pembangunan,” ujarnya. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti bibit srikaya dan almon, kegiatan ini diharapkan bisa menginspirasi komunitas lain untuk mengambil langkah serupa.

Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta juga memberikan momentum bagi semua pihak untuk merefleksikan perjalanan pemulihan yang telah terjadi. Dengan menanam pohon, Kemenko PMK dan ISI Yogyakarta mencoba menyatukan upaya membangun lingkungan yang lebih baik dan ketahanan masyarakat terhadap bencana. “Ini adalah langkah kecil, tetapi berdampak besar dalam mengingatkan bahwa setiap tindakan bisa berkontribusi pada masa depan yang lebih aman,” pungkas Andre.

Perspektif Lingkungan dan Masa Depan

Kegiatan ini menunjukkan peran penting pendidikan seni dalam mengembangkan perspektif lingkungan. ISI Yogyakarta, sebagai institusi seni, dianggap mampu menyatukan kreativitas dan kepedulian terhadap alam. “Mengajarkan nilai ekologis melalui seni adalah cara yang efektif dan menyenangkan,” kata Andre. Ia menambahkan bahwa tumbuhnya pohon di kampus tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga mengingatkan akan pentingnya tindakan nyata untuk memperkuat ketahanan di wilayah Yogyakarta.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, seperti hasil budidaya pohon oleh civitas akademika ISI, kegiatan ini dianggap sebagai model keberlanjutan yang bisa diaplikasikan di berbagai tempat. “Tidak hanya mengingatkan akan peristiwa lalu, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat dalam membangun ekosistem yang lebih sehat,” pungkasnya. Andre menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar membangun nostalgia, tetapi juga membuka jalan untuk memperkuat kesadaran akan risiko bencana