Special Plan: Askrindo raup premi Rp1,16 triliun per triwulan I, tumbuh 10 persen

Askrindo Raup Premi Rp1,16 Triliun di Triwulan I, Pertumbuhan Capai 10 Persen

Special Plan – Semarang, Jawa Tengah (ANTARA) – Perusahaan asuransi kredit PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) mencatatkan premi sebesar Rp1,16 triliun pada periode 31 Maret 2026. Angka tersebut mengalami pertumbuhan sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Direktur Kepatuhan, SDM, dan Manajemen Risiko Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso, menjelaskan bahwa pertumbuhan yang dicapai menunjukkan kecepatan yang signifikan, tetapi juga menekankan kualitas hasilnya. “Kami memastikan bahwa pertumbuhan premi yang dicatatkan tidak hanya menunjukkan kecepatan, tetapi juga kualitas yang baik,” kata Mahelan dalam taklimat media yang diadakan di Semarang, Jawa Tengah, pada Kamis malam.

Segmentasi Premi dan Kontribusi Bisnis Umum

Penyumbang utama pertumbuhan premi Askrindo pada triwulan I 2026 berasal dari sektor asuransi umum yang mencatatkan peningkatan hingga 44 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan perluasan pasar yang signifikan, terutama dalam layanan yang lebih luas. Mahelan menambahkan bahwa perusahaan berupaya meningkatkan daya saing melalui inovasi dan penguatan basis pelanggan. Selain itu, Askrindo juga mencatatkan peningkatan laba yang mencapai 77 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski belum merinci nominal laba yang tercatat dalam laporan keuangan unaudited.

“Kinerja 2025 bukan sekadar pertumbuhan angka, tetapi hasil dari fondasi yang kami bangun secara konsisten, khususnya dalam penguatan tata kelola, manajemen risiko, dan kualitas underwriting. Ini menjadi kunci keberlanjutan bisnis kami ke depan,” ujar Mahelan dalam wawancara dengan media.

Analisis kinerja Askrindo menunjukkan bahwa premi bruto yang tercatat mencapai Rp4,44 triliun selama periode tersebut. Hasil underwriting netto perusahaan juga mencapai Rp1,28 triliun, yang menunjukkan efisiensi dalam manajemen risiko dan proses pengumpulan premi. Dalam perspektif konsolidasi, ekuitas Askrindo meningkat menjadi sekitar Rp9,4 triliun, sementara total aset mencapai sekitar Rp32,9 triliun. Angka-angka ini menegaskan kekuatan finansial dan stabilitas perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

Strategi Diversifikasi dan Perluasan Pasar

Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan, Askrindo menerapkan strategi diversifikasi portofolio yang terdiri dari tiga pilar utama. Pertama, penguatan bisnis penugasan pemerintah dianggap sebagai fondasi utama. Perusahaan ini terus memperkuat kerja sama dengan lembaga negara dan kementerian terkait untuk memastikan ketersediaan produk asuransi yang sesuai kebutuhan sektor publik. Kedua, pengembangan segmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi dilakukan melalui layanan yang lebih spesialisasi. Mahelan menjelaskan bahwa fokus ini mencakup peningkatan kualitas layanan untuk memenuhi standar operasional yang lebih ketat. Ketiga, ekspansi bisnis ritel menjadi bagian penting dari rencana perluasan jangkauan layanan. Dalam upayanya, Askrindo menyasar berbagai segmen pasar, termasuk produk asuransi mikro, parametrik, travel insurance, dan asuransi kendaraan bermotor.

Langkah-langkah tersebut bertujuan untuk memperluas basis konsumen sekaligus meningkatkan penetrasi pasar di berbagai sektor. Mahelan menegaskan bahwa strategi ini tidak hanya memperkuat keberlanjutan bisnis, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan baru. “Fokus kami adalah menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan disiplin risiko,” tambahnya. Dengan pendekatan ini, Askrindo berharap dapat memperkuat posisi dominannya dalam industri asuransi kredit nasional.

Analisis Kinerja dan Proyeksi Masa Depan

Pertumbuhan premi yang signifikan di triwulan pertama 2026 dianggap sebagai lanjutan dari tren positif yang terjadi sepanjang tahun 2025. Mahelan menilai tahun 2025 menjadi periode kunci untuk membangun fondasi yang kuat, terutama dalam pengelolaan risiko dan pemeriksaan tata kelola. Hasil dari upaya ini, menurutnya, memberikan dampak langsung pada performa perusahaan di tahun 2026. “Kami melihat bahwa peningkatan premi dan laba menunjukkan momentum yang baik, tetapi kami tetap berhati-hati dalam mengevaluasi hasil underwriting,” jelas Mahelan.

Dalam laporan keuangan unaudited, Askrindo juga mencatatkan beberapa indikator penting lainnya. Selain premi bruto dan hasil underwriting, pertumbuhan ekuitas serta total aset menjadi bukti bahwa perusahaan memiliki kestabilan finansial yang baik. Ekuitas yang mencapai Rp9,4 triliun, misalnya, menunjukkan daya tahan modal perusahaan terhadap fluktuasi ekonomi. Sementara total aset mencapai Rp32,9 triliun, menandakan bahwa Askrindo mampu membangun portofolio yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Mahelan menekankan bahwa pertumbuhan tahun 2026 tidak hanya berasal dari keberhasilan operasional sebelumnya, tetapi juga dari adaptasi terhadap tantangan baru. “Kami memperkuat sistem manajemen risiko, sehingga memungkinkan perusahaan tetap fokus pada ekspansi tanpa mengorbankan kualitas layanan,” tambahnya. Ia juga menyebutkan bahwa keberhasilan ini diharapkan menjadi fondasi untuk terus mengembangkan kekuatan pasar dan kepercayaan nasional terhadap brand Askrindo.

Dalam jangka panjang, Askrindo berencana memperluas jaringan distribusi dan meningkatkan inovasi produk. Mahelan berharap strategi yang dijalankan dapat menarik lebih banyak pelanggan, terutama dari segmen ritel yang dinamis. Dengan dukungan ekuitas dan aset yang solid, perusahaan optimis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan serta mengejar peluang baru di industri asuransi kredit Indonesia. “Kami percaya bahwa keberlanjutan pertumbuhan hanya mungkin tercapai melalui kombinasi ekspansi yang terukur dan manajemen risiko yang teliti,” pungkas Mahelan, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berinovasi di tengah persaingan yang semakin ketat.