Agenda Utama: Piala Presiden 2026 bisa saja gunakan format baru

Piala Presiden 2026 Bisa Mengadopsi Format Baru

Jakarta – PSSI’s chairman, Erick Thohir, menyatakan bahwa penyelenggaraan Piala Presiden 2026, yang sedang dalam proses persiapan, memiliki potensi untuk menggunakan skema yang berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. “Kita sedang menggodok ulang format untuk edisi kedelapan, termasuk komitmen yang disampaikan oleh Pak Ara (Maruarar Sirait, ketua komite penyelenggara Piala Presiden 2025),” ujarnya usai penutupan turnamen tahun lalu di Jakarta, Minggu. “Poin pentingnya adalah mendorong peran aktif semua gubernur dan bupati agar olahraga sepak bola terus berkembang. Mungkin format ini akan kita evaluasi kembali,” tambahnya.

Peserta dan Struktur Turnamen

Sebelumnya, tujuh penyelenggaraan Piala Presiden menampung jumlah peserta antara 6 hingga 20 tim, yang terdiri dari klub Liga 1, Liga 2, serta tim dari luar negeri. Skema pertandingan berupa babak grup dengan penjelasan pemenang dan runner-up berlaku hingga babak final. Namun, edisi tahun lalu menjadi yang paling sedikit pesertanya, yakni hanya enam klub, dan berlangsung antara 6 hingga 13 Juli.

“Piala Presiden 2025 dijuarai Port FC dari Thailand setelah mengalahkan Oxford United di babak final,” tutur Erick.

Erick juga menyebutkan bahwa keikutsertaan dua tim asing, Oxford dan Port, memberikan dampak positif. “Mereka ingin kembali berpartisipasi, tapi kita masih menunggu konsep format yang lebih matang,” katanya. Ia menambahkan bahwa perubahan ini berdasarkan perkembangan tim nasional dan keberadaan klub besar dalam kompetisi lokal.

Di sisi lain, Maruarar Sirait mengapresiasi upaya PSSI dalam menggelar turnamen tersebut. “Kemenangan Piala Presiden kali ini bukan hanya hasil satu pihak, melainkan kolaborasi seluruh elemen ekosistem sepak bola nasional,” ujarnya. “Tidak ada sihir, hanya kerja sama tim, pemain, media, sponsor, dan pihak pengelola yang saling mendukung untuk mencapai kesuksesan ini.”

Erick mengakui kompleksitas penyelenggaraan tahun ini, terutama karena Piala Dunia 2026 akan digelar bersamaan. “Mungkin jadwal turnamen 2026 tidak akan sama seperti tahun lalu, tapi kita masih mengeksplorasi opsi yang optimal,” jelasnya. Ia berharap format baru bisa memberikan ruang untuk melibatkan lebih banyak klub daerah dan provinsi dalam pertandingan.