Kemenhaj kaji usulan tambahan biaya haji dari dua maskapai

Kemenhaj Tinjau Kembali Biaya Haji Akibat Kenaikan Harga Avtur

Di Jakarta, Menteri Haji dan Umrah Mochamaf Irfan Yusuf mengatakan pemerintah sedang meninjau ulang kebutuhan anggaran berkaitan dengan usulan kenaikan biaya haji dari Garuda Indonesia dan Saudia Airlines. Hal ini terjadi karena kenaikan harga avtur yang dipicu situasi perang, menurutnya. “Sebelumnya, usulan harga avtur dari Garuda Indonesia dan Saudia Airlines masih di atas Rp100 per liter. Namun, dengan berlakunya gencatan senjata, harga bahan bakar mulai menurun, sehingga pihak Kemenhaj akan melakukan penyesuaian kembali,” ujarnya saat Rapat Kerja Nasional di Asrama Haji Cipondoh, Tangerang, Rabu malam.

“Tentu saja kami tidak langsung serta-merta menerima usulan harga yang diusulkan oleh mereka. Kita akan hitung ulang, kita komunikasikan, dan kita akan juga koordinasi dengan teman-teman dari Komisi VIII tentang hal ini,” tambah Gus Irfan.

Sebelum perang pecah, biaya penerbangan per anggota jamaah berada di sekitar Rp33,5 juta. Namun, dengan munculnya konflik yang menyebabkan kenaikan harga minyak, maskapai penerbangan mengusulkan tambahan biaya. Dalam skenario tanpa perubahan rute, biaya rata-rata per orang diperkirakan meningkat menjadi Rp46,9 juta, naik 39,85 persen. Jika dilakukan rerouting untuk menghindari wilayah udara konflik, biaya bisa mencapai Rp50,8 juta, kenaikan sekitar 51,48 persen.

Garuda Indonesia, menurutnya, mengusulkan tambahan biaya sekitar Rp7,9 juta per orang, sementara Saudia Airlines mengajukan kenaikan 480 dolar AS per orang. Ia menegaskan pemerintah masih mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan harga bahan bakar global, sebelum menetapkan keputusan. “Bisa dari APBN atau sumber lain, misalkan BPKH. Tapi yang jelas, Presiden menyatakan jangan dibebankan kepada jamaah,” jelasnya. Artinya, pemerintah berkomitmen mencari alternatif pembiayaan di luar kewajiban jamaah.