Program Terbaru: Peneliti UI: Implementasi B50 perlu penguatan hulu produksi sawit

Peneliti UI: Implementasi B50 perlu penguatan hulu produksi sawit

Jakarta – Dr. Eugenia Mardanugraha, peneliti dari Universitas Indonesia, mengemukakan bahwa penerapan biodiesel B50 secara wajib pada semester II tahun 2026 memerlukan peningkatan produksi sawit di tahap awal. Menurutnya, peningkatan output kelapa sawit penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor, terutama dalam konteks permintaan yang terus meningkat.

“Produktivitas tanaman kelapa sawit perlu ditingkatkan agar mampu mengimbangi kenaikan kebutuhan, baik untuk konsumsi domestik, termasuk biodiesel, maupun ekspor. Tanpa peningkatan produktivitas, tekanan terhadap pasokan CPO akan makin besar dan berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dalam negeri dan global,” ujarnya.

Kebijakan pemerintah, menurut Eugenia, sebaiknya fokus pada perbaikan dasar di sektor hulu. Hal ini mencakup kegiatan peremajaan tanaman, peningkatan kualitas benih, penggunaan teknik budidaya lebih efisien, serta dukungan terhadap para petani.

“Dengan demikian, peningkatan permintaan akibat kebijakan energi dapat diimbangi oleh peningkatan produksi, sehingga ketahanan energi dan stabilitas industri sawit dapat berjalan secara seimbang dan berkelanjutan,” tambahnya.

Perbaikan di hulu juga membantu menjamin kesiapan industri di tengah permintaan yang tinggi dari pasar ekspor serta kebutuhan dalam negeri lain seperti pangan dan oleokimia. Eugenia mengingatkan bahwa kondisi ini bisa menyebabkan kompetisi antara alokasi CPO untuk ekspor dan kebutuhan wajib dalam negeri.

“Kondisi ini menimbulkan potensi crowding out, di mana alokasi CPO (minyak sawit mentah) akan saling bersaing antara kepentingan ekspor dan pemenuhan mandatori dalam negeri,” jelasnya.

Dalam situasi tersebut, apabila kebijakan B50 diterapkan secara cepat, kemungkinan besar akan terjadi penurunan volume ekspor CPO. Hal ini karena prioritas pemenuhan kebutuhan nasional, khususnya untuk program biodiesel, akan menyerap bagian lebih besar dari hasil produksi.

Tidak hanya itu, fluktuasi harga yang tidak pasti, baik minyak bumi maupun CPO, juga menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan. Eugenia menekankan perlunya kesiapan sektor hulu sebelum menerapkan kebijakan tersebut.