Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Menanam hijau – memanen laut

Published 26/05/2026 · Updated 26/05/2026 · By Nadia Utami

Menanam hijau, memanen laut

Perubahan dalam Angin Laut

Menanam hijau - Di Kota Surabaya, Jawa Timur, angin laut yang sebelumnya hanya membawa aroma garam dan lumpur tambak kini juga membawa harapan baru. Kawasan Wonorejo hingga Gunung Anyar menjadi contoh nyata bagaimana lingkungan pesisir berusaha adaptasi terhadap tantangan abrasi, krisis iklim, serta penyusutan ruang hidup para nelayan tambak. Tumbuh dari akar-akar mangrove yang kini dianggap sebagai bagian integral dari sistem ekonomi lokal, inisiatif ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak selalu bertentangan dengan pertumbuhan ekonomi.

Persoalan yang Menyatu

Surabaya, seperti banyak kota pesisir di Indonesia, menghadapi masalah yang semakin mengkhawatirkan. Garis pantai terus menerima tekanan abrasi, kualitas air menurun, suhu kota meningkat, dan ekosistem pesisir kehilangan kapasitasnya dalam menopang kehidupan masyarakat. Tantangan ini mengharuskan para nelayan tambak tetap produktif agar bisa mempertahankan penghidupan mereka. Namun, pengelolaan tambak konvensional sering kali memprioritaskan hasil jangka pendek, dengan mengorbankan fungsi ekologis mangrove.

Menggabungkan Ekonomi dan Ekologi

Metode silvofishery, atau yang disebut sebagai wanamina, mulai diterapkan secara serius oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Konsep ini memadukan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove, sehingga menciptakan ekosistem yang seimbang. Dengan penanaman pohon mangrove di dalam area tambak, kesan konservasi justru menjadi bagian dari kegiatan produksi, bukan sekadar hambatan.

Langkah ini mengubah persepsi tradisional tentang mangrove. Sebelumnya, pohon-pohon ini sering dianggap sebagai penghalang yang mempersempit ruang budidaya. Namun, kini Surabaya mencoba membuktikan bahwa menjaga lingkungan bisa menjadi investasi jangka panjang. Akar mangrove, misalnya, memiliki kemampuan unik untuk menahan sedimen, menyerap karbon, dan menjadi tempat pemijahan ikan. Fungsi ekologis tersebut tidak hanya melindungi batas pantai, tetapi juga meningkatkan kualitas air dan kestabilan iklim lokal.

Contoh Awal yang Berhasil

Pengalaman panen bandeng di kawasan mangrove Wonorejo pada 2021 menjadi bukti nyata bahwa integrasi ini mungkin. Dari tambak berbasis silvofishery seluas sekitar satu hektare, wilayah tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton ikan bandeng serta udang vaname. Angka ini menunjukkan bahwa penerapan teknik yang lebih kompleks justru meningkatkan produktivitas, bukan mengurangi.

Menariknya, pendekatan ini tidak muncul dari keinginan romantis terhadap alam semata. Surabaya mencoba menyatukan kebutuhan ekonomi dan lingkungan secara praktis. Sebelumnya, banyak kawasan mangrove di Indonesia ditebang untuk memperluas tambak konvensional. Tindakan tersebut menghasilkan keuntungan langsung, tetapi juga merusak benteng alami kota pesisir. Dengan silvofishery, perubahan ini dikurangi. Ekosistem mangrove tidak hanya menjadi pelindung, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi.

Prospek yang Membuka

Proyek ini menggambarkan pergeseran paradigma dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Dengan menanam mangrove di dalam area budidaya, pemerintah dan masyarakat berusaha menciptakan model yang lebih berkelanjutan. Mereka menggali potensi lingkungan alami untuk mendukung pertumbuhan ikan dan udang, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati. Hasil dari tambak berbasis silvofishery menunjukkan bahwa produksi bisa tetap optimal tanpa mengorbankan lingkungan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya terus mengembangkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini. Berbagai pelatihan dan edukasi diselenggarakan untuk memastikan bahwa nelayan tambak tidak hanya memahami manfaat ekologis mangrove, tetapi juga cara merawatnya. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan, karena keberlanjutan tidak bisa dicapai hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga kesadaran kolektif.

Sebagai bagian dari upaya ini, BRIDA dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian bekerja sama untuk memastikan bahwa penanaman mangrove tidak menyulitkan pertumbuhan perikanan. Mereka melakukan survei dan studi kasus untuk menyesuaikan model silvofishery dengan kondisi lokal. Salah satu fokus utamanya adalah menciptakan area yang bisa dipakai untuk budidaya tanpa mengganggu kehidupan mangrove. Tujuan ini menuntut perencanaan yang hati-hati, termasuk pemilihan spesies tanaman yang sesuai dengan kebutuhan ekosistem dan pertanian.

Potensi untuk Kota Pesisir Lain

Kasus Surabaya memberikan pelajaran berharga bagi kota-kota pesisir lain di Indonesia. Jika diterapkan secara konsisten, silvofishery bisa menjadi solusi inovatif untuk mengatasi masalah lingkungan dan ekonomi secara bersamaan. Namun, ada tantangan yang harus diatasi. Misalnya, kesadaran masyarakat tentang pentingnya mangrove masih perlu ditingkatkan, serta ketersediaan dana untuk mendukung proyek jangka panjang.

Menurut perwakilan BRIDA, integrasi mangrove ke dalam sistem pertanian perairan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan tambah sintetis. Dengan keberadaan tanaman yang menyerap karbon dan menyaring polutan, kualitas air tambak tetap terjaga. Selain itu, keberhasilan dari model ini akan meningkatkan daya tahan ekosistem terhadap perubahan iklim, yang saat ini menjadi ancaman global.

Dari pengalaman Wonorejo, Surabaya melihat peluang untuk mengembangkan lebih banyak area tambak berbasis silvofishery. Pemerintah sedang mengeksplorasi potensi lahan yang sesuai, termasuk kawasan yang sebelumnya dianggap tidak produktif. Dengan menggabungkan dua sistem ini, hasil yang diperoleh bisa lebih baik, dan lingkungan sekitar terjaga. Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan ekosistem dan ekonomi bisa menjadi satu tujuan, bukan konflik.

Seiring berjalannya waktu, harapan masyarakat tambak semakin terwujud. Mereka tidak lagi melihat mangrove sebagai penghalang, tetapi sebagai mitra dalam keberhasilan bisnis mereka. Dengan menggandeng pemerintah dan lembaga penelitian, upaya ini menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Surabaya menunjukkan bahwa kota pesisir tidak harus memilih antara pertumbuhan dan perlindungan, melainkan bisa menggabungkan keduanya.

Selain itu, metode ini juga memiliki potensi untuk meningkatkan ekosistem perairan. Karena mangrove memberikan habitat alami bagi berbagai jenis ikan, keberadaannya meningkatkan jumlah dan keberagaman hasil tangkapan. Para nelayan tidak hanya memanen dari laut, tetapi juga memanen dari ekosistem yang lebih sehat. Dengan demikian, silvofishery bukan hanya mengurangi dampak negatif, tetapi juga memperkuat kapasitas pesisir dalam menghadapi tantangan depan.