Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Aksi penyelamatan ekosistem tanam mangrove di pesisir kritis Semarang

Published 29/06/2026 · Updated 29/06/2026 · By Ayu Saraswati

Aksi Penyelamatan Ekosistem: Tanam Mangrove di Pesisir Kritis Semarang

Key Strategy - Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi fokus baru dari upaya menyelamatkan ekosistem pesisir melalui gerakan penanaman mangrove yang digandeng oleh elemen masyarakat dan sektor swasta. Inisiatif ini diluncurkan oleh PT Tarunakusuma Purinusa Kapas Selection dalam kerja sama dengan Lembaga Konservasi LindungiHutan dan Kelompok Tani Mangrove Lestari, dengan menanam 1.000 pohon mangrove di Pantai Mangunharjo, Senin lalu. Langkah ini bertujuan untuk meneguhkan komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial, sekaligus menjawab tantangan lingkungan yang mengancam wilayah pesisir.

Kemitraan untuk Keberlanjutan Ekosistem

Program ini diberi nama “Beauty Begins with Nature” dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia. Stefani Tanaka, Tim CSR Kapas Selection, menjelaskan bahwa penghijauan mangrove bukan hanya upaya ekologis, tetapi juga bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. “Kami ingin menciptakan harmoni antara pertumbuhan bisnis dan pelestarian alam,” katanya. Menurut Stefani, Pantai Mangunharjo terancam oleh penurunan muka tanah dan abrasi yang mempercepat kerusakan garis pantai. Dengan menanam mangrove, harapan ada pada perbaikan ekosistem serta pengurangan risiko bencana alam.

"Kegiatan ini adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan, sambil tetap menjaga kepentingan ekonomi masyarakat pesisir," ujar Stefani.

Kawasan Pesisir yang Rentan

Pantai Mangunharjo dipilih sebagai lokasi utama karena posisinya yang strategis di jalur pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim. Kondisi ini menuntut tindakan cepat untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Menurut Stefani, pohon mangrove memiliki kemampuan unik untuk menahan laju abrasi, serta mengembalikan fungsi ekosistem yang terganggu. “Dengan peran ini, kita tidak hanya memperbaiki lingkungan, tetapi juga melindungi kehidupan laut dan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam,” tambahnya.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan

Mustafid, Koordinator Lapangan Kelompok Tani Mangrove Lestari, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menekankan bahwa mangrove bukan hanya sebagai vegetasi, tetapi juga sebagai sumber penghidupan bagi warga pesisir. “Mangrove adalah pelindung alam yang vital, serta penghasil kayu dan bahan-bahan lain yang memberi manfaat ekonomi,” katanya. Selain itu, pohon ini juga berperan dalam penyerapan karbon, yang menjadi salah satu target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pilar aksi iklim.

"Bagi kami, mangrove adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ini bukan hanya pohon, tetapi juga penopang ekonomi dan penjaga pantai dari ancaman abrasi," ujar Mustafid.

Peluang untuk Pemulihan Ekosistem

Dalam upaya mengatasi masalah lingkungan, kolaborasi antara sektor swasta dan komunitas lokal menjadi kunci. Mustafid berharap program ini bisa berlanjut, karena keberhasilan restorasi mangrove memerlukan kesinambungan. “Kami percaya bahwa dengan kolaborasi, ekosistem bisa pulih dan masyarakat bisa lebih sejahtera,” imbuhnya. Menurutnya, penanaman mangrove juga meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga lingkungan, sekaligus menciptakan mata pencaharian alternatif yang lebih ramah alam.

Kinerja Menteri Lingkungan Hidup

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat bahwa luas kawasan hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,4 juta hektare. Namun, ratusan ribu hektare di antaranya berada dalam kondisi kritis. Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, sebelumnya menegaskan bahwa sekitar 700 ribu hektare kawasan mangrove rusak dan memerlukan intervensi serius. “Ini adalah bagian dari tanggung jawab bersama kita untuk mempercepat pemulihan ekosistem dan meningkatkan penyerapan karbon,” katanya.

Proyek Nasional dan Lokal

Upaya restorasi mangrove di Semarang selaras dengan program nasional pemulihan lingkungan yang sedang digencarkan pemerintah. Langkah ini mencerminkan sinergi antara institusi pemerintah, komunitas, dan sektor swasta. Jumhur menambahkan bahwa pemulihan mangrove tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim. Dengan menanam 1.000 bibit, inisiatif ini berkontribusi pada pencapaian SDGs, terutama dalam bidang lingkungan pesisir dan aksi iklim.

Proses Penanaman dan Dukungan Masyarakat

Penanaman mangrove di Pantai Mangunharjo dilakukan secara bertahap, dengan pemilihan spesies yang sesuai untuk kondisi lokal. Para petani bekerja sama dengan tim CSR dan lembaga konservasi, memastikan setiap bibit ditanam secara tepat. Proses ini membutuhkan perawatan intensif, termasuk pengairan dan perlindungan dari gangguan eksternal. Mustafid menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan proyek. “Tanpa dukungan warga, upaya ini tidak akan bertahan lama,” ujarnya.

Mangrove: Penjaga Keseimbangan Alam

Mangrove memainkan peran kritis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain menjadi pelindung terhadap abrasi dan banjir, pohon ini juga menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai spesies laut. Dengan restorasi, ekosistem bisa kembali sehat, yang berdampak positif pada keanekaragaman hayati. Mustafid menjelaskan bahwa masyarakat lokal memiliki keahlian dalam merawat mangrove, yang bisa dijadikan model bagi daerah lain.

Kontribusi pada SDGs

Program penanaman mangrove ini tidak hanya mengurangi risiko bencana alam, tetapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada pilar ekosistem pesisir dan aksi iklim. Menurut data BPLH, hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan luas akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Dengan menanam kembali pohon-pohon ini, upaya mengembalikan fungsi ekosistem pun diharapkan bisa mencapai target nasional.

Keberhasilan proyek ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perusahaan dan komunitas bisa menghasilkan dampak lingkungan yang signifikan. Selain itu, inisiatif ini juga memberikan pelajaran bahwa pelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat dan sektor swasta. Dengan kombinasi penanaman, pengawasan, dan edukasi, Semarang menjadi salah satu kota yang menjadi contoh keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan pesisir.

Menurut Mustafid, kolaborasi antara kelompok tani, lembaga konservasi, dan perusahaan swasta adalah solusi yang efektif. “Ini menunjukkan bahwa lingkungan bisa dikelola secara kolektif,” katanya. Dengan partisipasi aktif, kawasan pesisir bisa menjadi lebih tahan terhadap tekanan alam. Harapan besar pun ditujukan pada penanaman mangrove yang berkelanjutan, yang bisa menjadi titik awal perbaikan ekosistem Indonesia.