Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Momen pilu – calon haji asal Tarakan wafat jelang Wukuf di Arafah

Published 27/05/2026 · Updated 27/05/2026 · By Sinta Kurniawan

Momen pilu, calon haji asal Tarakan wafat jelang Wukuf di Arafah

Momen pilu - Sebuah keluarga di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, mengalami kehilangan yang menyayat hati saat anggota keluarganya yang sedang menjalani ibadah haji meninggal dunia tepat sebelum melakukan Wukuf di Padang Arafah. Acara puncak ibadah haji, yang seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan bagi umat Muslim, berubah menjadi kesedihan mendalam bagi jemaah yang telah menempuh perjalanan jauh ke Tanah Suci. Peristiwa ini terjadi di kamar hotel di Makkah, saat lelaki berusia 80 tahun itu sedang menunggu giliran untuk melakukan mandi wajib sebelum mengenakan kain ihram menuju lokasi ritual.

Hajj yang diikuti oleh lelaki tua itu dianggap sebagai salah satu tujuan hidupnya. Ia telah menyiapkan diri selama bertahun-tahun, mengumpulkan tabungan dan berdoa agar bisa melaksanakan rukun Islam yang ketiga ini. Perjalanan ke Makkah terasa berat, namun ia tetap bersemangat mengingat keistimewaan ibadah haji. Pada hari terakhir menjelang Wukuf, keadaannya tiba-tiba memburuk. Pihak penginapan melaporkan bahwa ia merasa lelah setelah menghadiri berbagai upacara dan ibadah di sepanjang hari. Meski telah berusaha memberinya perawatan, nyawanya tak bisa tertunda.

Kelompok jemaah haji dari Tarakan ini memang terkenal bersemangat dalam menjalani ritual. Para peserta biasanya melaksanakan ibadah dengan penuh kegigihan, meski tantangan fisik dan mental terus-menerus menguji ketahanan mereka. Momen kematian lelaki tua itu terjadi saat jemaah sedang menunggu antrian untuk mandi sebelum melaksanakan Wukuf. Ia baru saja menyelesaikan shalat Subuh dan berharap bisa segera memulai prosesi ke Padang Arafah. Namun, langkah pertamanya menuju lokasi ibadah terhenti, karena tubuhnya tak mampu menopang kelelahan.

Momen Wukuf yang mengguncang hati

Wukuf di Padang Arafah adalah salah satu momen kritis dalam ibadah haji, di mana jemaah berkumpul di lokasi yang bersejarah untuk menunaikan doa dan persembahan. Ritual ini memiliki makna mendalam bagi umat Muslim, karena dianggap sebagai titik puncak dari perjalanan spiritual. Namun, bagi keluarga dari Tarakan, hari itu berubah menjadi hari terakhir dari perjalanan kehidupan lelaki tua yang dikenal sebagai sosok yang penuh semangat.

"Bapak kami telah lama bermimpi untuk melakukan ibadah haji, dan kepergiannya tepat di depan Wukuf adalah saat yang paling berkesan," kata salah satu anggota keluarga, yang enggan menyebutkan nama lengkapnya. "Ia tidak pernah menyerah meski kondisi tubuhnya menurun. Setiap langkah yang ia ambil di sini adalah bukti kepercayaan pada Tuhan."

Kematian lelaki tua itu menjadi sorotan di antara jemaah. Banyak orang mengenangnya sebagai contoh ketekunan dalam menjalani ibadah. Ia sebelumnya mengikuti pelatihan khusus untuk mempersiapkan diri, bahkan mempelajari detail ritual sebelum berangkat. Selama perjalanan, ia juga dikenal sebagai pendamping yang sabar dan penuh energi, meski usia menua.

Prosesi Wukuf sendiri diawali dengan pembagian kain ihram, yang dianggap sebagai simbol kebersihan dan kesucian. Jemaah dari Tarakan biasanya memperhatikan setiap langkah ritual dengan hati yang penuh kegembiraan. Namun, dalam kejadian ini, suasana berubah drastis. Lebih dari 200 jemaah yang berada di sekitar kamar penginapan mendengar kabar duka dari pihak keluarga. Mereka terdiam sejenak, lalu mengucapkan salawat dan doa untuk mengiringi perjalanan terakhir lelaki yang telah menunaikan harapan hidupnya.

Sebelum meninggal, lelaki itu sempat menitipkan pesan kepada anggota keluarga. Ia menyampaikan rasa syukur atas kesempatan melaksanakan haji, meski tak sempat melaksanakan Wukuf secara penuh. "Aku sudah cukup bersyukur, bisa melihat Makkah dengan mata kepala sendiri," ujarnya dengan suara lemah, sebelum akhirnya tenang pergi. Kepergiannya dianggap sebagai bagian dari perjalanan spiritualnya, yang telah tercapai dengan sempurna.

Keluarga dari Tarakan memutuskan untuk mengambil langkah cepat. Mereka membawa jenazah ke Masjid Al-Masjid Al-Haram, tempat yang menjadi simbol penting dalam ibadah haji. Sementara itu, pihak penginapan memberi perawatan terbaik, dan para jemaah yang mengetahui kejadian ini menawarkan dukungan moral. Momen ini juga memicu refleksi di antara jemaah, mengingat bahwa setiap langkah dalam ibadah haji memiliki makna, dan kesempatan itu bisa terlewat dalam hitungan detik.

Usai peristiwa ini, keluarga mengadakan upacara pemakaman sederhana di Makkah. Mereka membagikan kisah lelaki tua itu kepada para jemaah, yang sebagian besar berasal dari Kalimantan Utara. Sejumlah peserta menyatakan bahwa kepergian tersebut menjadi inspirasi untuk ter