Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Rupiah Rp18.000 per dolar, Mensesneg sebut fundamental ekonomi kuat

Published 05/06/2026 · Updated 05/06/2026 · By Zahra Putri

Rupiah Rp18.000 per Dolar, Mensesneg Sebut Fundamental Ekonomi Kuat

Analisis Kebijakan Pemerintah dalam Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Latest Program - Kamis (4/6), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan pernyataan terkait tren perubahan nilai tukar rupiah yang kini mencapai level Rp18.000 per dolar AS. Dalam wawancara dengan sejumlah jurnalis di Jakarta, Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah tetap aktif mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan konsistensi stabilitas ekonomi. Meski terjadi tekanan terhadap rupiah, ia menekankan bahwa kekuatan dasar perekonomian Indonesia menjadi penunjang utama kebijakan yang dijalankan.

"Saya yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, sehingga rupiah bisa kembali ke level yang lebih stabil dalam waktu dekat," ujar Prasetyo, seperti dilaporkan oleh Azhfar Muhammad Robbani, Arif Prada, dan Rijalul Vikry.

Prasetyo menambahkan bahwa pemerintah terus mengawasi kondisi pasar keuangan dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk meminimalkan dampak fluktuasi. Ia menyoroti beberapa faktor yang memperkuat kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia, termasuk pertumbuhan sektor ekspor, daya beli masyarakat, dan kinerja sektor produktif. "Tren ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan ekonomi global," jelasnya.

Dalam menghadapi situasi nilai tukar rupiah yang turun, pemerintah telah mengambil langkah-langkah konkret. Salah satu tindakan utama adalah menjaga kebijakan moneter yang konsisten melalui Bank Indonesia. Selain itu, perangkat ekonomi juga fokus pada penguatan daya saing sektor industri dan pertanian, serta meningkatkan daya tarik investasi asing. "Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan jangka panjang," kata Prasetyo.

Kondisi Ekonomi Global dan Dampaknya

Fluktuasi nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika pasar global. Prasetyo menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. "Kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil, seperti perang dagang dan perubahan suku bunga, memengaruhi dinamika mata uang," ujarnya.

Menurut Prasetyo, meski terjadi tekanan, pemerintah tetap optimistis. "Kita harus melihat ini sebagai peluang untuk menguatkan fondasi ekonomi," tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa langkah-langkah pemerintah telah terbukti efektif dalam masa lalu, terutama dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 2016-2017. "Pengalaman masa lalu memberi kita alat untuk menangani situasi ini dengan lebih baik," jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Prasetyo memaparkan bahwa kekuatan sektor ekspor dan investasi asing menjadi faktor utama yang mendukung stabilitas nilai tukar. Sejumlah data menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia telah mengalami peningkatan sepanjang tahun ini, terutama dalam bidang pertanian dan energi. "Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mendorong perekonomian," katanya.

Peran Pemerintah dan Kemitraan dengan Stakeholder

Prasetyo menekankan bahwa stabilitas ekonomi bukan hanya tanggung jawab satu institusi, tetapi melibatkan kerja sama dari berbagai pihak. "Kami berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan lembaga keuangan lainnya untuk memastikan kebijakan yang terpadu," kata Mensesneg. Ia juga menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dan UMKM diberikan ruang untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan.

Menurut Prasetyo, kebijakan yang diambil bertujuan untuk menciptakan kepercayaan investor dan masyarakat. "Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan ekonomi global," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga mengupayakan peningkatan cadangan devisa dan pengurangan defisit neraca pembayaran sebagai langkah jangka panjang.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah telah melakukan beberapa reformasi yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekonomi. Reformasi tersebut meliputi penghapusan pengenaan tarif bea masuk pada sejumlah produk dan pemberdayaan sektor manufaktur. "Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi Indonesia," jelas Prasetyo.

Mensesneg juga menyebutkan bahwa kinerja sektor pertanian dan energi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. "Kami menghadirkan dukungan keuangan untuk usaha kecil dan menengah, serta mendorong inovasi di sektor pertanian," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah berupaya memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap terjaga, sehingga tidak terjadi kenaikan harga yang signifikan.

Perspektif Ekonomi dan Harapan Masa Depan

Menurut Prasetyo, penurunan nilai tukar rupiah justru memberikan peluang bagi industri dalam negeri. "Karena rupiah lebih murah, produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar internasional," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemerintah harus tetap memantau risiko inflasi yang bisa muncul dari harga bahan baku yang naik.

Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. "Kita tidak ingin terjadi penurunan tajam dalam nilai rupiah yang berdampak pada daya beli masyarakat," katanya. Ia menyebutkan bahwa langkah-langkah yang diambil saat ini adalah bagian dari upaya untuk mencapai keadaan keseimbangan yang ideal.

Di sisi lain, Prasetyo meminta masyarakat tetap tenang dan berperan dalam menghadapi situasi ini. "Kami yakin bahwa ekonomi Indonesia memiliki kekuatan untuk bangkit, selama semua pihak tetap berkoordinasi dan berperan aktif," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memberikan informasi transparan kepada publik untuk membangun kepercayaan.

Sejumlah analis ekonomi mengakui bahwa kebijakan pemerintah selama ini memperlihatkan komitmen kuat terhadap stabilitas ekonomi. "Selama pemerintah mempertahankan kebijakan yang konsisten, nilai rupiah akan kembali stabil," kata salah satu ekonom. Namun, mereka juga menyoroti bahwa perekonomian Indonesia masih rentan terhadap perubahan kebijakan luar negeri.

Dengan semua upaya yang telah dilakukan, Prasetyo optimis bahwa rupiah akan kembali ke level yang lebih baik dalam beberapa bulan mendatang. "Kami tidak hanya menangani masalah saat ini, tetapi juga mempersiapkan fondasi ekonomi yang kuat untuk masa depan," pungkasnya. Dalam kesimpulan, ia menegaskan bahwa ekonomi Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh, selama semua pihak tetap berjuang bersama.