Strategi Penting: Iran Tetapkan Kepemimpinan Sementara Usai Gugurnya Ali Khamenei, Eskalasi Konflik Regional Memanas
Iran Tetapkan Kepemimpinan Sementara Usai Gugurnya Ali Khamenei, Eskalasi Konflik Regional Memanas
Setelah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Teheran mengambil langkah untuk menetapkan struktur otoritas sementara. Tiga tokoh utama, yaitu Wakil Presiden Pertama, Presiden, dan anggota Dewan Wali, ditunjuk sebagai pengganti kekuasaan tertinggi. Keputusan ini bertujuan menjaga stabilitas pemerintahan di tengah situasi kritis yang dihadapi negara tersebut.
Serangan yang terjadi pada Sabtu pagi (28/2) mengakibatkan kerusakan infrastruktur signifikan dan korban dari warga sipil. Peristiwa ini memicu kecaman keras dari Iran, yang segera merespons dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Aksi balasan ini menunjukkan peningkatan ketegangan antar negara-negara regional.
“Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan,” seperti dikutip kantor berita IRNA.
Iran juga mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Khamenei. Hal ini mencerminkan dampak besar kepergian pemimpin tertinggi terhadap kehidupan sosial dan politik negara. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta Angkatan Darat Iran memastikan komitmen untuk membalas serangan tersebut, meningkatkan risiko eskalasi militer.
Dewan Wali, sebagai salah satu pilar sistem politik Iran, memiliki peran penting dalam memastikan undang-undang sesuai prinsip Islam. Presiden saat ini adalah Masoud Pezeshkian, yang menjabat sejak 28 Juli 2024. Sementara itu, ketua pengadilan Iran adalah Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, yang telah mengemban tugas sejak 1 Juli 2021. Mohammad Mokhber, sebagai wakil presiden pertama, menjelaskan bahwa konstitusi mengatur tugas kepemimpinan tertinggi untuk sementara waktu.
