Diumumkan: Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Kecam Israel

Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Kecam Israel

Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik antara AS dan Israel terhadap Iran memasuki hari ketiga, menurut laporan terbaru. Joe Kent, yang menjabat sebagai Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional, menjadi pejabat utama pertama dalam pemerintahan Donald Trump yang mengundurkan diri karena berbeda pendapat dengan tindakan militer yang diambil terhadap Iran. Ia juga secara terbuka menyalahkan Israel sebagai penyebab kekacauan di wilayah Timur Tengah.

“Secara jujur, saya tidak bisa mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Negara itu tidak membawa ancaman langsung terhadap kita, dan kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel serta pengaruh lobi yang kuat,” tulis Kent dalam surat yang dibagikan ke media sosial, seperti yang dilansir Reuters pada Rabu (18/3/2026).

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyangkal klaim Kent dengan menyebutnya sebagai “pembuat pernyataan palsu”. “Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa ia memiliki bukti kuat bahwa Iran akan menyerang AS terlebih dahulu,” jelas Leavitt. “Bukti tersebut dikumpulkan dari berbagai sumber dan faktor,” tambahnya.

Kent tidak memberikan tanggapan resmi terkait komentar yang diajukan. Sementara itu, Kantor Direktur Intelijen Nasional, yang mengawasi kegiatan Kent, belum mengeluarkan pernyataan segera. Sebelumnya, Kent aktif menentang intervensi militer AS di luar negeri, namun pengumuman pengunduran dirinya tetap dianggap mengejutkan oleh seorang pejabat AS.

Kent memiliki hubungan dekat dengan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard. Gabbard belum merilis pernyataan resmi sejak konflik AS-Israel melibatkan Iran dimulai. Ia hanya muncul secara terbatas saat upacara pemakaman tentara AS yang gugur dalam operasi tersebut.

Dewan Intelijen Nasional, yang dipimpin Gabbard, merilis beberapa laporan, baik sebelum maupun setelah serangan AS dimulai. Laporan tersebut menyoroti risiko tindakan militer AS dan memperkirakan bahwa pemerintah Iran kemungkinan tidak akan runtuh. Justru, Iran bisa membalas serangan dengan mengambil langkah tegas terhadap posisi strategis AS di wilayah itu serta sekutu di Timur Tengah, seperti yang diberitakan Reuters sebelumnya.

Peristiwa ini memicu perdebatan tentang kebijakan luar negeri Trump, terutama terkait hubungan dengan negara-negara Timur Tengah. Beberapa analis menyebut bahwa pengunduran diri Kent mencerminkan ketegangan internal dalam pemerintahan yang berkuasa.