DKI tak pindahkan Patung Sudirman selama bangun pedestrian Dukuh Atas
DKI Jakarta Pilih Tidak Pindahkan Patung Sudirman Selama Pembangunan Pedestrian Dukuh Atas
DKI tak pindahkan Patung Sudirman selama - Seiring berjalannya proyek pembangunan fasilitas pejalan kaki (pedestrian deck) di kawasan Dukuh Atas dan Jembatan Cincin Donat, Jakarta Selatan, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pihaknya tidak berencana untuk memindahkan Patung Jenderal Sudirman. Keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang selama beberapa hari, dengan tujuan menghindari perdebatan yang mungkin muncul. Menurut Pramono, pengalihan patung tersebut tidak diperlukan karena rancangan proyek sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak mengganggu nilai sejarah dan simbolik bangunan yang telah menjadi ikon kota.
“Setelah kami merenungkan berhari-hari, Patung Jenderal Sudirman tetap akan berada di tempat ini, jadi tidak akan kami geser. Ini dilakukan agar tidak menjadi polemik,” ujarnya di Jakarta, Minggu.
Dalam wawancara terpisah, Pramono menjelaskan bahwa ia sudah melihat rincian gambar proyek dan memastikan bahwa penataan infrastruktur tersebut tidak akan mengurangi pengaruh patung yang berdiri di tengah kawasan Setiabudi. “Saya sudah melihat detail gambarnya, sehingga tidak perlu dipindahkan. Bahkan, patung ini akan menjadi tempat yang akan diingat oleh semua orang,” tuturnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Pemprov DKI untuk menjaga keberadaan simbol nasional di tengah upaya modernisasi kota.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menambahkan bahwa dalam pembangunan pedestrian deck, akan dibangun anjungan khusus yang berada di dalam struktur jembatan. Anjungan ini dirancang agar pejalan kaki dapat menikmati pandangan ke Patung Sudirman, sekaligus mengabadikan momen tersebut. “Pejalan kaki yang melintas nantinya bisa melihat Patung Jenderal Sudirman dari anjungan jembatan,” katanya. Tuhiyat menjelaskan bahwa anjungan ini akan menjadi elemen visual yang menarik, sekaligus memperkaya pengalaman pengguna fasilitas khusus pejalan kaki.
Pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas dimulai dengan upacara peletakan batu pertama yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta pada Minggu. Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta, yang dihadiri oleh sejumlah pejabat dan masyarakat. Selain itu, peletakan batu pertama ini juga diiringi dengan peresmian hasil penataan kawasan Jalan H.R. Rasuna Said, yang merupakan bagian dari rencana pengembangan infrastruktur transportasi di Jakarta Selatan.
Patung Sudirman, yang dikenal sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia, memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Dengan mempertahankannya, Pemprov DKI Jakarta berharap masyarakat tetap dapat mengakses dan menghargai bangunan ini sebagai warisan nasional. Meski ada perubahan bentuk fisik di sekitarnya, seperti penambahan akses pejalan kaki, pengalihan patung tetap dianggap tidak diperlukan karena fungsinya sebagai titik fokus dalam lingkungan baru.
Proyek pedestrian deck Dukuh Atas memiliki konsep yang terintegrasi dengan sistem transportasi umum lainnya. Fasilitas ini dirancang untuk menghubungkan berbagai moda transportasi, antara lain MRT Jakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodetabek, KRL, Transjakarta, dan kereta bandara. Dengan membangun jalur pejalan kaki yang melingkar, Pemprov DKI berupaya mengoptimalkan kenyamanan pengguna transportasi, sekaligus mencegah kemacetan di sekitar area kritis. Diameter lingkaran pedestrian deck mencapai sekitar 118 meter, sementara lebar jembatan sekitar 12 meter. Ukuran ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus memberikan ruang yang indah untuk bersantai.
Kebutuhan pembangunan pedestrian deck juga muncul dari kondisi lalu lintas di kawasan Dukuh Atas yang sering membludak. Sebagai bagian dari strategi pembangunan tata kota yang lebih ramah, proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2028. Tujuan utama dari pedestrian deck adalah menciptakan akses yang lebih efisien bagi pejalan kaki, sementara memastikan bahwa area kota tetap terlihat indah dan bernilai sejarah. Dengan demikian, patung yang berdiri di tengah proyek ini tidak hanya menjadi pengingat akan kebangsaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kota yang baru.
Proses penataan kawasan ini juga melibatkan koordinasi dengan berbagai stakeholder, termasuk pengelola transportasi dan pengamat arsitektur. Ada kekhawatiran bahwa perubahan bentuk fisik di sekitar patung bisa mengurangi makna simboliknya, tetapi Pemprov DKI berpendapat bahwa desain yang diusulkan justru menambah nilai estetika. Tuhiyat menyebut bahwa anjungan di dalam pedestrian deck akan menjadi titik persinggungan yang unik antara budaya dan teknologi modern.
Dengan adanya pedestrian deck, diharapkan masyarakat Jakarta bisa lebih mudah berpindah antar moda transportasi tanpa harus mengurangi keindahan kota. Patung Sudirman yang tetap berdiri di tengah jembatan akan menjadi saksi bisu perubahan ini, sekaligus mengingatkan akan semangat perjuangan para pahlawan. Proyek ini juga dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah kota, yang tidak tergantikan oleh kebutuhan infrastruktur kontemporer. Dengan menyeimbangkan antara konservasi dan pembangunan, Pemprov DKI Jakarta mencoba menunjukkan komitmen untuk menjaga keberlanjutan kota sebagai pusat budaya dan ekonomi.
Terlepas dari keputusan untuk tidak memindahkan patung, Pemprov DKI tetap berupaya memastikan bahwa area sekitarnya tetap aman dan nyaman. Ada rencana pengaturan ruang terbuka di sekitar patung, serta penambahan fasilitas lain seperti pohon, lampu, dan tempat duduk. Hal ini bertujuan untuk memperkaya pengalaman pengunjung, sekaligus menjaga kelestarian nilai sejarah dan budaya. Dengan demikian, pedestrian deck tidak hanya menjadi jalur penghubung, tetapi juga ruang publik