Program Terbaru: Kiat menuju detoks digital dari penggunaan ponsel berlebih
Kiat Menuju Detoks Digital dari Penggunaan Ponsel Berlebih
Jakarta – Penggunaan ponsel yang berlebihan sering dikaitkan dengan berbagai dampak fisik dan emosional. Menurut penelitian, kebiasaan ini bisa memperburuk kondisi kesehatan mental. Asisten profesor psikiatri di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, Naomi Dambreville, PhD, menyoroti perilaku scroll berlebihan sebagai bentuk penggunaan ponsel yang tidak disadari, seperti kebiasaan doomscrolling. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya bertujuan untuk mendapatkan informasi, tetapi justru mengakibatkan perasaan lebih buruk.
Studi dan Statistik Kecanduan Ponsel
Dambreville menyebutkan bahwa kecanduan ponsel bukan hanya soal bahan kimia, tetapi juga perilaku. “Kecanduan ponsel ditandai dengan penggunaan yang kompulsif dan berlebihan, serta rasa kehilangan kendali saat jauh dari perangkat,” katanya, merujuk pada laporan New York Post, Rabu (8/4) waktu setempat. Menurut data, sekitar 50% penduduk Amerika mengalami ketagihan terhadap ponsel, dengan rata-rata memeriksa layar setiap lima menit selama bangun, atau sekitar 186 kali sehari.
“Jika Anda merasa sakau saat tidak online atau takut ketinggalan sesuatu, mungkin itu tanda ada masalah,” ujar Dambreville.
Sembilan Tanda Ketergantungan pada Ponsel
Para ahli mengungkapkan enam tanda yang menunjukkan seseorang terlalu bergantung pada ponsel. Tanda-tanda ini meliputi: kegiatan seperti belanja, bersosialisasi, atau membaca berita terpusat pada layar; jarang melakukan aktivitas tanpa perangkat; respons cepat terhadap notifikasi; merasa tertinggal atau cemas saat tidak terhubung; serta gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, mata lelah, dan nyeri pada jempol akibat penggunaan berlebihan.
Langkah-Langkah Menuju Detoks Digital
Untuk mengurangi waktu layar, Naomi Dambreville merekomendasikan beberapa strategi. Pertama, pantau penggunaan perangkat atau media sosial. Mengetahui durasi dan frekuensi penggunaan membantu memahami pola perilaku. Kedua, tuliskan rencana detoks dengan target spesifik dan terukur. Misalnya, jika ingin mengurangi waktu di Instagram, pasang timer dan tutup aplikasi setelah 30 menit.
Ketiga, ganti kebiasaan lama dengan aktivitas baru. Jika mengurangi scroll, coba beralih ke membaca buku atau berjalan kaki. “Otak menyukai kestabilan, jadi perubahan sering kali menantang meskipun bermanfaat,” jelas Dambreville. Detoks digital bisa memicu gejala seperti dorongan untuk menggunakan perangkat lebih keras, perubahan suasana hati, atau rasa terisolasi dari dunia digital.
Selain itu, detoks tidak harus dilakukan dengan cara kaku. Beberapa orang mungkin memilih tidak menggunakan layar selama beberapa jam atau hari, sementara yang lain mengurangi penggunaan media sosial secara bertahap. “Anda bisa menentukan bentuk detoks yang sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.
