Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Important News: Psikolog bagikan kiat cegah “victim blaming” di media sosial

Published 01/07/2026 · Updated 01/07/2026 · By Rina Hakim

Psikolog Berikan Panduan untuk Mengurangi "Victim Blaming" di Media Sosial

Important News -

Jakarta – Dalam upaya menekan praktik victim blaming yang sering terjadi di ruang digital, psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog, memberikan sejumlah strategi untuk meminimalkan kecenderungan menyalahkan korban kekerasan. Menurutnya, kesadaran akan empati sangat penting saat menanggapi berbagai kasus kekerasan, terutama dalam hubungan yang ramai dibahas di media sosial. Psikolog yang lulus dari Universitas Indonesia ini menekankan bahwa tanpa pemahaman mendalam tentang konteks yang dialami korban, komentar atau respons yang diberikan bisa jadi memperburuk situasi.

Empati sebagai Pilar Penting

Gisella mengungkapkan, dalam memproses informasi tentang kasus kekerasan, masyarakat perlu memfokuskan perhatian pada empati. "Tindakan baik, seperti berkomentar atau memberikan pendapat, seharusnya tidak menambah kesulitan korban. Jadi, sebelum mengetik sesuatu, kita perlu berpikir kembali apakah komentar tersebut benar-benar bisa membantu," ujarnya. Psikolog ini menjelaskan bahwa empati membantu mengurangi bias dan persepsi yang salah, terutama ketika kasus tersebut dianggap sebagai kejadian yang sederhana atau bisa diatasi dengan cara yang mudah.

Menurutnya, banyak orang cenderung menyalahkan korban karena kurangnya pemahaman terhadap dinamika hubungan yang kompleks. Contohnya, dalam kasus kekerasan fisik atau psikologis, korban sering kali terjebak dalam situasi yang tidak terlihat dari luar. "Kita sering mengira 'jika saya dalam kondisi seperti itu, saya pasti langsung kabur'. Namun, dalam konteks relasi yang penuh kekerasan, korban mungkin merasa terpaku karena manipulasi, dominasi, atau tekanan dari pelaku," tambah Gisella.

Kiat untuk Membangun Komentar yang Lebih Empatik

Menyikapi kasus kekerasan di media sosial, Gisella menyarankan beberapa langkah yang bisa diterapkan. Pertama, ia menekankan pentingnya membaca kembali kalimat yang telah diketik sebelum diposting. "Ini bisa menjadi langkah kecil, tetapi efektif dalam menghindari pemberian komentar yang memicu perasaan bersalah pada korban," katanya. Kedua, mengajak diri sendiri untuk membayangkan posisi korban. Dengan cara ini, setiap orang bisa lebih sensitif terhadap perasaan dan pengalaman yang dialami oleh korban.

Ketiga, masyarakat perlu melakukan evaluasi terhadap emosi pribadi yang muncul saat membaca berita atau cerita kekerasan. "Misalnya, ketika kita merasa terduga atau tidak terima, kita harus berpikir bagaimana reaksi kita bisa memengaruhi korban," jelas Gisella. Ia menambahkan, kesadaran akan emosi pribadi ini bisa membantu mencegah respons yang reaktif dan mudah menyalahkan tanpa mempertimbangkan konteks.

Victim Blaming di Berbagai Konteks

Psikolog ini juga menyoroti bahwa victim blaming tidak hanya terjadi dalam kasus kekerasan fisik, tetapi juga dalam berbagai bentuk hubungan. "Bahkan dalam kasus ekstrem, seperti kekerasan seksual atau emosional, masyarakat masih sering menyalahkan korban," katanya. Hal ini berdampak pada persepsi publik terhadap korban, sehingga membuat mereka merasa tidak didukung atau malah dituduh melakukan kesalahan.

Dalam kasus kekerasan, kesalahan sering kali disalahkan pada korban karena kurangnya pemahaman tentang peran pelaku dan dampak psikologis yang mereka alami. "Misalnya, korban mungkin merasa 'saya tidak bisa membeda-bedakan antara cinta dan penganiyaan'. Atau, pelaku memanipulasi dengan mengatakan 'kamu sendiri yang terlalu lembut' atau 'kamu terlalu sering menuntut'," tutur Gisella. Dengan memahami bahwa kekerasan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, masyarakat bisa lebih bijak dalam menanggapinya.

Komentar yang Menginspirasi, Bukan Menyalahkan

Komentar di media sosial memiliki dampak besar, terutama dalam memperkuat stigma terhadap korban. Gisella menyarankan untuk menggunakan bahasa yang lebih konstruktif dan memberikan dukungan. "Misalnya, kalau kita melihat korban kekerasan, kita bisa membagikan cerita atau mengajak orang lain untuk merenungkan situasi, bukan langsung menyalahkan mereka," ujarnya.

Lebih lanjut, psikolog ini juga mengingatkan bahwa berbagai faktor seperti kebutuhan ekonomi, kontrol emosional, atau motif seksual sering kali menjadi penyebab kekerasan yang tidak terlihat. "Orang-orang yang belum pernah mengalami hubungan berkekerasan sering kali menganggap 'kan logikanya, kalau disakiti pasti menjauh'. Namun, di balik itu, ada dinamika yang kompleks dan berbagai alasan yang membuat korban terjebak dalam situasi yang memperparah penderitaan mereka," katanya.

Peran Media Sosial dalam Menyebarluaskan Kekerasan

Dalam era digital, media sosial menjadi tempat yang mudah menyebarluaskan berita kekerasan, baik yang benar maupun yang dibelit. Gisella mengatakan, kesadaran akan empati dan pengetahuan tentang dinamika hubungan harus ditekankan agar masyarakat tidak mudah mengambil sisi yang salah. "Dengan memahami bahwa korban bisa mengalami perasaan takut, lelah, atau bahkan tidak percaya diri, kita bisa menghindari komentar yang memperparah trauma mereka," jelas psikolog yang berpraktik di Jakarta.

Menurutnya, proses pemikiran yang tepat sebelum menanggapi suatu kasus adalah kunci. "Jika kita bisa mengambil waktu untuk mempertimbangkan perspektif korban, kita bisa memberikan dukungan yang lebih tepat. Ini bisa menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan inklusif," pungkas Gisella. Ia berharap langkah-langkah ini bisa dilakukan secara rutin untuk membentuk pola pikir yang lebih empatik dan mengurangi stigma terhadap korban kekerasan.

Victim blaming di media sosial sering kali berakar dari kesenjangan pemahaman antara pelaku dan korban. Dengan meningkatkan kesadaran melalui empati, masyarakat bisa berperan sebagai penyebar informasi yang lebih berimbang. Gisella menegaskan bahwa perubahan kecil, seperti membaca kembali komentar atau mempertimbangkan perasaan korban, bisa menjadi langkah besar dalam mencegah kecenderungan menyalahkan. "Kita perlu berani mengakui bahwa kekerasan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, dan korban tidak selalu bersalah," kata dia.

Dengan berupaya lebih memahami dinamika kekerasan, masyarakat bisa membantu korban merasa didukung. Gisella menambahkan, media sosial seharusnya menjadi wadah untuk mendorong kesadaran, bukan justru memperburuk kondisi korban. "Kita bisa memulai dari diri sendiri, dengan mengedepankan empati dan berani mengambil waktu untuk memikirkan ulang setiap komentar yang diberikan," tutupnya.