Pembahasan Penting: Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan
Perempuan Cirebon Jadi Korban TPPO, KDM Video Call dan Janji Akan Pulangkan
Dalam upaya menangani kasus perdagangan orang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memulai komunikasi langsung dengan Vina, seorang perempuan asal Cirebon yang terjebak di Tiongkok. Panggilan video lewat WhatsApp berlangsung pada hari Sabtu (28/2) dan berlangsung selama 25 menit. Selama sesi tersebut, Vina membagikan cerita lengkap tentang perjalanan hidupnya yang terancam di luar negeri.
Kepala daerah itu menyampaikan dukungan dan mengingatkan Vina untuk berbicara jujur. Ia juga memberikan peneguhan saat melihat kesalahan dalam proses penyelundupan. “Dia (KDM) sempat marahin Vina, katanya kenapa mau ya. Tapi Vina terima, karena memang ada kesalahan Vina juga,” jelas Vina, Sabtu (28/2). Ia menegaskan keinginannya hanya satu, yakni kembali ke Indonesia.
“Katanya tenang aja, kamu bakal dijemput orang KBRI. Semangat, kamu masih punya pemimpin di Jawa Barat,”
ujar Vina menirukan ucapan KDM, yang dalam acara Safari Ramadan bertajuk ‘Tarling Neuleuman Poekna Peuting’ di Lapangan Mandala Giri, Desa Kedungjaya, Sabtu (28/2) malam, menegaskan komitmen untuk menyelesaikan kasus Vina.
Kronologi Penipuan yang Dialami Vina
Sebelumnya, Hengki Maulana, perwakilan keluarga Vina, menceritakan perjalanan memilukan yang dialami adiknya. Peristiwa ini dimulai pada Mei 2024 saat Vina bekerja di kawasan PIK, Jakarta Utara. Ia sempat berkenalan dengan seorang warga negara Tiongkok bernama Zhang Haibo, yang merupakan teman kerabat bosnya.
Zhang mulai menggoda Vina, mengambil gambar diam-diam, hingga menawarkan jodoh dengan pria asal Tiongkok. Awalnya Vina tidak memperhatikan, tetapi setelah terus didesak dan merasa bersalah karena pihak terlibat adalah rekan kerja bosnya, ia setuju bertemu di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Pusat. Pertemuan itu menjadi awal dari perjalanan berbahaya.
Dalam penjelasan Hengki, para pelaku—yang mencakup Zhang Haibo, Nisa (WNI), Susi, dan Herman—diduga sebagai agen perjodohan. Mereka mengaku sebagai keluarga mempelai Wang Jun dan menjanjikan kualitas hidup serta penghasilan bulanan bagi keluarga di Indonesia. Mahar Rp 100 juta dikirimkan pada 5 Agustus 2025, sebelum Vina diberangkatkan ke Tiongkok pada 7 Agustus 2025.
“Mereka berjanji akan menikahkan Vina secara syariat Islam di Jakarta. Tapi nyatanya, Vina langsung dibawa terbang ke China,”
lanjut Hengki. Setiba di sana, Vina mengalami kejadian buruk. Ia menyadari bahwa Wang Jun memiliki kondisi autis. Ketika meminta pulang dan bersedia mengembalikan mahar, ayah mertuanya meminta ganti rugi Rp 500 juta.
Vina dikurung, paspornya disita, dan dipaksa memenuhi kebutuhan seksual Wang Jun. Jika menolak, ia mengalami kekerasan fisik. “Saya pernah berontak dan kabur ke kantor polisi Fuyang. Tapi di sana saya justru dijemput paksa, diseret, dan dipukuli oleh mertua di depan polisi. Pihak polisi di sana malah memalingkan wajah,” tulis Vina dalam pesan tertulisnya di Beijing, 8 Desember 2025.
Dedi Mulyadi juga mengkritik kelemahan perempuan Jawa Barat dalam terjebak janji pernikahan dengan mahar tinggi. “Banyak sekali perempuan Jawa Barat ini yang mudah terbujuk oleh satu, janji uang; dua, janji dinikahi dengan mahar yang mahal,” ujarnya. Dengan nada satire, ia membandingkan janji palsu tersebut dengan janji politisi yang sering kali tak ditepati.
“Pada akhirnya seluruh janji itu tidak ditepati seperti janjinya politisi. Tepuk tangan! Saya politisi,”
kelakarnya disambut tawa dan tepuk tangan dari ribuan warga. Gubernur memastikan bahwa langkah evakuasi akan dilakukan segera setelah data yang diberikan oleh Vina disampaikan ke Bupati.
