Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: AS-Filipina bahas upaya majukan perdamaian di Laut China Selatan

Published 06/06/2026 · Updated 06/06/2026 · By Dewi Firmansyah

AS dan Filipina Diskusikan Upaya Memperkuat Perdamaian di Laut China Selatan

Topics Covered - Washington, D.C. - Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, dan Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa Lazaro, berlangsung di Washington pada Jumat (5/6) untuk membahas strategi dalam mendorong perdamaian di Laut China Selatan. Selain topik utama mengenai kawasan kontroversial tersebut, kedua diplomat juga menyelaraskan prioritas ekonomi dan keamanan bilateral, serta menjajaki kemungkinan peningkatan kolaborasi di tengah peran Filipina sebagai ketua Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tahun ini, seperti diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Sebagai negara anggota ASEAN yang terdiri dari 11 negara, Filipina dianggap sebagai pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar dalam menyelesaikan sengketa wilayah di kawasan Asia Tenggara. Menlu AS menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat untuk mempercepat pengembangan Koridor Ekonomi Luzon, sebuah inisiatif infrastruktur trilateral yang dirintis bersama Jepang dan Filipina pada April 2024. Inisiatif ini bertujuan mengakselerasi investasi di sektor kritis di Pulau Luzon, yang merupakan salah satu pusat ekonomi utama di Indonesia.

Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa diskusi juga mencakup peran penting Filipina dalam menjaga stabilitas regional melalui kerja sama maritim. Menlu Lazaro menyatakan bahwa pertemuan dengan Rubio membawa hasil yang bermakna, dengan fokus pada penguatan diplomasi ekonomi dan harmonisasi upaya mengatasi tantangan energi yang mengemuka di Laut China Selatan. “Kami berdiskusi tentang berbagai aspek kemitraan strategis, termasuk kerja sama dalam bidang ekonomi, keamanan, dan diplomasi,” tulis Lazaro di media sosial X.

“Dialog kami berfokus pada penguatan diplomasi ekonomi. Kami juga menegaskan kembali kerja sama maritim kami yang kuat dan komitmen bersama untuk menjaga perdamaian dan stabilitas regional, menekankan pentingnya saluran diplomatik untuk meredakan ketegangan,” tulis Lazaro.

Menlu Rubio menekankan bahwa aliansi Amerika Serikat-Filipina merupakan fondasi penting dalam menjaga keamanan kawasan Asia-Pasifik. Ia mengatakan bahwa negara-negara sekutu ini memiliki sejarah kerja sama yang telah berlangsung selama 75 tahun, sejak membangun hubungan militer yang kuat. Dalam pertemuan tersebut, ia juga menyebut bahwa hubungan diplomatik antara kedua negara akan mencapai 80 tahun pada 2026, sebagai bentuk penghormatan terhadap konsistensi dan kepercayaan yang terbangun.

Koridor Ekonomi Luzon, yang diluncurkan sebagai inisiatif bersama AS, Jepang, dan Filipina, diharapkan menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Inisiatif ini menargetkan perbaikan infrastruktur kritis, termasuk jalan raya, pelabuhan, dan fasilitas energi, dengan harapan mengurangi ketergantungan pada negara-negara lain dan meningkatkan daya saing kawasan.

Selain itu, Rubio menyoroti pentingnya dukungan terhadap upaya Filipina dalam menyelesaikan perselisihan batas laut dengan negara-negara tetangga. Menlu Lazaro mengakui bahwa pertemuan tersebut membuka peluang untuk menguatkan koordinasi dalam menangani isu-isu geopolitik yang kompleks di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa Filipina akan memperkuat posisinya sebagai kekuatan diplomatik yang aktif di ASEAN.

Laut China Selatan, yang merupakan area sengketa wilayah antara Tiongkok, Filipina, Vietnam, dan negara-negara lain, menjadi perhatian utama dalam kebijakan luar negeri kedua negara. Tiongkok dikenal sebagai pemain utama yang mengklaim wilayah laut tersebut secara eksklusif, sementara Filipina dan negara-negara ASEAN berusaha menjaga keseimbangan melalui mekanisme multilateral. Dalam konteks ini, kemitraan AS-Filipina dianggap sebagai pilar utama dalam menghadapi tuntutan Tiongkok.

Menlu AS menyoroti bahwa konsistensi kerja sama bilateral akan memberikan dampak besar dalam mengurangi ketegangan di kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa pendekatan diplomatik harus didukung oleh kekuatan militer dan ekonomi, agar negosiasi bisa berjalan efektif. “Kami percaya bahwa stabilitas Laut China Selatan akan mencapai titik puncak jika semua pihak berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan secara damai,” ujar Rubio dalam pernyataan resmi.

Dalam konteks ekonomi, Luzon Economic Corridor berpotensi meningkatkan koneksi logistik dan perdagangan antar kota-kota di Pulau Luzon. Program ini juga bertujuan menarik investasi asing untuk membangun fasilitas baru, seperti pusat industri dan energi terbarukan, yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa diskusi mengenai inisiatif ini dilakukan dalam rangka memastikan bahwa pengembangan ekonomi tidak merugikan kepentingan regional.

Komitmen untuk menjaga perdamaian di Laut China Selatan juga menjadi isu yang diangkat dalam pertemuan tersebut. Menlu Lazaro menambahkan bahwa diskusi membahas bagaimana kerja sama antara AS dan Filipina dapat berkontribusi pada stabilisasi hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara. Ia juga menyebut bahwa Filipina akan memanfaatkan peran kepemimpinan ASEAN untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara lain dalam menghadapi isu-isu yang mengancam ketahanan kawasan.

Sebagai sekutu militer tertua AS di Asia-Pasifik, Filipina memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan wilayah. Pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali kesepakatan bilateral, termasuk pertukaran informasi intelijen dan bantuan militer. “Kami berharap bahwa kerja sama ini akan terus berkembang, baik dalam isu keamanan maupun ekonomi,” tulis Rubio dalam pernyataan yang diterbitkan setelah pertemuan.

Dengan diperkuat oleh pertemuan antara dua menlu, harapan meningkatkan dialog antara AS dan Filipina dalam menyelesaikan konflik di kawasan Laut China Selatan menjadi semakin jelas. Kedua pihak sepakat bahwa pendekatan bersama adalah kunci untuk menciptakan suasana yang lebih tenang dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Pertemuan tersebut juga menjadi wadah untuk menyampaikan kepentingan Filipina dalam menghadapi perubahan kebijakan Tiongkok terkait klaim wilayah.

Menlu Lazaro menambahkan bahwa hasil dari pertemuan ini akan menjadi dasar untuk peningkatan kolaborasi di tingkat regional dan global. Ia menggarisbawahi bahwa Filipina akan memprioritaskan penyelesaian sengketa melalui mekanisme multilateral, sekaligus menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga. “Kami ingin memastikan bahwa Laut China Selatan menjadi zona perdamaian dan kesejahteraan, bukan tempat konflik yang tak berkesudahan,” tutur Lazaro.

Dengan berbagai langkah konkret yang dijajaki, pertemuan antara AS dan Filipina diharapkan menjadi titik awal pengembangan kemitraan yang lebih erat. Kedua negara sepakat bahwa upaya untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut tidak hanya penting untuk kedua