Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Platini ajukan gugatan pidana terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino

Published 10/06/2026 · Updated 10/06/2026 · By Rachmat Razi

Platini Ajukan Tuntutan Hukum terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino

Platini ajukan gugatan pidana terhadap Presiden - Dari Jakarta, mantan Presiden UEFA Michel Platini mengajukan tuntutan hukum terhadap Gianni Infantino, Presiden FIFA, di Prancis. Tuduhan yang dibawa Platini menyasar upaya Infantino untuk menghalangi partisipasinya dalam persaingan pemilihan Presiden FIFA. Laman Independent mengonfirmasi bahwa pengacara Platini, Olivier Baratelli, telah membenarkan adanya pengajuan gugatan tersebut, yang dilakukan hanya beberapa hari sebelum penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Dalam dokumen pengaduan, Infantino disebut sebagai salah satu pihak yang diduga terlibat dalam tindakan mempercepat pengusiran Platini dari kontestasi jabatan paling tinggi di Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

Konteks Gugatan dan Tuduhan Politik

Pengaduan Platini mencakup klaim bahwa Infantino dan sejumlah pihak lain secara sengaja mempercepat proses pengusiran dirinya dari kompetisi pemilihan Presiden FIFA. Dalam berkas tersebut, nama Infantino dituduh sebagai "paling utama" dalam upaya mengurangi kemungkinan Platini menang. Baratelli menegaskan bahwa gugatan ini berupa seruan hukum yang menyasar tindakan korupsi dan manipulasi sistem dalam konteks pemilihan kepala organisasi sepak bola dunia. Menurut pengacara, kasus ini mencerminkan konflik kepentingan yang terjadi dalam struktur kekuasaan FIFA, serta upaya untuk menggerogoti kredibilitas pelamar yang dianggap kompetitif.

"Pengaduan ini menunjukkan bahwa Infantino dan pihak-pihak terkait secara aktif menyingkirkan Platini dari pencalonan Presiden FIFA," kata Baratelli dalam pernyataannya.

Platini, yang pernah memimpin UEFA selama lima tahun, dianggap sebagai kandidat serius dalam pemilihan presiden FIFA pada 2016. Saat itu, ia dijuluki sebagai penerus Sepp Blatter, mantan presiden FIFA yang dikenal kontroversial. Namun, peluang Platini menghadapi krisis saat FIFA membuka penyelidikan etik terkait pembayaran dua juta Franc Swiss yang diterimanya dari Blatter pada 2011. Pemeriksaan ini menyebabkan Platini dikenai sanksi larangan beraktivitas dalam sepak bola selama delapan tahun, yang kemudian dikurangi menjadi empat tahun oleh Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) setelah proses banding.

Kasus Pembayaran dan Proses Hukum di Swiss

Kasus pembayaran dua juta Franc Swiss terus berkembang hingga mencapai ranah pidana di Swiss. Meski dituduh menerima uang dari Blatter, Platini dan Blatter sendiri dinyatakan tidak bersalah oleh Pengadilan Kriminal Federal Swiss pada 2022. Putusan ini dikuatkan oleh pengadilan banding di Swiss pada 2025, yang menegaskan bahwa tidak ada bukti cukup untuk menyatakan keduanya melakukan kesalahan. Meski demikian, dugaan korupsi masih menjadi bahan perdebatan dalam konteks internal FIFA.

Platini berulang kali membela diri, menyatakan bahwa dana tersebut merupakan pembayaran tertunda atas jasa kerjanya sebagai penasihat Blatter selama periode 1998 hingga 2002. Ia menegaskan bahwa transaksi tersebut transparan dan sah, serta tidak memperkenalkan konflik kepentingan yang signifikan. Meski demikian, ia tetap dianggap sebagai tokoh yang pernah mengalami kejatuhan reputasi akibat kasus tersebut.

Pengaruh Gugatan terhadap Pemilihan FIFA

Isu yang diangkat Platini dalam gugatan hukum ini berpotensi memengaruhi dinamika pemilihan Presiden FIFA yang akan berlangsung pada 2026. Dengan mengungkapkan dugaan campur tangan Infantino, Platini mencoba menggiring opini publik untuk mendukung kandidatnya. Selain itu, gugatan ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan FIFA dalam memperkuat kepemimpinan Infantino. Pemilihan ini dianggap sebagai titik balik bagi organisasi yang sebelumnya dianggap tidak transparan dalam proses pengambilan keputusan.

Infantino, sejak menjabat sebagai presiden FIFA, berupaya memperkuat kredibilitasnya melalui reformasi struktur organisasi dan peningkatan keterbukaan. Namun, tuntutan Platini membawa kembali bayangan korupsi dan keterlibatan pribadi dalam keputusan penting. Dalam konteks ini, gugatan dianggap sebagai bagian dari perang politik internal FIFA yang berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Dua tokoh utama, Platini dan Infantino, secara aktif bersaing untuk menguasai kekuasaan paling tinggi di organisasi tersebut.

Kontroversi dan Perkembangan Terkini

Kasus ini juga memicu diskusi mengenai keadilan dalam proses hukum FIFA. Meski Platini dan Blatter dinyatakan tidak bersalah di Swiss, banyak pihak menganggap proses ini masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Baratelli menyebutkan bahwa gugatan Platini mengungkap cara FIFA menggunakan mekanisme hukum untuk mempercepat pengusiran tokoh-tokoh yang dianggap mengancam dominasi Infantino.

Di sisi lain, FIFA belum memberikan respons resmi terhadap tuntutan Platini. Hal ini menimbulkan kebingungan mengenai keputusan organisasi tersebut dalam menghadapi seruan hukum dari mantan pemimpinnya. Beberapa analis sepak bola menilai bahwa gugatan ini berdampak pada kepercayaan publik terhadap FIFA, terutama setelah keterlibatan korupsi yang diungkapkan sebelumnya. Dengan menuntut Infantino, Platini mengharapkan pengakuan atas ketidakadilan yang dialaminya dalam perjalanan kariernya.

Proses gugatan di Prancis sekarang menjadi fokus perhatian internasional, terutama bagi pemilih FIFA yang terlibat dalam pemilihan presiden. Dengan menggunakan mekanisme hukum domestik, Platini mencoba memperkuat klaimnya bahwa Infantino melakukan tindakan yang tidak adil. Sementara itu, Infantino berupaya membela diri dengan menegaskan bahwa keputusan pemilihan FIFA didasari pertimbangan objektif dan transparan.

Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan di FIFA bisa berubah berdasarkan perdebatan politik dan hukum. Meski Platini sudah dianggap tidak bersalah dalam kasus pembayaran, ia tetap menilai bahwa pihak-pihak tertentu menggunakan pengadilan untuk menghabiskan waktu dan sumber daya organisasi. Dengan mengajukan gugatan, Platini mencoba memperbaiki reputasinya dan menggugat kebijakan FIFA dalam menegakkan hukum.

Impak pada Sepak Bola Dunia

Kasus ini juga menjadi bahan pembelajaran bagi sepak bola dunia mengenai pentingnya transparansi dalam proses kepengurusan. Beberapa pelaku industri sepak bola menilai bahwa tuntutan Platini menunjukkan bagaimana kekuasaan dalam FIFA bisa menjadi sumber konflik yang memengaruhi keberlanjutan olahraga tersebut. Pemilihan presiden yang akan datang dilihat sebagai kesempatan