Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Wamenlu: Komunikasi RI-Iran terus berjalan terkait dua kapal Pertamina

Published 11/06/2026 · Updated 11/06/2026 · By Ayu Saraswati

Wamenlu: Komunikasi RI-Iran terus berjalan terkait dua kapal Pertamina

Main Agenda - Jakarta - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, menyatakan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran masih aktif dalam upaya menyelesaikan masalah dua kapal tanker Pertamina yang terjebak di sekitar Selat Hormuz. "Kita terus berkomunikasi dengan otoritas Iran, baik melalui diskusi langsung maupun koordinasi dengan pihak terkait," jelas Havas setelah menghadiri rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (11/6). Ia menegaskan bahwa pihak Indonesia tidak menghentikan upaya untuk membantu kedua kapal tersebut melewati wilayah yang menjadi sumber ketegangan.

Situasi Terkini Kapal Pertamina

Kedua kapal tanker Pertamina yang beroperasi di bawah PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga saat ini belum dapat melintasi Selat Hormuz karena ancaman dari konflik geopolitik yang berlangsung di kawasan tersebut. Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengangkutan minyak mentah global, kini menjadi lokasi paling rentan terhadap gangguan karena aksi militer dan sanksi ekonomi yang terus meningkat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Havas menyebutkan bahwa posisi kapal-kapal tersebut masih terpantau, dan pihak Indonesia berharap situasi akan membaik dalam beberapa hari ke depan.

Upaya Pemerintah Indonesia

Dalam pernyataannya, Havas menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia terus memantau kondisi dua kapal tersebut dengan sangat hati-hati. "Kita melakukan komunikasi aktif dengan pihak Iran untuk mencari jalan keluar, meskipun situasi di sekitar Selat Hormuz masih tidak stabil," ujarnya. Menurutnya, keberhasilan penyelesaian kasus ini tergantung pada kesepakatan antara semua pihak terkait, termasuk ketersediaan sumber daya dan koordinasi yang selaras antara otoritas kedua negara. Ia juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional dalam mencegah gangguan terhadap jalur perdagangan maritim.

Faktor Utama Penghambat

Menurut Havas, salah satu kendala utama dalam upaya melewatkan kedua kapal adalah keputusan perusahaan asuransi. "Banyak perusahaan asuransi enggan menanggung risiko kapal yang melewati Selat Hormuz selama ada ketegangan di wilayah tersebut," imbuhnya. Ia menjelaskan bahwa perusahaan asuransi masih bersedia memberikan perlindungan saat kapal berada di daerah yang dianggap relatif aman, tetapi cenderung memperketat aturan atau menolak memberikan jaminan jika area yang dilewati dianggap berbahaya. Faktor ini memengaruhi kemungkinan kapal-kapal tersebut dilanjutkan perjalanannya.

Pertimbangan dalam Pelayaran

Di samping asuransi, keputusan untuk melanjutkan pelayaran kapal juga bergantung pada pertimbangan nakhoda dan pemilik kargo. "Nakhoda kapal harus mengevaluasi risiko secara real-time, sementara pemilik kargo lebih menekankan keamanan awak dan muatan," kata Havas. Ia menekankan bahwa semua pihak, mulai dari otoritas maritim hingga perusahaan pengangkut, harus mencapai kesepakatan terkait keamanan. "Tidak hanya soal jaminan dari pemerintah, tetapi juga konsensus antar-sektor, karena semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan perjalanan kapal dapat berlangsung lancar," tambahnya.

Kondisi Politik dan Kebijakan Internasional

Menurut Havas, progres penyelesaian masalah ini sangat dipengaruhi oleh dinamika keamanan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. "Jika kondisi politik di kawasan tersebut memanas dan terjadi eskalasi, kita harus menunggu dan melihat situasinya, terkadang terpaksa menunda perjalanan," ujarnya. Ia menyoroti bahwa konflik antara tiga negara tersebut tidak hanya mengancam keamanan kapal Pertamina, tetapi juga memengaruhi alur perdagangan global. Selat Hormuz menjadi jalur kritis bagi pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke pasar internasional, dan gangguan di sana bisa menyebabkan kenaikan harga energi atau ketegangan geopolitik yang lebih luas.

Negosiasi yang Berlangsung

Sebelumnya, pada 22 April, Menteri Luar Negeri RI Yudo M. Sumarto mengungkapkan bahwa negosiasi terkait dua kapal Pertamina tersebut masih berjalan. "Proses penyelesaian ini menjadi kompleks karena dinamika politik internal Iran yang terus berubah," kata Sumarto. Ia menambahkan bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Iran sering kali tidak segera diimplementasikan di lapangan, sehingga memerlukan penyesuaian strategi dari tim diplomatik Indonesia. "Kita sedang mencari solusi yang bisa dipertanggungjawabkan, baik melalui dialog maupun mekanisme internasional lainnya," ujarnya.

Dalam perjalanan melewati Selat Hormuz, dua kapal tersebut telah terjebak sejak beberapa minggu terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak ke Indonesia, terutama karena Pertamina merupakan perusahaan pengangkut utama energi negara. Havas menegaskan bahwa pihak Indonesia tidak ingin mengganggu keberlanjutan kegiatan ekspor minyak, tetapi juga harus memastikan keamanan kapal dan muatannya. "Kita sed