Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Iran tegaskan dialog dengan AS di Swiss berlanjut meski diancam Trump

Published 23/06/2026 · Updated 23/06/2026 · By Sari Rahman

Iran Tegaskan Perundingan dengan AS di Swiss Tetap Berjalan Meski Terancam Trump

Key Discussion - Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan pada Senin (22/6), Esmaeli Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, menegaskan bahwa dialog antara Iran dan AS di Swiss tidak terganggu oleh ancaman yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump. Meskipun ada tekanan dari pihak Trump, Baghaei menyatakan bahwa proses perundingan tetap berlangsung lancar dan tanpa hambatan. Perundingan teknis antara Iran dan AS, yang diawasi oleh Pakistan dan Qatar sebagai mediator, terjadi di kawasan resor Burgenstock, Swiss, pada hari Minggu (21/6).

Trump Ancam Serang Iran Jika Lebanon Tidak Berhenti Menciptakan Gangguan

Sehari sebelum perundingan di Swiss, Trump mengunggah pesan di platform Truth Social yang berisi ancaman untuk kembali menyerang Iran jika Teheran tidak memaksa sekutunya di Lebanon untuk berhenti "menciptakan masalah". Pernyataan ini langsung menyebabkan reaksi tajam dari pihak Iran. Delegasi negara tersebut meninggalkan ruangan perundingan saat berita ancaman Trump tersebar, dan mereka menyatakan bahwa tidak akan kembali ke meja negosiasi kecuali Trump meminta maaf atas ucapan yang dianggap sebagai ancaman.

"Namun, para perantara tetap menjalankan komunikasi dan berbagi pendapat," kata Baghaei, menjelaskan bahwa meskipun delegasi Iran memutuskan untuk keluar, pihak-pihak yang bertindak sebagai mediator tidak menghentikan proses diskusi.

Perundingan di Burgenstock dianggap sebagai langkah penting dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung sejak awal tahun. Namun, ancaman Trump memicu ketegangan di tengah proses negosiasi. Pernyataan Trump itu dianggap sebagai pengingat bahwa kebijakan luar negeri AS terhadap Iran masih sangat kaku, bahkan sebelum konsultasi di Swiss. Baghaei menyebut bahwa keputusan delegasi Iran untuk meninggalkan ruangan terjadi setelah media mengabarkan ancaman tersebut pada waktu istirahat singkat yang diambil selama sesi negosiasi.

Konflik Militer Iran dan AS Berlangsung Selama 28 Hari

Sebelumnya, pada hari yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan bahwa delegasi Iran tetap berada di ruangan perundingan, berbeda dengan pernyataan publik yang menyebutkan kesiapan mereka untuk keluar. Hal ini menciptakan perbedaan antara narasi internal dan eksternal yang disampaikan oleh pihak AS. Sementara itu, media lokal melaporkan bahwa keputusan untuk meninggalkan ruangan didasarkan pada ancaman Trump yang memaksa mereka untuk menilai kembali keputusan partisipasi.

"Pada waktu istirahat singkat di tengah diskusi, media mengabarkan ancaman dari Trump," ujar Baghaei, menambahkan bahwa delegasi Iran memutuskan untuk keluar sebagai respons terhadap pernyataan tersebut.

Di sisi lain, dokumen penting telah ditandatangani antara Iran dan AS pada malam 18 Juni, yang mengatur pengakhiran konflik militer yang dimulai pada 28 Februari. Menurut laporan, memorandum jarak jauh ini mencakup beberapa ketentuan kunci, termasuk pembatasan waktu bagi AS untuk mencabut blokade yang diberlakukannya terhadap pelabuhan Iran. Sementara Iran diminta untuk mengembalikan pelayaran di Selat Hormuz dalam jangka waktu tertentu.

Signifikansi Perundingan di Swiss dalam Konteks Hubungan Iran-AS

Perundingan di Swiss menjadi momen krusial dalam hubungan diplomatik antara Iran dan AS yang sempat memanas akibat sanksi dan tekanan ekonomi. Baghaei menegaskan bahwa pihak Iran tetap berkomitmen untuk mencari solusi damai, meskipun ancaman Trump menggantungkan hasilnya. Ia juga menyoroti bahwa perantara seperti Pakistan dan Qatar berperan penting dalam memastikan diskusi tetap berjalan meskipun ada tekanan dari pihak AS.

"Meskipun ancaman tersebut, para perantara tetap menjalankan komunikasi dan berbagi pendapat," kata Baghaei, yang menekankan bahwa kesepakatan antara Iran dan AS tetap menjadi prioritas, terlepas dari perbedaan pendapat dalam penafsiran ancaman Trump.

Dalam konteks terkini, perundingan di Burgenstock dianggap sebagai tanda keinginan Iran untuk memperkuat kembali dialog dengan AS setelah serangkaian pertukaran sanksi dan ancaman yang dikeluarkan oleh Trump. Meski begitu, pihak Iran tetap menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerah kepada tekanan dan akan mempertahankan sikap diplomatik. Baghaei mengatakan bahwa persyaratan untuk kembali ke meja negosiasi akan terpenuhi setelah Trump memberikan kesan yang lebih lembut terhadap pernyataan-pernyataan yang dianggap sebagai ancaman.

Persiapan dan Harapan dari Kedua Pihak

Menurut sumber di kementerian luar negeri Iran, delegasi dari kedua negara mempersiapkan perundingan dengan sangat matang. Dalam sesi tersebut, mereka berfokus pada isu-isu kritis seperti kebebasan navigasi di Selat Hormuz, status blokade, dan hubungan diplomatik yang terganggu sejak Trump memulai kebijakan sanksi pada 2018. Baghaei juga menyoroti bahwa keberhasilan perundingan tersebut akan menjadi langkah awal dalam mengurangi ketegangan di Timur Tengah.

Konflik militer yang dimulai pada 28 Februari mencakup serangkaian serangan udara dan operasi militer yang menyebabkan kerusakan signifikan di wilayah Iran. Dengan ditandatanganinya memorandum pada 18 Juni, Iran dan AS sepakat untuk mengakhiri tahap ketegangan ini dan memulai proses perdamaian. Meski demikian, Baghaei mengingatkan bahwa keberhasilan perundingan di Swiss masih bergantung pada komitmen yang sama dari pihak AS untuk mengurangi tekanan terhadap Iran.

Sebagai penutup, Baghaei menegaskan bahwa meskipun ada ancaman, Iran tetap bersikeras untuk menyelesaikan masalah secara damai. Ia menambahkan bahwa perundingan di Swiss akan menjadi pengingat bahwa keinginan untuk dialog tetap ada, bahkan di tengah kondisi yang berat. Dengan demikian, perundingan ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi penyelesaian konflik yang lebih luas di Timur Tengah.