{"id":13795,"date":"2026-10-30T16:58:51","date_gmt":"2026-10-30T08:58:51","guid":{"rendered":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13795"},"modified":"2026-10-30T16:58:56","modified_gmt":"2026-10-30T08:58:56","slug":"tep-unhas-perkuat-mitigasi-abrasi-dan-tata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13795","title":{"rendered":"TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata kelola pesisir Lamundre"},"content":{"rendered":"<h2>Warga Lamundre Bangun Perlindungan Pantai Lewat Pemecah Ombak dan Persemaian Tanaman<\/h2>\n<p>Bisadonasi.com &ndash; Upaya menghadapi abrasi di pesisir Desa Lamundre, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, diperkuat melalui kerja bersama warga, Tim Ekspedisi Patriot 2026 Kawasan Transmigrasi Anawua, Kementerian Transmigrasi, dan Universitas Hasanuddin. Program ini memadukan pembangunan pemecah ombak, penyediaan bibit tanaman pantai, serta penguatan tata kelola lingkungan di tingkat desa.<\/p>\n<p>Kegiatan tersebut dirancang sebagai langkah perlindungan pesisir yang tidak berhenti pada pembangunan fisik. Warga juga didorong untuk memiliki kapasitas dan kelembagaan yang dapat menjaga keberlanjutan rehabilitasi pantai dalam jangka panjang.<\/p>\n<h3>Dua Segmen Pemecah Ombak dari Bambu Duri<\/h3>\n<p>Masyarakat Lamundre secara gotong royong telah menyelesaikan dua bagian pemecah ombak. Segmen pertama membentang sepanjang 26 meter, sedangkan segmen lainnya memiliki panjang 20 meter. Keduanya dibuat dengan lebar 0,5 meter dan tinggi 1,2 meter.<\/p>\n<p>Dr Chairul Pao&#8217;tonan selaku Ketua TEP 2026 Kawasan Transmigrasi Anawua menjelaskan bahwa bambu duri dipilih sebagai material utama karena tersedia melimpah di kawasan transmigrasi. Pemanfaatan bahan lokal itu menjadi bagian dari pendekatan mitigasi abrasi yang dikembangkan bersama masyarakat.<\/p>\n<p>Keberadaan pemecah ombak diharapkan membantu mengurangi dampak gelombang terhadap garis pantai yang rentan. Selain menjadi sarana perlindungan, penggunaan bambu duri juga menunjukkan bahwa penanganan masalah pesisir dapat memanfaatkan sumber daya yang berada dekat dengan kehidupan warga.<\/p>\n<p>Bagi kawasan yang dihuni masyarakat di sekitar pantai, abrasi bukan hanya persoalan perubahan bentuk daratan. Ancaman itu dapat memengaruhi ruang tinggal, aktivitas sehari-hari, vegetasi pesisir, serta kondisi lingkungan yang menopang kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, perlindungan pantai membutuhkan keterlibatan warga sejak perencanaan hingga pemeliharaan program.<\/p>\n<h3>Persemaian Pude dan Ketapang<\/h3>\n<p>Selain membangun struktur penahan gelombang, TEP 2026 Kawasan Transmigrasi Anawua memfasilitasi pembuatan persemaian tanaman pelindung pantai. Jenis yang disiapkan adalah pude atau nyamplung, yang juga dikenal sebagai bintangur laut dengan nama ilmiah <em>Calophyllum inophyllum<\/em>, serta ketapang atau <em>Terminalia catappa<\/em>.<\/p>\n<p>Pilihan tanaman tersebut berasal dari aspirasi warga Desa Lamundre. Pude dan ketapang diarahkan untuk mendukung pemulihan pantai berpasir sekaligus memperkuat tutupan vegetasi di kawasan pesisir.<\/p>\n<p>Penanaman vegetasi pelindung memiliki arti penting dalam program rehabilitasi pantai. Pemecah ombak dapat memberi perlindungan fisik pada titik tertentu, sementara tanaman membantu membangun perlindungan alami secara bertahap. Kombinasi keduanya menjadi dasar bagi penanganan pesisir yang menyatukan infrastruktur sederhana, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p>Persemaian juga memberi kesempatan bagi warga untuk menyiapkan bahan tanam secara terencana. Dengan ketersediaan bibit di desa, kegiatan penghijauan tidak hanya bergantung pada pasokan dari luar kawasan dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan rehabilitasi setempat.<\/p>\n<h3>Forum Pengelola Pesisir Desa<\/h3>\n<p>Penguatan kelembagaan menjadi unsur lain dalam kegiatan ini. Rizal Pauzi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, menyampaikan dalam Focus Group Discussion bahwa rehabilitasi lingkungan perlu didukung perencanaan serta pengelolaan yang melibatkan desa.<\/p>\n<p>Aspek kelembagaan dipandang penting agar program lingkungan tidak semata berlangsung selama kegiatan berlangsung. Keterlibatan masyarakat dalam penyusunan arah pengelolaan dapat membantu memastikan perlindungan pesisir tetap menjadi perhatian setelah pembangunan awal dan penanaman dilakukan.<\/p>\n<p>Di Lamundre, pembentukan Forum Pengelola Pesisir Desa atau FPPD diharapkan menjadi wadah untuk menjaga kesinambungan program. Forum tersebut dapat menghubungkan kebutuhan warga dengan upaya perlindungan lingkungan pesisir, termasuk pemeliharaan pemecah ombak, pengembangan bibit, dan pengawasan kawasan pantai.<\/p>\n<p>Kepala Desa Lamundre, Agustian, menyambut kegiatan TEP 2026 karena dinilai sesuai dengan kebutuhan warga yang menghadapi ancaman abrasi. Ia menekankan bahwa isu pesisir memerlukan perhatian bersama, mengingat dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pantai.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami mendorong agar program ini dapat berjalan dengan baik. Wilayah pesisir memang perlu mendapat perhatian serius karena ancaman abrasi yang terus terjadi,\u201d ujarnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Harapan warga tidak berhenti pada pembangunan dua segmen pemecah ombak. Pembibitan tanaman pelindung pantai dan kehadiran FPPD diharapkan menjadi rangkaian langkah yang saling mendukung untuk menjaga lingkungan pesisir Desa Lamundre.<\/p>\n<p>Kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi dalam kegiatan ini memperlihatkan pentingnya penanganan abrasi yang berangkat dari kondisi lokal. Material yang tersedia, jenis tanaman yang dibutuhkan, serta peran warga dalam pengelolaan menjadi unsur yang menentukan keberlanjutan perlindungan pantai.<\/p>\n<p>Dengan pendekatan tersebut, upaya menjaga Lamundre diarahkan tidak hanya untuk merespons abrasi yang telah terjadi, tetapi juga membangun kesiapan desa dalam merawat kawasan pesisirnya secara berkelanjutan.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/bisadonasi.com\">Latest articles and updates: TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata?<\/summary>\n<p>TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata matter?<\/summary>\n<p>TEP Unhas perkuat mitigasi abrasi dan tata matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Upaya menghadapi abrasi di pesisir Desa Lamundre, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, diperkuat melalui kerja bersama warga, Tim Ekspedisi Patriot 2026<\/p>\n","protected":false},"author":15,"featured_media":13794,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[208],"tags":[],"class_list":["post-13795","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13795","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13795"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13795\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13796,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13795\/revisions\/13796"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13795"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13795"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13795"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}