{"id":13761,"date":"2026-10-29T07:03:09","date_gmt":"2026-10-28T23:03:09","guid":{"rendered":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13761"},"modified":"2026-10-29T07:03:15","modified_gmt":"2026-10-28T23:03:15","slug":"vivax-kina-dan-sumbangan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13761","title":{"rendered":"Vivax, Kina, dan sumbangan Indonesia untuk dunia"},"content":{"rendered":"<h2>Vaksin Vivax dan Peluang Indonesia Menjawab Tantangan Malaria Dunia<\/h2>\n<p>Bisadonasi.com &ndash; Indonesia sedang menyiapkan langkah baru dalam perang panjang melawan malaria: pengembangan vaksin malaria produksi dalam negeri yang menargetkan <em>Plasmodium vivax<\/em>. Upaya ini memiliki arti khusus, sebab parasit tersebut menjadi penyebab utama malaria di Asia Tenggara, sementara vaksin vivax belum tersedia di negara mana pun.<\/p>\n<p>Selepas rapat terbatas di Istana pada Selasa (27\/10), Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria menyampaikan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kemajuan riset vaksin malaria. Presiden meminta pengembangannya dipercepat. BRIN bekerja bersama Kementerian Kesehatan dan Bio Farma dengan harapan waktu pengembangan dapat dipangkas hingga tiga tahun dari jadwal normal.<\/p>\n<p>Target tersebut bukan sekadar agenda kesehatan nasional. Indonesia berpeluang menghadirkan kontribusi ilmiah bagi wilayah-wilayah dunia yang juga menghadapi malaria vivax. Selama ini, dua vaksin malaria yang telah memperoleh rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu RTS,S dan R21, dirancang untuk menghadapi <em>Plasmodium falciparum<\/em>. Jenis parasit ini sangat mematikan dan dominan di Afrika, tetapi perlindungannya tidak mencakup vivax.<\/p>\n<h3>Masalah yang terkonsentrasi di Papua<\/h3>\n<p>Kemajuan Indonesia dalam pengendalian malaria terlihat dalam cakupan wilayah bebas penularan. Hingga 2026, sekitar 80 persen kabupaten dan kota telah dinyatakan bebas malaria. Namun, keberhasilan itu belum merata. Sebanyak 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di Tanah Papua.<\/p>\n<p>Sepanjang 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 706.297 kasus malaria. Kenaikan angka ini perlu dilihat bersama penguatan pencarian kasus di lapangan serta pelaporan digital yang semakin tertib. Ketika petugas menemukan lebih banyak orang yang terinfeksi dan data masuk dengan lebih lengkap, gambaran beban penyakit pun menjadi lebih nyata.<\/p>\n<p>Di Papua, vivax bukan persoalan pinggiran. Kajian di Timika pada 2004\u20132005 menemukan bahwa 37 persen kasus malaria yang telah dikonfirmasi berasal dari infeksi vivax. Pada kelompok bayi berusia kurang dari satu tahun, vivax tanpa campuran parasit lain bahkan menjadi penyebab paling banyak.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut memperjelas mengapa vaksin yang sesuai dengan karakter malaria Indonesia menjadi penting. Arif Satria menekankan bahwa parasit malaria yang beredar di Indonesia memiliki karakteristik yang agak berbeda. Kebutuhan terhadap perlindungan khusus bagi vivax pun bukan hanya soal melengkapi pilihan vaksin dunia, melainkan menjawab risiko nyata bagi masyarakat di daerah dengan penularan tinggi.<\/p>\n<h3>Vivax bukan malaria ringan<\/h3>\n<p>Selama puluhan tahun, malaria vivax kerap dianggap lebih jinak dibandingkan falciparum. Pengalaman dari Papua memberi koreksi penting terhadap anggapan itu. Vivax yang resisten terhadap klorokuin pertama kali dilaporkan dari Papua pada 1989. Setelah itu, kawasan ini dikenal memiliki tingkat resistensi obat vivax yang sangat tinggi secara global.<\/p>\n<p>Riset lanjutan di rumah sakit Timika menghubungkan vivax multiresisten dengan malaria berat hingga kematian, terutama pada anak-anak kecil. Artinya, penyebutan vivax sebagai malaria ringan dapat menutupi bahaya yang sesungguhnya, khususnya ketika pengobatan menjadi semakin sulit karena parasit tidak lagi merespons obat tertentu.<\/p>\n<p>Vaksin tidak serta-merta menggantikan seluruh langkah pengendalian malaria. Penemuan kasus, diagnosis yang cepat, pengobatan yang tepat, pengendalian nyamuk, serta pencatatan kasus tetap menjadi bagian penting dari perlindungan masyarakat. Namun, vaksin yang mampu menutup celah terhadap vivax dapat menambah alat yang selama ini belum dimiliki Indonesia.<\/p>\n<h3>Dari kina hingga riset vaksin<\/h3>\n<p>Jejak malaria di kepulauan Indonesia juga tercatat dalam kisah Alfred Russel Wallace. Pada Februari 1858, antropolog ternama itu sakit malaria di sebuah gubuk di Dodinga, Halmahera. Tubuhnya bergantian menggigil dan berkeringat selama berhari-hari di desa kecil yang dikelilingi perbukitan rendah.<\/p>\n<p>Dalam keadaan demam, Wallace memikirkan gagasan tentang seleksi alam, menuliskannya, lalu mengirimkannya kepada Charles Darwin di Inggris. Makalah itu bertanda Ternate, sehingga teori evolusi lama dikaitkan dengan pulau rempah tersebut. Namun, catatan lapangan Wallace yang tersimpan di Linnean Society London menunjukkan bahwa ia berada di Halmahera sepanjang Februari dan baru pulang ke Ternate pada 1 Maret.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi demamnya, termasuk demam para pembantunya, Wallace mengandalkan kina. Obat dari tumbuhan itu menjadi pengingat bahwa sejarah ilmu pengetahuan dan perjuangan melawan malaria telah lama bersinggungan di Nusantara.<\/p>\n<p>Seabad kemudian, malaria masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi Indonesia yang baru merdeka. Pada 12 November 1959, Presiden Soekarno melakukan penyemprotan DDT, pestisida sintetis, di rumah warga Desa Kalasan, Yogyakarta. Peristiwa tersebut menandai dimulainya program pemberantasan malaria secara nasional dan kemudian dikenang sebagai Hari Kesehatan Nasional.<\/p>\n<p>Lima tahun sesudahnya, sekitar 63 juta penduduk telah mendapat perlindungan. Penyemprotan massal menjangkau rumah-rumah di Jawa, Bali, dan Lampung, sementara kawasan timur harus menunggu lebih lama untuk memperoleh hasil pengendalian yang setara.<\/p>\n<p>Perjalanan dari kina, penyemprotan DDT, hingga riset vaksin vivax menunjukkan bahwa malaria belum sepenuhnya menjadi masa lalu. Indonesia telah menekan penularan di banyak daerah, tetapi beban besar di Papua menuntut pendekatan yang lebih tajam. Jika vaksin vivax berhasil dikembangkan, manfaatnya dapat menjangkau kebutuhan dalam negeri sekaligus membuka sumbangan Indonesia bagi upaya global menghadapi malaria.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/bisadonasi.com\">Latest articles and updates: Vivax Kina dan sumbangan Indonesia<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Vivax Kina dan sumbangan Indonesia?<\/summary>\n<p>Vivax Kina dan sumbangan Indonesia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Vivax Kina dan sumbangan Indonesia matter?<\/summary>\n<p>Vivax Kina dan sumbangan Indonesia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia sedang menyiapkan langkah baru dalam perang panjang melawan malaria: pengembangan vaksin malaria produksi dalam negeri yang menargetkan Plasmodium<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13760,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[208],"tags":[],"class_list":["post-13761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13761"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13761\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13762,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13761\/revisions\/13762"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}