{"id":13469,"date":"2026-10-18T16:35:05","date_gmt":"2026-10-18T08:35:05","guid":{"rendered":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13469"},"modified":"2026-10-18T16:35:09","modified_gmt":"2026-10-18T08:35:09","slug":"museum-ntb-boyong-artefak-budaya-ke-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=13469","title":{"rendered":"Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah yang jauh dari museum"},"content":{"rendered":"<h2>Museum NTB Hadirkan Artefak Budaya untuk Siswa di Wilayah Jauh<\/h2>\n<p>Bisadonasi.com &ndash; Akses belajar tentang sejarah dan kebudayaan lokal kini dibawa lebih dekat kepada pelajar di wilayah pelosok Nusa Tenggara Barat. Museum Negeri NTB mengunjungi sekolah-sekolah yang berjarak jauh dari museum melalui program Museum Masuk Sekolah, sehingga anak-anak dapat melihat langsung koleksi warisan budaya tanpa harus melakukan perjalanan ke Mataram.<\/p>\n<p>Pada 14 Oktober 2026, rombongan Museum NTB mendatangi SDN Batu Pedang di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan tersebut membawa empat kotak yang memuat 15 artefak untuk diperkenalkan kepada murid-murid sekolah dasar.<\/p>\n<p>Program ini dirancang untuk memperluas kesempatan pendidikan budaya bagi siswa yang belum mudah mengunjungi museum. Kehadiran koleksi di ruang sekolah memberi pengalaman belajar yang lebih nyata, karena peserta tidak hanya mendengar penjelasan mengenai peninggalan masa lalu, tetapi juga mengamati bentuk dan fungsi benda-benda tersebut dari dekat.<\/p>\n<h3>Mengenalkan peninggalan leluhur sejak usia sekolah<\/h3>\n<p>Pamong Budaya Madya Museum NTB, Gunarti, menyampaikan bahwa kunjungan ke sekolah terpencil merupakan upaya agar generasi muda mengenal benda-benda yang berkaitan dengan sejarah daerah dan kehidupan leluhur mereka.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami ingin para siswa sekolah yang kami datangi bisa mengenal benda-benda milik nenek moyang mereka,\u201d ucap Gunarti dalam pernyataan di Mataram, Minggu.<\/p><\/blockquote>\n<p>Pengenalan warisan sejarah pada usia dini memiliki arti penting bagi pembentukan pemahaman budaya anak. Saat koleksi budaya diperlihatkan secara langsung, siswa dapat menghubungkan pelajaran di sekolah dengan lingkungan dan tradisi yang hidup di daerahnya. Mereka juga memperoleh ruang untuk bertanya mengenai benda-benda yang sebelumnya mungkin hanya dikenal melalui cerita keluarga atau buku pelajaran.<\/p>\n<p>Materi yang disampaikan tidak berhenti pada penjelasan artefak. Museum NTB juga mengajak murid mengikuti sesi mendongeng tentang seorang anak dengan rasa ingin tahu besar terhadap kebudayaan. Pendekatan cerita membantu kegiatan belajar terasa lebih dekat dengan pengalaman anak-anak, sekaligus memperkenalkan nilai penting dari rasa ingin tahu terhadap sejarah dan identitas sendiri.<\/p>\n<h3>Beragam koleksi dari keris hingga alat panen padi<\/h3>\n<p>Artefak yang dibawa ke SDN Batu Pedang menggambarkan beragam sisi kehidupan masyarakat pada masa lalu. Koleksi tersebut mencakup keris Lombok, takepan nabi haparas, serut kecil, pengikel, puset atau bor, tempat perhiasan, gelang tangan, teken ima, kawari, anjuk, sangket pondongan, alat pemanen padi ani-ani, serta pengepak padi.<\/p>\n<p>Keberadaan benda-benda itu menunjukkan bahwa peninggalan budaya tidak hanya berupa barang bernilai seni atau perlengkapan upacara. Sejumlah koleksi juga berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, kerajinan, penggunaan perhiasan, hingga kegiatan pertanian. Bagi siswa, ragam artefak tersebut dapat membuka pemahaman bahwa sejarah daerah tersimpan dalam banyak aspek kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Keris Lombok, misalnya, menarik perhatian sebagai salah satu benda bersejarah yang dikenal luas. Di sisi lain, alat seperti ani-ani dan pengepak padi menghadirkan gambaran mengenai perlengkapan yang digunakan dalam proses panen. Benda-benda kecil seperti tempat perhiasan, gelang tangan, atau serut turut memperlihatkan keterampilan dan kebutuhan masyarakat pada zamannya.<\/p>\n<p>Melalui kegiatan semacam ini, museum menjalankan fungsi pendidikan di luar gedung penyimpanan koleksi. Artefak tidak sekadar dipamerkan sebagai objek masa lalu, melainkan menjadi bahan percakapan yang dapat membantu anak memahami hubungan antara budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat di NTB.<\/p>\n<h3>Apresiasi dari sekolah dan kegembiraan siswa<\/h3>\n<p>Kepala SDN Batu Pedang, Murtam, menyambut baik pelaksanaan Museum Masuk Sekolah. Ia menilai kegiatan itu memberi kesempatan berharga bagi siswa untuk mendekati sejarah dan budaya lokal secara langsung, terutama bagi anak-anak yang tinggal di kawasan Gunung Piring.<\/p>\n<p>Lingkungan sekitar sekolah menyimpan kedekatan dengan kebudayaan daerah, tetapi tidak semua siswa telah mengenal warisan tersebut secara mendalam. Karena itu, kunjungan museum dapat menjadi pelengkap pembelajaran yang mempertemukan murid dengan benda-benda bersejarah yang relevan dengan identitas daerah mereka.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cAnak-anak kami akhirnya bisa memahami secara langsung sejarah dan budaya,\u201d kata Murtam.<\/p><\/blockquote>\n<p>Respons positif juga datang dari Annisa Ramadani, siswi kelas VI SDN Batu Pedang. Ia mengaku menikmati koleksi artefak dan dongeng yang disajikan dalam kegiatan tersebut. Penjelasan mengenai kisah di balik benda-benda yang dipamerkan membuat pengalaman melihat artefak menjadi lebih bermakna bagi para murid.<\/p>\n<blockquote><p>\u201cKami senang ada benda-benda bersejarah, seperti perhiasan, tempat perhiasan, dan juga keris,\u201d pungkas Annisa.<\/p><\/blockquote>\n<p>Antusiasme siswa memperlihatkan bahwa pembelajaran budaya dapat tumbuh melalui pengalaman sederhana, seperti mengamati benda bersejarah dan mendengarkan cerita tentang asal-usulnya. Dengan membawa koleksi ke sekolah, Museum NTB membantu menjembatani jarak antara ruang museum dan anak-anak yang perlu mendapat kesempatan setara untuk mengenal warisan budayanya.<\/p>\n<p>Kegiatan di SDN Batu Pedang juga menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berlangsung melalui perawatan artefak. Pengetahuan mengenai benda-benda peninggalan leluhur perlu diteruskan kepada generasi muda agar makna sejarah, keterampilan, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap dapat dikenali pada masa mendatang.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/bisadonasi.com\">Latest articles and updates: Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah?<\/summary>\n<p>Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah matter?<\/summary>\n<p>Museum NTB boyong artefak budaya ke sekolah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akses belajar tentang sejarah dan kebudayaan lokal kini dibawa lebih dekat kepada pelajar di wilayah pelosok Nusa Tenggara Barat. Museum Negeri NTB<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":13468,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[208],"tags":[],"class_list":["post-13469","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-humaniora"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13469","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13469"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13469\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13470,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13469\/revisions\/13470"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13468"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13469"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13469"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13469"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}