{"id":11953,"date":"2026-08-30T22:52:54","date_gmt":"2026-08-30T22:52:54","guid":{"rendered":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=11953"},"modified":"2026-08-30T22:53:05","modified_gmt":"2026-08-30T22:53:05","slug":"miftachul-akhyar-kembali-jabat-rais-aam-nu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bisadonasi.com\/?p=11953","title":{"rendered":"Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU"},"content":{"rendered":"<h2>KH Miftachul Achyar Lanjutkan Amanah Kepemimpinan Tertinggi NU untuk Periode 2026\u20132031<\/h2>\n<p>Bisadonasi.com &ndash; Malam Minggu, 30 Agustus, di kota Jombang yang sejak berabad lamanya menjadi pusat keilmuan Islam di Jawa Timur, satu keputusan strategis diambil oleh forum tertinggi Nahdlatul Ulama. KH Miftachul Achyar, yang telah mengemban jabatan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada periode sebelumnya, kembali dipercaya memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk masa bakti 2026\u20132031. Penetapan ini menjadi penutup dari rangkaian sidang Muktamar NU ke-35 yang berlangsung di kota santri itu.<\/p>\n<h3>Proses Sidang dan Peran Dewan Sembilan Kiai<\/h3>\n<p>Keputusan mengenai kepemimpinan tertinggi NU tidak diambil secara instan. Sebelum nama-nama kandidat ditetapkan, sembilan kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) menggelar sidang khusus. AHWA merupakan lembaga yang secara khusus ditugaskan untuk memilih dan menetapkan Rais Aam serta Wakil Rais Aam PBNU. Dalam tradisi organisasi NU, sembilan kiai ini dipilih dari kalangan ulama senior yang memiliki otoritas keilmuan dan kepemimpinan yang diakui secara luas. Hasil sidang mereka kemudian dibawa ke forum Muktamar untuk disahkan secara formal oleh seluruh delegasi.<\/p>\n<p>Pada Muktamar ke-35 kali ini, hasil sidang AHWA yang menetapkan KH Miftachul Achyar sebagai Rais Aam periode 2026\u20132031 disahkan dalam pleno Muktamar pada malam hari, 30 Agustus. Pengesahan tersebut menandai berakhirnya proses pemilihan kepemimpinan tertinggi organisasi yang telah berlangsung selama beberapa hari penuh deliberasi dan musyawarah.<\/p>\n<h3>Posisi Rais Aam dalam Struktur Kelembagaan NU<\/h3>\n<p>Rais Aam menempati posisi tertinggi dalam hierarki keilmuan dan kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Jabatan ini bukan sekadar jabatan administratif, melainkan representasi otoritas keagamaan yang menjadi rujukan bagi seluruh warga NU di Indonesia maupun di diaspora. Rais Aam berperan sebagai penentu arah kebijakan keagamaan organisasi, pemberi fatwa dalam hal-hal yang bersifat fundamental, serta simbol persatuan internal yang melampaui perbedaan mazhab dan aliran di dalam tubuh NU.<\/p>\n<p>Pemilihan Rais Aam melalui mekanisme AHWA mencerminkan komitmen NU terhadap prinsip musyawarah dan kepemimpinan berbasis keilmuan. Berbeda dengan pemilihan ketua umum yang bersifat eksekutif dan administratif, Rais Aam dipilih oleh segelintir ulama senior yang dianggap memiliki kapasitas untuk menilai kedalaman ilmu, integritas moral, dan kemampuan memimpin organisasi secara holistik. Mekanisme ini telah berjalan konsisten sejak NU didirikan dan menjadi salah satu pilar tata kelola internal yang membedakan NU dari organisasi keagamaan lain di Indonesia.<\/p>\n<h3>Konteks Muktamar NU ke-35 di Jombang<\/h3>\n<p>Muktamar merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama, setara dengan kongres atau konferensi nasional. Setiap lima tahun sekali, ribuan delegasi dari berbagai cabang dan ranting NU di seluruh Indonesia berkumpul untuk membahas arah kebijakan organisasi, memilih kepemimpinan, dan merumuskan program kerja masa depan. Muktamar ke-35 yang digelar di Jombang, Jawa Timur, menjadi ajang konsolidasi organisasi di tengah dinamika sosial-politik Indonesia yang terus berubah secara cepat.<\/p>\n<p>Pemilihan Jombang sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Kota yang dikenal sebagai &#8220;Kota Santri&#8221; ini memiliki tradisi keilmuan Islam yang mengakar kuat, dengan pesantren-pesantren besar yang telah beroperasi selama berabad-abad. Kehadiran ribuan peserta Muktamar di kota tersebut turut menghidupkan kembali semangat keilmuan dan kebersamaan yang menjadi ciri khas tradisi pesantren Jawa Timur, sekaligus menegaskan kembali identitas NU sebagai gerakan yang berpijak pada tradisi pesantren.<\/p>\n<h3>Implikasi dan Arah Kebijakan ke Depan<\/h3>\n<p>Kelanjutan kepemimpinan KH Miftachul Achyar untuk periode 2026\u20132031 membawa implikasi signifikan bagi arah kebijakan NU dalam lima tahun ke depan. Sebagai organisasi yang memiliki jutaan anggota dan ribuan pesantren di seluruh Indonesia, setiap keputusan dari tingkat kepemimpinan tertinggi NU berdampak langsung pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Stabilitas kepemimpinan di puncak organisasi menjadi prasyarat bagi konsistensi program pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.<\/p>\n<p>Periode 2026\u20132031 akan membawa tantangan tersendiri bagi NU, mulai dari dinamika politik nasional, isu-isu keagamaan kontemporer, hingga peran NU dalam pembangunan pendidikan Islam dan pemberdayaan ekonomi umat. Keberlanjutan kepemimpinan yang telah terbukti efektif diharapkan mampu menjaga stabilitas internal sekaligus membuka ruang inovasi dalam program-program organisasi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang telah menjadi identitas NU selama lebih dari satu abad.<\/p>\n<p>Pengesahan keputusan ini juga menegaskan bahwa mekanisme internal NU tetap berjalan sesuai dengan tradisi dan tata kelola yang telah mapan. Proses pemilihan melalui AHWA, pengesahan melalui Muktamar, dan pelantikan secara formal menunjukkan bahwa organisasi dengan usia lebih dari satu abad ini tetap mampu menjaga konsistensi kelembagaan di tengah perubahan zaman. Bagi jutaan warga NU di seluruh penjuru negeri, keputusan malam itu di Jombang bukan sekadar pergantian nama di pucuk organisasi, melainkan penegasan kembali bahwa tradisi musyawarah dan kepemimpinan berbasis keilmuan tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan.<\/p>\n<section class=\"wpman-seo-internal-links\" data-wpman-seo=\"internal-links\">\n<h2>Related Reading<\/h2>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/bisadonasi.com\">Latest articles and updates: Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"wpman-seo-faq\" data-wpman-seo=\"faq\">\n<h2>Frequently Asked Questions<\/h2>\n<details>\n<summary>What is Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU?<\/summary>\n<p>Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.<\/p>\n<\/details>\n<details>\n<summary>Why does Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU matter?<\/summary>\n<p>Miftachul Akhyar kembali jabat Rais Aam NU matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.<\/p>\n<\/details>\n<\/section>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam Minggu, 30 Agustus, di kota Jombang yang sejak berabad lamanya menjadi pusat keilmuan Islam di Jawa Timur, satu keputusan strategis diambil oleh forum<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":11951,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[236],"tags":[],"class_list":["post-11953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-video"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11953"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11953\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11954,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11953\/revisions\/11954"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bisadonasi.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}