Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Special Plan: Taman Nasional Kutai jadi wadah pelestarian 324 fauna

Published 11/06/2026 · Updated 11/06/2026 · By Dewi Kurniawan

Taman Nasional Kutai Jadi Wadah Pelestarian 324 Spesies Fauna

Special Plan - Kota Samarinda menjadi pusat perhatian atas upaya Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Kalimantan Timur yang aktif memperkuat fungsi kawasan sebagai tempat perlindungan alam untuk mempertahankan 324 spesies fauna. Kepala Balai TNK, Syaiful Bahri, menjelaskan bahwa keanekaragaman fauna di TNK mencakup 90 jenis mamalia, 196 spesies kupu-kupu, serta 38 fauna yang hidup di lingkungan gua. Penjelasan ini diberikan pada Kamis, saat ia mengungkapkan pentingnya kawasan perlindungan tersebut dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa-satwa yang rentan terhadap ancaman kepunahan.

Prioritas Khusus untuk Satwa Endemik

Dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati, TNK memberikan perhatian khusus terhadap tiga satwa endemik yang termasuk dalam kategori terancam punah. Mereka adalah orangutan Kalimantan timur laut (Pongo pygmaeus morio), bekantan (Nasalis larvatus), serta banteng liar Kalimantan (Bos javanicus lowi). Syaiful Bahri menekankan bahwa peran TNK tidak hanya terbatas pada konservasi spesies tersebut, tetapi juga sebagai penyangga ekosistem yang memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

"Kami mencatat keanekaragaman fauna di Taman Nasional Kutai sebanyak 324 spesies, terdiri atas 90 jenis mamalia, 196 jenis kupu-kupu, dan 38 jenis fauna goa," kata Syaiful Bahri.

Untuk memastikan pengawasan terhadap satwa berjalan optimal, pihak pengelola telah mengadopsi teknologi canggih seperti drone thermal dan kamera jebak (camera trap). Teknologi ini memberikan kemampuan untuk memantau keberadaan hewan secara lebih efektif, terutama dalam menghadapi ancaman dari perubahan habitat. Syaiful menjelaskan bahwa meskipun membutuhkan waktu hingga bulan ketiga agar hewan terbiasa dengan alat tersebut, kamera jebak terbukti menjadi alat yang sangat bermanfaat dalam menemukan kembali spesies langka.

Sebagai contoh, instrumen ini membantu mengidentifikasi kucing hutan jenis macan dahan, yang sebelumnya dianggap telah punah. Selain itu, perangkat ini juga memperlihatkan aktivitas burung tokhtor Kalimantan dan memastikan bahwa burung kuau, yang sempat ditemukan di Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, masih hidup di wilayah tersebut. Penggunaan drone thermal, sementara itu, memungkinkan pemantauan jarak jauh untuk melacak satwa yang bergerak di area terpencil atau hutan lebat.

Kolaborasi dengan Lembaga Swadiri

Menghadapi tantangan yang kompleks di lapangan, Balai TNK juga menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi non-pemerintah untuk memperkuat upaya konservasi. Salah satu lembaga yang terlibat adalah Yayasan Jejak Pulang dari Samboja, yang fokus pada penelitian dan rehabilitasi orangutan. Syaiful Bahri menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan habitat di kawasan hutan TNK sebagai titik pelepasliaran bagi orangutan yang telah siap dikembalikan ke lingkungan alaminya.

"Fokus utama kolaborasi tersebut saat ini adalah melakukan kajian terkait kelayakan habitat di kawasan hutan TNK sebagai titik pelepasliaran bagi orangutan yang telah siap dikembalikan ke alam bebas," paparnya.

Dalam langkah berikutnya, Balai TNK juga bermitra dengan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin) untuk mengawasi populasi banteng liar Kalimantan yang masih tersisa. Syaiful Bahri menegaskan bahwa pengelolaan TNK membutuhkan dukungan masyarakat lokal, karena keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi warga sekitar.

Pelibatan Masyarakat Melalui Pariwisata Minat

Pelibatan masyarakat menjadi bagian integral dari strategi pelestarian di TNK. Syaiful Bahri menyampaikan bahwa program Perhutanan Sosial digunakan untuk menjadikan warga sebagai garda terdepan dalam melindungi hutan. Hal ini dilakukan melalui pengembangan pariwisata minat yang bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), sehingga warga dapat berperan sebagai pengawas dan penggerak perekonomian daerah.

"Pelibatan masyarakat diwujudkan melalui pengembangan pariwisata minat khusus yang menggandeng Pokdarwis untuk menjadikan warga sebagai garda terdepan pelindung hutan sekaligus penggerak ekonomi daerah lewat program Perhutanan Sosial," ungkap Syaiful.

Program ini tidak hanya menekankan pentingnya perlindungan lingkungan, tetapi juga mendorong masyarakat setempat untuk terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi berkelanjutan. Dengan memanfaatkan potensi alam TNK, warga diberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan, seperti teknik pengamatan satwa liar atau pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Syaiful Bahri menambahkan bahwa keberhasilan pelestarian hutan tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat, yang menjadi pilar utama keberlanjutan kawasan tersebut.

Kawasan Pelestarian dengan Ekosistem Beragam

Taman Nasional Kutai menutupi area seluas 193.753,42 hektare yang terdiri dari tujuh tipe ekosistem. Dari total luas tersebut, hutan dipterokarpa menyumbang sekitar 145.745,46 hektare, menjadi dominan dalam menyediakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna. Keberagaman ekosistem ini memungkinkan kehidupan berbagai spesies, termasuk satwa-satwa yang terancam punah, untuk tetap bertahan di lingkungan yang utuh.

Sebagai kawasan pelestarian alam, TNK memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati Kalimantan. Selain itu, kawasan ini juga menjadi saksi bisu perubahan iklim dan tekanan lingkungan yang dialami oleh daerah-daerah sekitarnya. Syaiful Bahri menyebutkan bahwa penggunaan teknologi dan kolaborasi dengan lembaga eksternal adalah upaya untuk menjamin bahwa TNK tetap menjadi tempat yang aman bagi satwa-satwa langka.

Dengan komitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Balai TNK berharap bisa menciptakan keseimbangan antara konservasi alam dan perekonomian lokal. Upaya ini menunjukkan bahwa pelestarian hutan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Dengan demikian, TNK tidak hanya menjadi tempat perlindungan satwa, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan sumber daya alam yang berkelanjutan.