Meeting Results: Festival Suar sajikan cerita rakyat ke wahana musik orkestra
Festival Suar 2026: Mengubah Narasi Tradisional menjadi Seni Modern
Meeting Results - Festival Suar 2026, yang digelar di Dusun Pendem, Desa Banaran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menjadi inisiatif kreatif yang menggabungkan warisan lisan lokal dengan bentuk seni musik orkestra. Acara ini berlangsung selama tiga bulan, sejak April hingga Juli, dengan berbagai rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat, seniman, dan akademisi. Dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, serta Dana Indonesiana memastikan festival ini bisa menjangkau audiens yang lebih luas, sekaligus mengangkat nilai-nilai budaya yang sebelumnya terasa kaku dalam konteks modern.
Inti dari Festival Suar 2026
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, memberikan penjelasan bahwa Festival Suar 2026 bertujuan untuk menjembatani antara tradisi dan inovasi. "Banyak hal dapat menjadi contoh, dan hari ini kita memiliki tradisi yang seringkali berusaha dicabut untuk disesuaikan dengan zaman. Namun, pada hari ini kita menyaksikan karya modern, yaitu orkestra, yang mencoba menggabungkan tradisi dan ilmu masa lalu menjadi bentuk seni yang baru," ujarnya. Menurut Pamuji, kebudayaan bukan hanya sekadar hiasan, tetapi merupakan hasil kreativitas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa peradaban di suatu daerah akan terus berkembang jika ada ekspresi seni yang bebas dan inovatif.
"Peradaban muncul dan bertahan melalui ilmu pengetahuan, tetapi hanya dengan ilmu pengetahuan, peradaban itu akan terasa kaku. Maka, budaya, seni, dan hasil karyanya sebagai bentuk interaksi dan inovasi dari seluruh komponen masyarakat adalah yang memperhalus keberhasilan ilmu pengetahuan, sehingga mampu menunjukkan peradaban yang abadi," kata Pamuji.
Dalam acara ini, ekspresi seni tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga penghubung antara generasi masa lalu dan generasi yang akan datang. "Saya yakin dengan ekspresi yang merdeka, inovasi yang luar biasa, serta semangat yang terus digemakan, suatu saat nanti akan muncul peradaban baru yang mewakili kebutuhan dan keinginan generasi muda," tambahnya. Kehadiran Ketua DPRD Kota Magelang, Evin Septa Haryanto Kamil, menambahkan nuansa dialog politik dan budaya dalam acara tersebut.
Kolaborasi dan Proses Pemetaan Budaya
Pementasan yang dihadiri oleh sejumlah narasumber dan peneliti seni, seperti Ryan Ajayanto dan Shindu Alpito, menggambarkan bagaimana proses kreatif ini dibangun dari hasil kolaborasi. "Festival Suar 2026 bertujuan mengubah narasi dongeng atau cerita rakyat menjadi bentuk pentas musik populer. Proses ini melibatkan kolaborasi para peserta selama tiga bulan terakhir, memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengeksplorasi cerita-cerita tradisional," kata Ryan, yang juga seorang komponis. Sebagai konduktor orkestra "Janantika," ia menjelaskan bahwa acara ini memadukan elemen puisi, suara, konteks lokal, dan afeksi untuk menciptakan karya yang menarik.
"Karya-karya musik dalam festival ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggali makna dari kehidupan masyarakat, seperti cara mereka berinteraksi dengan alam, sejarah, dan kepercayaan leluhur," ujarnya.
Berlangsung di areal pertanian sayuran setempat, yang berlatar belakang Gunung Andong, Festival Suar 2026 juga menyoroti pentingnya integrasi seni dan kehidupan sehari-hari. Acara ini menjadi wadah bagi seniman dan budayawan untuk menampilkan hasil karya mereka yang mampu menggambarkan identitas lokal secara modern. "Dengan menerapkan teknik musik orkestra, kita mampu menyampaikan cerita rakyat secara lebih dinamis, sekaligus menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman," tambah Ryan.
Karya-karya yang Dibawakan dalam Acara
Dalam Festival Suar 2026, sejumlah karya musik disajikan yang mengambil inspirasi dari cerita rakyat. Beberapa dari mereka antara lain: - "Bedayan" tentang tarian Sanggar Nitinari dan Bedheswati, yang menggambarkan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Andong. - "Aphoria" yang berkisah tentang Dusun Tanten, Kecamatan Grabag, melalui perspektif penduduk setempat. - "Di Beranda Fajar" berlatar belakang Serat Centini, sebuah narasi yang menggambarkan kehidupan kampung secara poetis. - "Sri Tanjung" mengadaptasi puisi dari penyair Jawa Barat, Peri Sandi, yang mengungkapkan hubungan antara alam dan manusia. - "Ayun" menceritakan perubahan nama Dusun Pendem dari Sumbu Mas, yang menunjukkan dinamika sejarah lokal. - "Makukuhan" menyoroti tokoh Ki Ageng Makukuhan di Temanggung, sebagai simbol perlawanan dan keberanian.
Karya-karya ini diiringi oleh musik yang dihasilkan dari kolaborasi antara para peserta dan komposer. Sebagai contoh, lagu "Tak Sempat Pulang" dan "Lagu 8" yang dibawakan oleh Rama Barrack dan Band MUsufer, masing-masing mewakili narasi tentang perjalanan dan keinginan. Sementara itu, "Heimat" dari Kelompok Bedheswati menggambarkan rasa kecintaan terhadap tanah air, yang menjadi tema utama dalam berbagai karya festival.
Kontribusi dan Harapan Masa Depan
Konduktor orkestra dalam festival ini, Nabila Rivani, menjelaskan bahwa pementasan ini memperkuat keberagaman ekspresi seni dalam masyarakat. "Dengan menempatkan cerita rakyat di tengah alur musik, kita mampu menyampaikan nilai-nilai tradisional secara lebih menarik dan relevan," katanya. Ia juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam mengembangkan budaya lokal.
"Kita tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa budaya harus terus berkembang melalui keterlibatan semua lapisan masyarakat," kata Nabila.
Festival Suar 2026 diharapkan menjadi contoh bagaimana tradisi bisa diubah menjadi bentuk seni yang menarik bagi generasi muda. Dengan menerapkan teknik modern, seperti orkestra dan musik populer, nilai-nilai lisan dan budaya dapat bertahan dalam era yang semakin digital. "Ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga penggalian makna sejarah dan identitas melalui pendekatan kreatif," pungkas Pamuji, yang menginginkan festival ini menjadi percontohan nas