Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: Pemkot Bandung siapkan 220 titik pengolahan sampah di kewilayahan

Published 02/07/2026 · Updated 02/07/2026 · By Dewi Firmansyah

Pemkot Bandung Siapkan 220 Titik Pengolahan Sampah Berbasis Kewilayahan

Key Strategy - Kota Bandung, Jawa Barat, tengah menghadapi tantangan serius dalam mengelola limbah yang dihasilkan warga setiap hari. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Kota Bandung mengambil langkah strategis dengan menyediakan 220 titik pengolahan sampah di tingkat kewilayahan. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti hingga 250 ton per hari. Syahriani, Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah dari model pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan menjadi model pengolahan lebih awal di sumber.

Ekosistem Pengelolaan Sampah yang Mandiri

“Pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah bukan hanya menambah jumlah infrastruktur, tetapi membangun ekosistem pengelolaan limbah yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” kata Syahriani dalam wawancara di Bandung, Kamis. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada kemampuan setiap wilayah untuk mengolah sebagian besar sampahnya secara lokal. Dengan demikian, hanya sisa limbah yang akan dikirim ke TPA, sehingga mengurangi beban lingkungan. Pemkot Bandung sedang melakukan inventarisasi lokasi untuk memastikan distribusi titik pengolahan sampah merata di berbagai area, agar masyarakat dapat lebih mudah memilah dan mengelola limbah di sumber.

“Kami menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari. Namun, keberhasilan target ini tidak hanya bergantung pada teknologi seperti RDF, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumber,” jelas Syahriani.

Sebagai bagian dari upaya ini, DLH Kota Bandung telah mengadopsi metode pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik limbah. Limbah organik, misalnya, akan diubah menjadi kompos atau bahan baku alternatif melalui proses pengomposan. Sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis akan didaur ulang melalui bank sampah. Untuk sampah anorganik bernilai rendah, teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) digunakan sebagai alternatif bahan bakar. Teknologi RDF, yang saat ini dalam tahap uji coba, didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu alat untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah.

Langkah Kunci Menuju Pengurangan Sampah

Menurut Syahriani, peningkatan jumlah titik pengolahan sampah akan memperpanjang usia layanan TPA Sarimukti, yang kini menjadi pusat penampungan utama limbah Kota Bandung. Ia menjelaskan bahwa dengan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, risiko penumpukan limbah di area sekitar dapat dikurangi. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini berupaya membangun sistem pengelolaan yang lebih terpadu, dengan fokus pada keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari solusi.

DLH Kota Bandung berharap bahwa kebijakan ini dapat meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya memilah sampah secara mandiri. Syahriani menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam mencapai target pengurangan limbah. “Setiap wilayah diharapkan dapat mengolah sebagian besar sampahnya sendiri, sehingga mengurangi ketergantungan pada TPA,” imbuhnya. Dengan adanya fasilitas pengolahan di tingkat kewilayahan, diharapkan masyarakat lebih mudah mengakses tempat pengolahan yang sesuai dengan jenis sampah mereka.

Kota Bandung, yang terus tumbuh, menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Pada tahun 2023, jumlah sampah yang dihasilkan mencapai sekitar 1.500 ton per hari. Dengan keberhasilan program 220 titik pengolahan, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi hingga 50 persen. Syahriani menjelaskan bahwa proyek ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pengusaha. Selain itu, peningkatan kapasitas SDM juga menjadi prioritas, agar proses pengolahan sampah bisa berjalan optimal.

Teknologi RDF: Penyelamat bagi Limbah Non-Organik

Dalam upaya mengoptimalkan pengolahan sampah, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan teknologi RDF. RDF adalah metode yang mengubah sampah anorganik menjadi bahan bakar padat, yang bisa digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Teknologi ini diharapkan bisa menghasilkan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kecil di tingkat kewilayahan. Syahriani menjelaskan bahwa RDF masih dalam tahap uji coba, namun berpotensi menjadi solusi efektif untuk sampah yang sulit didaur ulang.

“Fokus pembangunan ini tidak hanya terletak pada peningkatan jumlah infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” tegas Syahriani. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Dengan memilah sampah secara rutin, warga bisa mengurangi volume yang dibuang ke TPA sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.

Keterlibatan Masyarakat: Pilah Sampah dari Sumber

Menurut Syahriani, perubahan perilaku masyarakat adalah faktor kritis dalam mencapai target pengurangan sampah. “Masyarakat harus terlibat aktif dalam memilah sampah di sumber, sehingga proses pengelolaan bisa berjalan lebih efektif,” kata dia. DLH Kota Bandung telah melakukan sosialisasi mengenai pentingnya memilah sampah di tingkat rumah tangga, melalui pelatihan dan pendekatan komunitas. Selain itu, program ini juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sampah sebagai sumber daya ekonomi, seperti melalui bank sampah yang dioperasikan secara mandiri.

Kota Bandung berkomitmen untuk mendorong keterlibatan warga dalam pengelolaan sampah. Syahriani mengatakan bahwa selain membangun infrastruktur, pemerintah juga sedang menyiapkan inisiatif-inisiatif lain, seperti pelatihan memilah sampah dan pendekatan berbasis komunitas. “Kami ingin menciptakan kebiasaan baik dalam pengelolaan sampah, sehingga tidak hanya memperbaiki lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya pengangkutan dan pembuangan,” jelasnya. Dengan adanya 220 titik pengolahan sampah, diharapkan warga dapat memilah limbah secara lebih efisien, serta mengurangi risiko penumpukan sampah di tempat-tempat