Key Discussion: Menkomdigi apresiasi ICEC bahas ancaman anak di era digital
Menteri Kominfo Puji ICEC 2026 dalam Diskusi tentang Tantangan Pendidikan Anak di Masa Digital
Key Discussion - Makassar - Dalam rangka perayaan delapan tahun keberadaan Konferensi Internasional tentang Pendidikan Anak Usia Dini (ICEC), Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Viada Hafid secara khusus memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara tersebut di Universitas Panca Sakti (PSU) Bekasi. Acara ini menjadi ajang penting untuk mendiskusikan berbagai ancaman yang dihadapi anak-anak dalam era digital, termasuk risiko terhadap penggunaan teknologi. Meutya menekankan bahwa isu perlindungan anak dalam ruang digital tidak hanya menjadi tanggung jawab lokal, tetapi juga perlu disikapi secara global.
Tema dan Tujuan Konferensi
ICEC 2026 mengusung tema "Digital Transformation in Early Childhood Education to Realize Inclusive, Safe, and Good Character Generation." Konferensi ini tidak hanya berfokus pada pertukaran pengetahuan akademik, tetapi juga bertujuan sebagai wadah kolaborasi internasional dalam menghadapi perubahan mendasar yang ditimbulkan oleh teknologi. Ajang ini menampung partisipasi dari akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, serta pihak-pihak yang peduli terhadap pendidikan usia dini (PAUD) dari berbagai belahan dunia.
Ketua Panitia ICEC 2026, Dr. Ajat, menjelaskan bahwa konferensi ini dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh PAUD di tengah gelombang transformasi digital. "Digitalisasi membawa peluang besar, tetapi juga mengintroduksi risiko baru seperti paparan konten negatif, eksploitasi siber, perundungan online, dan ketergantungan terhadap platform teknologi," ujarnya. Ia menambahkan, kesadaran global terhadap pentingnya pendidikan usia dini di era digital menjadi fokus utama dari penyelenggaraan ICEC 2026.
“Perlindungan anak di ruang digital bukan hanya soal nasional, tetapi juga menjadi tantangan global yang membutuhkan sinergi berbagai pihak,” papar Meutya melalui teleconference. Menurutnya, platform digital saat ini tidak mengenal batas wilayah negara. Upaya melindungi anak-anak dari risiko di ruang siber memerlukan kerja sama lintas negara, lintas sektor, dan lintas disiplin ilmu.
Meutya menyoroti bahwa regulasi seperti Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau dikenal sebagai PP Tunas menjadi langkah strategis pemerintah. “PP Tunas menerapkan prinsip sederhana, yaitu tunggu anak siap. Anak tidak dilarang mengenal teknologi, tetapi akses digital harus disesuaikan dengan usia, tingkat kematangan, dan risiko yang mungkin dihadapi,” jelasnya. Ia menekankan bahwa regulasi ini bertujuan memastikan anak-anak tetap bisa menikmati manfaat teknologi tanpa terjebak dalam dampak negatif.
Konferensi sebagai Wadah Kolaborasi
Konferensi Internasional ICEC 2026 digelar secara hybrid, sehingga memungkinkan partisipasi peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta negara-negara lain. Acara ini menampilkan pembicara dari sejumlah negara dan 31 kelompok peneliti yang mendiseminasikan hasil risetnya melalui prosiding konferensi. Guru-guru PAUD dari berbagai wilayah juga hadir secara aktif, menunjukkan semangat mereka dalam mengikuti forum internasional ini.
Meutya menyebutkan bahwa era digital saat ini semakin mengubah cara berpikir dan perilaku anak-anak. "Teknologi tidak hanya memengaruhi cara belajar, tetapi juga mengubah pola interaksi sosial dan pengambilan keputusan," imbuhnya. Menurutnya, PAUD harus beradaptasi dengan perubahan ini agar mampu membentuk karakter yang kuat dan etis. "Anak-anak perlu dilatih agar mampu mengakses informasi dengan bijak, serta memahami konsekuensi dari penggunaan teknologi," tambahnya.
“Transformasi digital memunculkan tantangan baru bagi dunia pendidikan usia dini, karena kehidupan modern kini didominasi oleh layar gawai, internet, algoritma, dan kecerdasan buatan (AI). PAUD dituntut menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan, budaya, dan kemampuan sosial yang baik,” kata Dr. Ajat.
Konferensi ini juga menjadi ruang untuk mengeksplorasi strategi PAUD yang relevan dengan perkembangan teknologi. Para peserta diharapkan mampu merumuskan inovasi dan rekomendasi yang dapat diaplikasikan dalam sistem pendidikan. Meutya menyoroti bahwa keterlibatan pihak internasional dalam diskusi ini akan memperkuat upaya Indonesia dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan berbasis nilai.
Di sisi lain, keberhasilan ICEC 2026 juga diukur dari antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah. "Kehadiran pendidik PAUD yang antusias mencerminkan semangat mereka untuk terus belajar dan beradaptasi di tengah perubahan zaman," jelas Dr. Ajat. Ia menambahkan, konferensi ini memperlihatkan bahwa PAUD Indonesia terus berkembang dan bergerak maju di bawah bimbingan regulasi serta diskusi yang komprehensif.
Pengaruh Teknologi terhadap Pendidikan Anak
Kebiasaan mengakses teknologi secara dini sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Layar gawai, internet, dan kecerdasan buatan memberikan akses informasi yang cepat, tetapi juga membawa risiko seperti eksploitasi digital dan paparan konten berbahaya. "Dunia pendidikan harus menjadi pengaman dan pengarah, agar anak-anak bisa menggunakan teknologi secara bijak," tegas Meutya.
Meutya mengingatkan bahwa PAUD merupakan fondasi penting dalam pembentukan identitas dan karakter anak. Dalam era digital, pendidik harus memastikan anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana menilai, memilih, dan mengaplikasikan informasi yang mereka terima. "Anak-anak perlu dilatih berpikir kritis dan beretika, agar teknologi menjadi alat bantu, bukan penghalang dalam pembelajaran," jelasnya.
Dalam diskusi, Meutya juga menyebutkan bahwa digitalisasi mempercepat transisi dari pendidikan konvensional ke model yang lebih modern. "Kami ingin memastikan PAUD tetap relevan dan mampu memberikan pendidikan yang berkualitas, meskipun dalam lingkungan yang semakin bergantung pada teknologi," paparnya. Ia berharap adanya kesepakatan internasional dalam hal regulasi dan pendekatan pendidikan anak usia dini bisa menjadi bahan acuan bagi negara-negara lain.
Sebagai mantan reporter Metro TV, Meutya menekankan pentingnya keterlibatan media dan masyarakat dalam memantau penggunaan teknologi oleh anak-anak. "Media memiliki peran kunci dalam menyebarkan kesadaran akan risiko digital, sementara masyarakat perlu aktif dalam melibatkan anak-anak dalam aktivitas yang sehat," ujarnya. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat akan memperkuat perlindungan anak di ruang digital.
Konferensi ICEC 2026 dianggap sebagai langkah penting dalam memperku