Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Important Visit: BPBD Magetan catat 500 pendaki tirakatan Sura di Gunung Lawu

Published 16/06/2026 · Updated 16/06/2026 · By Budi Ananda

BPBD Magetan Catat 500 Pendaki Mengunjungi Gunung Lawu untuk Tirakatan 1 Sura

Important Visit - Magetan, Jawa Timur—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan mencatat jumlah pendaki yang menghadiri Gunung Lawu, yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, meningkat signifikan menjelang perayaan Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1448 Hijriah. Perayaan ini dikenal sebagai Sura, sebuah momen penting bagi masyarakat Jawa untuk berdoa dan menikmati keindahan alam di puncak gunung tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Eka Radityo, menjelaskan bahwa sekitar 500 pendaki tercatat melakukan aktivitas pendakian di jalur Cemorosewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, pada periode tersebut.

Persiapan untuk Pengamanan

Menjelang perayaan Sura, BPBD Magetan bersama instansi terkait telah melakukan persiapan khusus untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung. Dalam keterangan yang diberikan di Magetan, Selasa, Eka Radityo menuturkan bahwa petugas gabungan dari Pos Pengamanan Gunung Lawu secara aktif memantau kegiatan pendaki. "Jumlah pendaki yang berkunjung ke jalur Cemorosewu meningkat drastis, terutama saat perayaan 1 Sura," ujarnya.

"Kami memastikan seluruh aturan konservasi dan keselamatan tetap diterapkan," tambah Eka. "Sekitar 500 pendaki tercatat melakukan aktivitas di jalur tersebut, dengan keberagaman latar belakang dan tujuan kunjungan."

BPBD Magetan juga bekerja sama dengan berbagai organisasi seperti Kodim Magetan, Polres Magetan, Perhutani KPH Lawu, serta relawan Paguyuab Giri Lawu (PGL) untuk mengamankan jalur paling populer. Eka menuturkan bahwa persiapan ini dimulai sejak 14 Juni 2026 hingga 18 Juni 2026, dengan fokus pada pemantauan dan pengawasan di area kritis. "Selama masa persiapan, tim kami berjaga-jaga untuk mencegah kecelakaan serta memastikan kondisi lingkungan tetap terjaga," jelasnya.

Jalur Utama Pendakian

Jalur Cemorosewu menjadi favorit karena memungkinkan pendaki menikmati pemandangan alam yang indah sambil menempuh perjalanan yang cukup terjangkau. Asper BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, mengungkapkan bahwa jalur ini tidak hanya populer karena jarak pendek, tetapi juga kondisi medannya yang relatif aman. "Panjang jalur Cemorosewu sekitar 6,5 kilometer, dengan durasi perjalanan antara lima hingga delapan jam," katanya.

"Pendaki umumnya mengambil waktu yang cukup untuk menikmati alam dan mencapai puncak dengan tenang," tutur Mulyadi. "Jalur ini memudahkan mereka untuk menjelajahi Gunung Lawu dengan nyaman, sekaligus menjadi tempat beristirahat yang strategis."

Bukan hanya jalur fisik, tetapi juga kegiatan spiritual yang dilakukan oleh pendaki. Selama 1 Sura, banyak orang menyempatkan diri untuk berdoa di puncak gunung, mencari keberkahan, dan memperkuat koneksi dengan alam. Mulyadi menekankan bahwa jalur ini tetap menjadi jalur utama selama musim pendakian, meskipun jumlah pengunjung meningkat. "Tahun ini, kita bisa melihat peningkatan kegiatan tirakatan, terutama di titik-titik istirahat yang strategis," ujarnya.

Konteks Budaya dan Signifikansi Gunung Lawu

Gunung Lawu, yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut, tidak hanya dikenal sebagai destinasi alam, tetapi juga sebagai simbol spiritual dalam budaya Jawa. Bagi masyarakat setempat, perayaan 1 Muharam 1448 Hijriah menjadi momentum untuk mengingat keberadaan Tuhan dan memperkuat keakraban dengan lingkungan sekitar. "Gunung ini selalu ramai pada masa Sura, baik dari pendaki lokal maupun dari daerah lain," kata Eka.

"Kami berharap para pendaki bisa menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk bersilaturahmi dan menjaga ketertiban, terutama di area yang padat seperti basecamp dan jalur utama," imbuh Kapolsek Plaosan, AKP Agus Budi.

Menurut AKP Agus Budi, pihak kepolisian juga aktif dalam memastikan suasana tetap kondusif. "Situasi di Gunung Lawu selama perayaan Sura harus tetap aman dan nyaman bagi semua pengunjung," katanya. Selain itu, para pendaki diingatkan untuk mematuhi aturan seperti registrasi resmi di basecamp dan menghindari aktivitas yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan, seperti membawa api terbuka.

Koordinasi dan Tanggung Jawab Bersama

Koordinasi antara BPBD, Polres, Kodim, dan Perhutani menjadi kunci keberhasilan pengelolaan gunung selama masa Sura. Eka Radityo menekankan bahwa upaya ini dilakukan secara terpadu untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan pengalaman para pendaki. "Setiap instansi memiliki peran spesifik, mulai dari pemantauan sampai pengawasan," ujarnya.

"Kami juga berharap para pendaki menerapkan etika yang baik, seperti saling menghormati dan menjaga kebersihan lingkungan," tambah AKP Agus Budi.

Seiring dengan tingkat keterlibatan masyarakat, pengelolaan Gunung Lawu juga melibatkan keberagaman agama dan budaya. Meskipun mayoritas pendaki adalah Muslim, tetapi ada juga pengunjung dari kelompok lain yang mengikuti tradisi tirakatan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. "Gunung Lawu memiliki makna lebih dari sekadar tempat berwisata, ia menjadi tempat suci bagi banyak orang," kata Mulyadi.

Persiapan selama 1 Sura tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga budaya. BPBD Magetan bersama rekan-rekan mengambil langkah-langkah khusus, seperti memasang papan petunjuk, mengatur jadwal pengunjung, serta mengirimkan tim medis siaga. "Ini adalah momen penting, jadi kami harus siap segala kemungkinan," ujar Eka. Selain itu, sosialisasi tentang kebersihan dan keamanan menjadi bagian dari program ini.

Harapan untuk Aktivitas Berkelanjutan

Pendaki yang datang ke Gunung Lawu pada 1 Sura sering kali juga berharap dapat terus menikmati keind