Rupiah melemah seiring tingginya ekspektasi Fed tingkatkan suku bunga
Rupiah Terjepit di Tengah Tekanan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Bisadonasi.com – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan pelemahan pada sesi penutupan perdagangan hari Rabu. Mata uang domestik tercatat turun sebesar 29 poin atau setara dengan 0,16 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Posisi terakhir mencatatkan kurs di angka Rp17.888 per satu dolar AS, menandai pergerakan negatif dalam sesi tersebut. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang sedang waspada terhadap berbagai faktor eksternal maupun domestik yang mempengaruhi stabilitas mata uang.
Keputusan Bank Indonesia Menahan Suku Bunga Acuan
Di sisi kebijakan domestik, otoritas moneter Indonesia memilih untuk tidak mengubah posisi BI-Rate. Keputusan ini diambil dengan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Langkah tersebut sejalan dengan penyesuaian instrumen kebijakan lainnya yang dilakukan secara bersamaan. Suku bunga Deposit Facility dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen. Sementara itu, suku bunga Lending Facility juga mengalami kenaikan serupa menjadi 6,5 persen.
Menurut analisis yang disampaikan, langkah penahanan suku bunga acuan ini merupakan bagian dari strategi lebih luas. Bank Indonesia mendorong berbagai kebijakan pendukung untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar uang domestik. Tujuannya jelas, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. Kebijakan insentif yang diperluas diharapkan dapat meningkatkan portofolio asing dan memperkuat fondasi stabilitas mata uang nasional.
BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas.
Faktor Eksternal Mendorong Pelemahan Rupiah
Analisis pasar uang dari Ibrahim Assuaibi mengidentifikasi beberapa pendorong utama pelemahan rupiah. Salah satunya adalah tingginya ekspektasi bahwa Federal Reserve Amerika Serikat akan menaikkan suku bunga pada tahun 2026. Ekspektasi ini semakin menguat seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia. Gangguan pasokan di wilayah Teluk menjadi katalis utama yang memicu kekhawatiran inflasi global.
Ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada tahun 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Data dari Prime Terminal memberikan gambaran probabilistik yang menarik. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan pekan depan tercatat sebesar 78 persen. Namun, kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September berada di kisaran 68 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar sedang memperhitungkan berbagai skenario kebijakan moneter Amerika Serikat.
Konflik Geopolitik dan Dampaknya terhadap Rantai Pasokan
Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki hari ke-11 menjadi faktor tambahan yang mempengaruhi sentimen pasar. Investor global juga memantau pergerakan kelompok Houthi di Yaman yang mengancam akan melakukan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi. Ancaman ini terjadi di Laut Merah, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan internasional.
Beberapa kapal tanker minyak telah mengubah rute pelayaran mereka sebagai respons terhadap ketidakpastian ini. Perubahan rute tersebut menimbulkan kekhawatiran baru mengenai ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia. Kondisi ini diperparah oleh gangguan lalu lintas maritim di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak global.
Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Posisi Kurs Referensi Bank Indonesia
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia juga menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat datar di level Rp17.909 per dolar AS. Angka ini mencerminkan keseimbangan antara tekanan eksternal dan respons kebijakan domestik yang telah diambil oleh otoritas moneter Indonesia.