Key Strategy: Dirut baru PTPN I siapkan lima pilar transformasi perusahaan
Dirut Baru PTPN I Siapkan Lima Pilar Transformasi Perusahaan
Key Strategy - Jakarta – Pada hari Sabtu di Jakarta, Abdul Rivai Ras, Direktur Utama baru PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I, mengungkapkan rencana strategis yang akan menjadi fondasi perubahan di perusahaan tersebut. Menurut Rivai, tugasnya bukan hanya memimpin operasional perusahaan perkebunan, tetapi juga mendorong proses transformasi menuju korporasi agribisnis modern yang lebih profesional dan berdaya saing. Dia menekankan bahwa pilar-pilar yang ditetapkan bertujuan memperkuat sistem manajemen perusahaan serta meningkatkan kemampuan organisasi dalam menghadapi tantangan global.
Pilar-Pilar Transformasi yang Dirumuskan
Menurut pengumuman yang disampaikannya, lima aspek utama akan menjadi kerangka kerja untuk mengubah PTPN I menjadi perusahaan yang lebih modern. Pilar pertama adalah penguatan tata kelola perusahaan, yang dianggap sebagai dasar untuk pertumbuhan berkelanjutan. Rivai menyatakan bahwa transparansi, akuntabilitas, dan manajemen risiko harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas bisnis. "Saya yakin, tata kelola yang solid adalah kunci untuk menjaga stabilitas perusahaan di tengah dinamika pasar yang selalu berubah," ujarnya.
“Amanah ini bukan sekadar memimpin perusahaan perkebunan. Ini adalah amanah memimpin proses transformasi agar PTPN I menjadi lebih profesional, adaptif, dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi negara,” tambah Rivai.
Salah satu pilar utama lainnya adalah manajemen risiko, yang menunjukkan komitmen perusahaan untuk mengantisipasi berbagai ancaman. Rivai menyebutkan bahwa pendirian Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko dalam struktur direksi baru mencerminkan pendekatan lebih sistematis terhadap risiko bisnis, seperti fluktuasi harga komoditas, perubahan iklim, dan evolusi regulasi internasional. “Perusahaan harus mampu mengelola risiko secara terpadu, bukan hanya fokus pada laba semata,” katanya.
Transformasi digital menjadi pilar ketiga yang penting. Rivai menjelaskan bahwa digitalisasi tidak hanya terkait dengan adopsi teknologi, tetapi juga pergeseran budaya kerja dan cara pengambilan keputusan. “Digitalisasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat proses pengambilan keputusan, dan memperkuat transparansi,” ujarnya. Menurutnya, inisiatif ini akan membantu perusahaan merespons perubahan global secara lebih cepat dan tepat.
Tantangan dan Perubahan Global
Rivai menyoroti bahwa industri perkebunan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Di samping peningkatan produksi, perusahaan harus mampu beradaptasi dengan persaingan internasional, tekanan perubahan iklim, serta kemajuan teknologi. “Persoalan yang kita hadapi bukan hanya tentang pengelolaan kebun atau meningkatkan hasil panen, tetapi tentang menciptakan korporasi negara yang mampu bertahan di tengah dinamika global,” katanya.
“Kita harus mengubah cara berpikir, bukan hanya tentang keuntungan semata, tetapi tentang bagaimana meraih keberlanjutan bisnis yang berdampak luas bagi masyarakat,” tutur Rivai.
Di bidang optimalisasi aset, Rivai menyebutkan bahwa perusahaan akan fokus pada penggunaan sumber daya negara secara efektif. “Tujuan dari optimalisasi aset adalah memastikan setiap unit yang dikelola memberikan kontribusi maksimal bagi keuntungan perusahaan, negara, dan masyarakat,” jelasnya. Menurutnya, ini juga melibatkan peningkatan kualitas hasil produksi serta efisiensi dalam manajemen operasional.
Kolaborasi dengan Berbagai Pemangku Kepentingan
Rivai menegaskan bahwa keberhasilan transformasi perusahaan bergantung pada kolaborasi dengan berbagai pihak. Dia menyebutkan bahwa kemitraan dengan pemerintah, regulator, DPR, lembaga hukum, akademisi, pelaku usaha, serta masyarakat sekitar wilayah operasional sangat kritis. “Transformasi adalah kerja kolektif. Kita perlu membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar perubahan berjalan lebih cepat dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam rangka memperkuat hubungan kelembagaan, PTPN I juga akan meningkatkan komunikasi dan transparansi terhadap masyarakat. Rivai berharap, melalui penguatan hubungan ini, perusahaan bisa memperoleh dukungan yang lebih luas. “Masyarakat harus melihat bahwa PTPN I tidak hanya mengelola kebun, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata kepada lingkungan sekitar,” ujarnya.
Strategi Menuju Korporasi yang Lebih Modern
Menurut Rivai, transformasi perusahaan akan melibatkan penyesuaian sistem manajemen yang lebih modern. Ia menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) ke dalam setiap aspek bisnis. “ESG adalah bagian integral dari transformasi, karena perusahaan tidak hanya bertanggung jawab atas profit, tetapi juga terhadap dampak lingkungan dan sosialnya,” jelas Rivai.
Pilar keempat, transformasi digital, akan diterapkan melalui penggunaan teknologi informasi yang canggih. Rivai menjelaskan bahwa perusahaan akan menerapkan sistem manajemen data yang lebih efisien, serta otomasi proses bisnis untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan kecepatan. "Kita juga akan mengadopsi platform digital untuk memperkuat komunikasi antardepartemen dan membangun ekosistem bisnis yang lebih inklusif," tambahnya.
Di sisi lain, optimalisasi aset akan mencakup evaluasi ulang penggunaan sumber daya yang ada. Rivai menyebutkan bahwa perusahaan akan fokus pada pengembangan kebun dengan teknologi pertanian terkini dan penerapan praktik pertanian berkelanjutan. “Kita ingin setiap tanaman yang dikelola memberikan nilai ekonomi maksimal, baik bagi perusahaan maupun untuk pembangunan daerah,” katanya.
Dalam rangka memperkuat tata kelola, PTPN I juga akan melibatkan stakeholder dalam setiap keputusan strategis. Rivai menjelaskan bahwa transparansi dan partisipasi aktif dari pihak luar adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik. “Kita perlu menyampaikan rencana transformasi secara terbuka agar masyarakat bisa memahami arah perusahaan dan berpartisipasi dalam pengembangan yang lebih baik,” ujarnya.
Dengan lima pilar tersebut, Dirut baru PTPN I berharap bisa menciptakan perusahaan yang tidak hanya bertumbuh secara ekonomi, tetapi juga menjadi contoh dalam pengelolaan aset negara yang transparan dan berkelanjutan. Rivai menegaskan bahwa transformasi ini bukan hanya tentang perubahan struktur, tetapi juga tentang perubahan mental dan cara kerja seluruh karyawan. “Transformasi adalah proses yang membutuhkan kesabaran, komitmen, dan kolaborasi. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk membangun perusahaan yang lebih kuat dan lebih membanggakan,” tuturnya.