Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Discussion: Presiden Lebanon: Kesepakatan dengan Israel tak sahkan pendudukan

Published 04/07/2026 · Updated 04/07/2026 · By Dewi Firmansyah

Presiden Lebanon Nyatakan Kesepakatan dengan Israel Tidak Melegitimasi Pendudukan

Key Discussion - Istanbul, Kamis – Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan bahwa perjanjian kerangka kerja yang telah ditandatangani dengan Israel tidak sahkan berlanjutnya pendudukan militer Israel atas wilayah Lebanon. Dalam wawancara terkini, Aoun menegaskan bahwa kesepakatan tersebut sebenarnya bertujuan memberdayakan tentara Lebanon untuk mengambil alih kendali penuh atas seluruh wilayah negara. Pernyataan ini disampaikan setelah ia menggelar pertemuan dengan delegasi dari Asosiasi Universitas Lebanon, Ikatan Dokter Lebanon, serta Ordo Maronit Lebanon, seperti yang diumumkan oleh kantor kepresidenan Lebanon, Jumat lalu.

“Rumusan kerangka kerja ini tidak melegitimasi terus berlangsungnya pendudukan Israel, melainkan justru memberi wewenang kepada tentara Lebanon untuk memperluas pengaruhnya ke seluruh wilayah,” ujar Aoun.

Dalam konteks keputusan berdaulat Lebanon, Aoun menjelaskan bahwa tujuan utama dari kesepakatan ini adalah memisahkan negara tersebut dari isu yang berkaitan dengan konflik Iran dan Amerika Serikat. Hal ini dianggap penting karena sebagian pihak di Lebanon yang selama ini berada dalam pengaruh eksternal, termasuk kelompok-kelompok yang berperan dalam pembuatan kebijakan, merasa terbebani oleh peneguhan kekuasaan Israel. Presiden menggarisbawahi bahwa kesepakatan ini justru memperkuat peran militer Lebanon dalam menjaga keamanan dan stabilitas wilayah selatan setelah pasukan Israel melakukan penarikan.

Lebanon dan Israel, yang didampingi oleh Amerika Serikat, telah menandatangani kesepakatan mengenai penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Proses ini dimulai dari dua area percontohan, yang telah menjadi fokus utama negosiasi selama beberapa bulan terakhir. Namun, kesepakatan tersebut tidak menetapkan jadwal pasti untuk penarikan lengkap pasukan Israel. Tahapan selanjutnya akan ditentukan berdasarkan kesiapan tentara Lebanon dalam mengambil alih tanggung jawab keamanan dan menangani pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara, seperti Hizbullah.

Aoun menambahkan bahwa tidak ada pihak yang meragukan peran militer Lebanon dalam menjaga wilayah negara. Menurutnya, tentara Lebanon akan sepenuhnya menjalankan tanggung jawabnya dalam mencapai keamanan di selatan setelah pasukan Israel ditarik. Ia menekankan bahwa kesepakatan ini merupakan langkah awal untuk memulihkan kedaulatan Lebanon dan mengembalikan penduduk yang mengungsi ke kampung halaman mereka.

Konflik Hizbullah dengan Kesepakatan Penarikan

Sementara itu, kelompok gerakan Hizbullah menolak kesepakatan tersebut dan menyebutnya "tidak sah". Mereka menilai bahwa upaya penarikan pasukan Israel dengan disertai pelucutan senjata kelompok bersenjata telah melampaui garis merah yang telah ditetapkan. Dalam pernyataan terpisah, Hizbullah mengkritik kebijakan penarikan yang dianggap sebagai pengakuan terhadap pendudukan Israel, terutama setelah pasukan itu selama bertahun-tahun menguasai wilayah selatan Lebanon.

Israel telah menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan sejak lama. Beberapa wilayah tersebut bahkan telah diambil alih selama beberapa dekade, sementara wilayah tambahan dikuasai pasukan Israel selama perang 2023-2024. Selama masa tersebut, pasukan Israel menembus lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, memperluas pengaruh militer mereka ke daerah-daerah yang sebelumnya dianggap aman. Kesepakatan penarikan ini diharapkan mampu memutus dominasi Israel di wilayah tersebut, namun Hizbullah menilai hal tersebut belum memadai.

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa sejak 2 Maret lalu, serangan Israel telah menyebabkan sedikitnya 4.298 korban tewas dan 12.196 orang terluka. Angka ini mencerminkan dampak besar dari operasi militer Israel terhadap masyarakat Lebanon, khususnya penduduk di wilayah selatan. Meski kesepakatan penarikan bertahap menawarkan peningkatan stabilitas, Hizbullah tetap mempertahankan posisinya sebagai pihak yang menentang pengakuan pendudukan Israel.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan, Lebanon telah mengambil langkah strategis untuk memastikan bahwa kesepakatan dengan Israel tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga memiliki dampak nyata. Pemimpin pemerintahan Lebanon menekankan bahwa penarikan pasukan Israel akan memungkinkan negara mencapai kembali kontrol penuh atas wilayah yang telah lama dikuasai. Namun, keberhasilan ini tergantung pada kesiapan tentara Lebanon dalam menjalankan tugas keamanan dan mengendalikan kelompok-kelompok bersenjata.

Kesepakatan ini juga menjadi sorotan karena mengubah dinamika hubungan antara Lebanon dan Israel. Dengan partisipasi mediasi dari Amerika Serikat, negosiasi ini menunjukkan kemauan untuk mencapai perdamaian meski masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan kelompok-kelompok politik dan militer Lebanon. Aoun menyatakan bahwa keputusan yang diambil adalah hasil kesepakatan yang didasarkan pada kepentingan nasional, bukan hanya tekanan luar.

Dalam kesimpulannya, Aoun menegaskan bahwa kesepakatan ini menjadi fondasi untuk perubahan kebijakan luar negeri Lebanon. Ia berharap bahwa penarikan pasukan Israel akan memperkuat posisi Lebanon dalam mengelola wilayahnya sendiri, serta mempercepat proses normalisasi hubungan dengan negara-negara lain. Namun, tantangan utama tetap ada, terutama dalam menghadapi keberatan dari kelompok-kelompok yang terus memperjuangkan hak Lebanon atas wilayah selatan yang dikuasai Israel.

Prospek Masa Depan Kedaulatan Lebanon

Menurut Aoun, kesepakatan penarikan pasukan Israel adalah langkah awal dalam memulihkan kedaulatan negara. Pemimpin pemerintahan menyatakan bahwa proses ini akan terus berlanjut, dengan pihaknya bersiap mengambil alih tanggung jawab keamanan dan memastikan pelucutan senjata dari kelompok-kelompok bersenjata. Kedaulatan Lebanon, menurutnya, menjadi prioritas utama dalam upaya membangun kestabilan di wilayah selatan yang selama ini menjadi titik konflik.

Dengan penarikan pasukan Israel, Lebanon diharapkan bisa memperkuat kedaulatan politik dan militer mereka. Aoun menegaskan bahwa militer Lebanon akan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, sementara pihak lain akan memastikan bahwa