Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: Kemenkop kucurkan pinjaman lunak untuk koperasi di Kediri Rp17 miliar

Published 06/06/2026 · Updated 06/06/2026 · By Nadia Utami

Kemenkop Kucurkan Pinjaman Lunak untuk Koperasi di Kediri Rp17 Miliar

Latest Program - Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah yang mendapatkan bantuan finansial dari Kementerian Koperasi dalam bentuk pinjaman lunak. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung pengembangan usaha koperasi lokal, terutama dalam memenuhi kebutuhan produksi pabrik PT Indogula Jayabaya tahap II yang berlokasi di Desa Kras. Total dana yang disalurkan mencapai Rp17 miliar, dengan harapan dapat meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat ekosistem usaha koperasi di wilayah tersebut.

Pembiayaan untuk Pengembangan Usaha

Kementerian Koperasi berkomitmen untuk memberikan dukungan pembiayaan melalui lembaga pengelola dana bergulir. Dalam pernyataannya di Kediri, Sabtu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan pentingnya kegiatan pengolahan bahan baku sebagai bagian dari kebijakan pemerintah. "Kami memberikan dukungan pembiayaan melalui lembaga pengelola dana bergulir untuk kegiatan pengolahan. Mesin dibutuhkan di sini," ujarnya. Menurut Menkop, dukungan ini selaras dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan peran koperasi dalam sektor produksi.

"Koperasi harus kembali ke sektor produksi untuk meningkatkan daya saingnya di pasar nasional," tambah Ferry Juliantono. Ia menambahkan bahwa pinjaman lunak ini bukan hanya untuk mendukung kebutuhan pabrik, tetapi juga untuk memastikan koperasi bisa berkembang menjadi lebih kuat dan mandiri. "Dengan dana ini, produksi gula merah yang saat ini hanya bisa memenuhi kebutuhan Jawa Timur, akan dikembangkan menjadi bahan baku untuk pabrik kecap," jelasnya.

Koperasi Konsumen Kana Lautan Berkat dan Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri menjadi mitra dalam MoU yang ditandatangani dalam acara tersebut. Dengan bantuan ini, mereka berharap bisa mengembangkan usaha yang sebelumnya fokus pada pengolahan tebu menjadi industri yang lebih beragam. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk mengevaluasi kebutuhan lebih lanjut setelah pembangunan pabrik baru selesai, dengan potensi penambahan dana sesuai kebutuhan koperasi.

Koperasi dan Pabrik Kecap

Pembiayaan yang diberikan oleh Kementerian Koperasi memiliki bunga yang relatif rendah, sehingga lebih mudah diakses oleh pengelola koperasi. "Dengan pinjaman lunak ini, koperasi bisa bergerak lebih cepat dalam membangun infrastruktur produksi," kata Ferry Juliantono. Ia menekankan bahwa koperasi tidak hanya menjadi pihak yang mengolah bahan baku, tetapi juga bisa menjadi pengusaha yang mampu bersaing di pasar nasional. Pemerintah, kata dia, terus mendorong perluasan sektor produksi koperasi, seperti pembuatan kecap, saus, sambal, atau produk lain yang memungkinkan peningkatan nilai tambah.

"Kami terima kasih atas dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Koperasi, kemudian LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) Koperasi, supaya istilahnya naik kasta, tidak dipandang sebelah mata, tapi koperasi bisa bersaing dengan industri besar lainnya," ujar Jonathan Danang Wardhana, Ketua Koperasi Pemasaran Kana Lautan Berkat. Ia menuturkan bahwa koperasi ini telah berhasil menyerap tebu dari para petani, sehingga membantu peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat rantai pasok lokal.

Dalam tahun ini, Kementerian Koperasi mengalokasikan dana sekitar Rp2 triliun untuk mendukung pengembangan usaha koperasi. Alokasi tersebut ditujukan kepada berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kediri, yang memiliki potensi besar dalam sektor produksi. "Dana ini menjadi salah satu alat untuk membangun ekosistem usaha yang lebih solid," kata Ferry Juliantono. Ia berharap dengan bantuan ini, koperasi bisa memperluas jangkauan pasar dan mengurangi ketergantungan pada distributor eksternal.

Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya Kediri juga memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ini. Ketua koperasi tersebut, Desi Permatasari, menyebutkan bahwa kerja sama antara petani dan pelaku ekonomi melalui koperasi adalah langkah nyata untuk menciptakan sinergi yang saling menguntungkan. "Kerja sama ini bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan gula nasional," tuturnya. Ia juga menyoroti bahwa produksi gula merah yang saat ini mencapai 50 ton per hari, dengan dukungan dana, akan bisa ditingkatkan hingga 100 hingga 150 ton per hari.

Koperasi Konsumen Kana Lautan Berkat, di sisi lain, berharap pinjaman lunak ini bisa digunakan untuk mendirikan pabrik kecap. "Dengan bahan baku gula merah yang telah tersedia, kami bisa memproduksi kecap secara lebih massal dan konsisten," kata Jonathan. Ia menegaskan bahwa pabrik kecap ini akan menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha koperasi, yang sebelumnya hanya fokus pada pengolahan tebu. Selain itu, pihaknya juga berharap untuk menjual produk-produk yang dihasilkan ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai bagian dari jaringan distribusi yang lebih luas.

Kementerian Koperasi mengungkapkan bahwa pinjaman lunak ini merupakan bagian dari kebijakan yang bertujuan meningkatkan kemandirian usaha koperasi. Dengan bunga yang rendah, koperasi tidak hanya bisa mengurangi beban keuangan, tetapi juga memiliki ruang untuk berinvestasi dalam teknologi dan perluasan operasional. "Koperasi tidak lagi dianggap sebagai entitas kecil, tetapi sebagai penopang utama sektor produksi," ujar Ferry Juliantono. Ia menambahkan bahwa keberhasilan koperasi dalam memproduksi bahan baku seperti gula merah akan menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Pengembangan ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi hasil produksi lokal. Dengan memperkuat kapasitas produksi, koperasi bisa menghasilkan produk yang lebih banyak dan berkualitas, yang kemudian bisa dijual di pasar regional maupun nasional. "Dukungan dari pemerintah sangat berpengaruh dalam menentukan arah pertumbuhan usaha," kata Desi Permatasari. Ia menuturkan bahwa keberhasilan koperasi tidak hanya bergantung pada kebijakan internal, tetapi juga pada keterlibatan pihak eksternal seperti LPDB dan Kementerian Koperasi.

Langkah Strategis untuk Masa Depan

Kemenkop menyatakan bahwa MoU yang ditandatangani di Kediri menjadi contoh bagus dalam penerapan kebijakan sinergi antara pemerintah dan koperasi. "Ini menunjukkan ekosistem yang bagus, di mana koperasi bisa menjadi penggerak utama dalam industri lokal," tutur Ferry Juliantono. Ia menekankan bahwa pemerintah terus memperhatikan kebutuhan koperasi, termasuk pengembangan infrastruktur serta ketersediaan bahan baku yang lebih stabil.

Para pelaku koperasi di Kediri berharap dengan adanya pinjaman lunak ini, mereka bisa mempercepat proses modernisasi usaha. "Koperasi perlu didukung dalam memperoleh alat-alat modern untuk meningkatkan efisiensi produksi," kata Jonathan. Ia menambahkan bahwa dengan peningkatan kapasitas, koperasi tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mengekspor produk-produknya ke luar daerah. "Ini akan menciptakan lapangan kerja baru, yang secara langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar," jelasnya.

Kementerian Koperasi juga memperkenalkan program baru yang bertujuan mengembangkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Program ini akan fokus pada pembuatan produk yang memiliki nilai ekspor tinggi, seperti kecap, saus, sambal, atau produk olahan lainnya. "Koperasi memiliki potensi besar untuk memproduksi barang-barang yang bisa dijual ke pasar internasional," kata Ferry Juliantono