Latest Program: DEN apresiasi Pertamina di peringkat ketiga Fortune Southeast Asia 500
DEN apresiasi Pertamina di peringkat ketiga Fortune Southeast Asia 500
Latest Program - Jakarta – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menyambut positif kenaikan peringkat Pertamina dalam daftar Fortune Southeast Asia 500. Perusahaan pelat merah ini berada di posisi ketiga, mengalahkan perusahaan perdagangan Singapura Trafigura Group dan perusahaan energi Thailand PTT. Menurut Kholid, pencapaian ini mencerminkan peningkatan daya saing Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia di tingkat regional, sekaligus membuktikan konsistensi kinerja Pertamina meski di tengah tekanan ekonomi global.
"Ini menunjukkan daya saing yang semakin baik. Karena perusahaan sekelas Pertamina memang harus masuk ke situ dan itu penting," ujar Kholid dalam pernyataannya, Rabu, di Jakarta.
Kholid menekankan bahwa masuknya Pertamina ke dalam daftar 500 perusahaan terbaik Asia Tenggara bukan hanya sekadar prestasi, tetapi juga pengakuan terhadap peran strategisnya sebagai pelaku bisnis yang memiliki kekuatan kapital dan pendapatan besar. Ia menambahkan, posisi Pertamina yang hanya berada di bawah PTT menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah berhasil membangun struktur bisnis yang kuat, terutama jika dibandingkan dengan perusahaan migas lainnya.
"Dan kita tentu saja bangga dengan masuknya salah satu perusahaan nasional menjadi perusahaan papan atas di Asia Tenggara. Artinya apa? Ya, terus bertumbuh, kan?"
Dalam wawancara lebih lanjut, Kholid mengapresiasi kemampuan Pertamina dalam menjaga keseimbangan antara dua aspek utama: sebagai korporasi yang dituntut menghasilkan laba, serta sebagai pelaksana tugas pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional. Ia menyoroti bahwa keseimbangan ini adalah kunci keberhasilan Pertamina, yang sekaligus menjadi contoh bagus bagi BUMN lainnya.
"Kalau misalnya penugasannya terlalu ke atas, fungsi profit-seeking-nya turun. Sementara orientasinya pada profit-seeking, penugasannya tentu agak sedikit berkurang. Saya kira keseimbangan ini menjadi fitrah dari BUMN dalam hal ini Pertamina," katanya.
Kholid juga menyinggung kontribusi Pertamina terhadap perekonomian nasional. Ia mengungkapkan bahwa perusahaan ini telah menjadi motor penggerak utama dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat, mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga LPG dan diesel. Menurutnya, Pertamina berperan penting dalam menjaga keandalan pasokan energi, yang sangat vital bagi keberlanjutan pembangunan Indonesia.
"Peran penting Pertamina untuk menjaga keamanan pasok energi seperti penyediaan BBM, penyediaan LPG, penyediaan diesel, itu menjadi salah satu tulang punggung ketahanan energi nasional harus lebih ditingkatkan lagi," ujarnya.
Selain itu, Kholid menyebutkan bahwa Pertamina juga turut mendorong pertumbuhan sektor industri dan ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa keberhasilan perusahaan ini bukan hanya tentang laba, tetapi juga tentang mampu menjaga ketersediaan energi secara terus-menerus. "Pertamina saat ini sudah menjalankan dengan baik peran pentingnya sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional," tambahnya.
Kholid mengingatkan bahwa meski pencapaian saat ini patut diapresiasi, Pertamina masih perlu terus meningkatkan profesionalitas dan kapasitas manajerialnya. Ia menyoroti perlunya transformasi kelembagaan agar daya saing perusahaan ini bisa mencapai tingkat global. "Dengan demikian, diharapkan Pertamina bisa naik kelas atau berkinerja lebih baik lagi di masa mendatang," katanya.
Kinerja dan Pertumbuhan BUMN Strategis
Dalam konteks keberhasilan Pertamina, Kholid memandang bahwa BUMN energi ini menjadi salah satu contoh bagus dari strategi pengelolaan yang matang. Pendapatan mencapai 70,89 miliar dolar Amerika Serikaa (AS) dan laba sebesar 3,35 miliar dolar AS, yang naik 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan komitmen Pertamina terhadap efisiensi operasional dan inovasi.
"Ini menunjukkan daya saing yang semakin baik. Karena perusahaan sekelas Pertamina memang harus masuk ke situ dan itu penting,"
Kholid juga menyoroti bahwa pertumbuhan Pertamina bukan hanya sebagai perusahaan milik negara, tetapi juga sebagai entitas bisnis yang kompetitif di pasar internasional. Menurutnya, kenaikan peringkat ini memberikan kepercayaan kepada dunia bahwa Pertamina mampu bersaing dengan perusahaan energi global, terutama di wilayah Asia Tenggara.
Keseimbangan Bisnis dan Kewajiban Nasional
Mengenai keseimbangan antara bisnis dan tugas nasional, Kholid menegaskan bahwa Pertamina telah membuktikan kemampuan untuk menjaga konsistensi antara dua fungsi utama: mencari laba serta menjaga keamanan pasokan energi. Ia menilai bahwa perusahaan ini mampu memenuhi keduanya tanpa saling mengorbankan, sehingga bisa menjadi contoh bagi BUMN lainnya.
"Kalau misalnya penugasannya terlalu ke atas, fungsi profit-seeking-nya turun. Sementara orientasinya pada profit-seeking, penugasannya tentu agak sedikit berkurang. Saya kira keseimbangan ini menjadi fitrah dari BUMN dalam hal ini Pertamina,"
Kholid mengingatkan bahwa perusahaan seperti Pertamina tidak hanya bertindak sebagai pelaku pasar, tetapi juga sebagai penjamin kestabilan energi negara. Dalam masa krisis ekonomi atau perubahan iklim, peran Pertamina menjadi semakin kritis. Ia berharap, perusahaan ini terus memperkuat posisi sebagai pelaku bisnis yang berkontribusi signifikan pada perekonomian nasional.
Langkah Menuju Peningkatan Global
Kholid menambahkan bahwa masuknya Pertamina ke dalam daftar Fortune Southeast Asia 500 adalah langkah awal yang menggembirakan, tetapi perusahaan ini perlu terus berinovasi agar bisa bersaing di tingkat internasional. Ia menekankan bahwa daya saing Pertamina tidak hanya tergantung pada bisnis sehari-hari, tetapi juga pada kemampuan mengelola risiko dan mengadaptasi perubahan ekonomi global.
"Dengan demikian, diharapkan Pertamina bisa naik kelas atau berkinerja lebih baik lagi di masa mendatang,"
Kemampuan Pertamina dalam mengelola operasional yang efektif serta menjaga kualitas layanan energi menjadi fondasi penting untuk meraih peringkat yang lebih baik di masa depan. Kholid menilai bahwa BUMN energi ini perlu terus meningkatkan kemampuan manajerial dan profesionalitas stafnya guna memenuhi tantangan yang semakin kompleks. Ia juga menyebutkan bahwa Pertamina bisa menjadi salah satu pelaku bisnis terkemuka di Asia Tenggara, jika mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Di sisi lain, Kholid mengapresiasi kemampuan Pertamina dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan sektor industri. Ia menilai bahwa perusahaan ini tidak hanya memperkuat perekonomian Indonesia, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan BUMN dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan pendapatan yang signifikan dan pertumbuhan yang stabil, Pertamina berpotensi menjadi referensi bagi perusahaan lain dalam bidang energi.
Kholid menegaskan bahwa pencapaian ini menjadi bukti bahwa Pertamina tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang secara pesat di tengah persaingan yang ketat. Dengan kekuatan kapital dan revenue yang besar