Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Key Strategy: PTPN I uji coba tanam bawang putih 20 ha dukung swasembada tanpa impor

Published 16/06/2026 · Updated 16/06/2026 · By Sari Rahman

PTPN I Uji Coba Tanam Bawang Putih 20 Ha untuk Dukung Swasembada Pangan

Key Strategy - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I melakukan percobaan penanaman bawang putih di lahan seluas 20 hektare di Gunung Mas, Bogor, Jawa Barat, sebagai upaya awal mendukung program swasembada pangan nasional. Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bawang putih, terutama dari negara-negara seperti Tiongkok. Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong kemandirian pangan berkelanjutan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Penanaman Percobaan Sebagai Bentuk Komitmen PTPN I

Dalam wawancara bersama media di Jakarta, Senin malam, Aris mengungkapkan bahwa uji coba ini menjadi langkah strategis untuk mendukung hilirisasi komoditas pertanian. "Kita mencoba menanam bawang putih di Gunung Mas sebagai bentuk komitmen PTPN I terhadap program pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, dalam mewujudkan swasembada pangan," ujarnya dalam

sebuah pernyataan yang menekankan pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah.

Menurut Aris, bawang putih memerlukan kondisi geografis tertentu agar dapat tumbuh optimal. Wilayah dataran tinggi dengan iklim yang sesuai dianggap lebih cocok dibandingkan daerah dataran rendah. "Kemudian, kita memiliki tugas swasembada bawang putih, komoditas ini jarang ditanam di Indonesia," lanjutnya, menyoroti tantangan yang dihadapi negara dalam memenuhi kebutuhan bawang putih secara mandiri.

Strategi Bertahap untuk Meningkatkan Produktivitas

Aris menjelaskan bahwa perusahaan masih dalam proses belajar teknik budidaya bawang putih, sehingga pengembangan dilakukan secara bertahap. "Kita perlu mempelajari berbagai aspek teknis, seperti penyediaan benih, pola tanam, dan pengelolaan lahan yang ideal," katanya, menambahkan bahwa keberhasilan uji coba ini akan menjadi dasar untuk ekspansi lebih lanjut. Menurutnya, tanaman bawang putih membutuhkan sumber daya manusia yang siap, pengalaman teknis yang memadai, serta persiapan matang di segala aspek produksi.

Proses penanaman 20 hektare ini diharapkan memberikan data lapangan yang akurat untuk mengukur potensi pertumbuhan tanaman. "Hasil dari uji coba ini bisa menjadi pijakan awal untuk mengembangkan areal yang lebih luas," ujarnya. Aris menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin mengambil langkah terburu-buru, mengingat bawang putih termasuk komoditas yang tidak mudah dikembangkan secara massal.

Potensi Pengembangan di Lahan Tidak Produktif

Dalam upaya mengoptimalkan penggunaan lahan, PTPN I juga sedang mengidentifikasi wilayah perusahaan yang belum ditanami komoditas utama seperti teh, kopi, atau tanaman unggulan lainnya. "Lahan yang tidak dipakai untuk tanaman produktif berpotensi menjadi lokasi pengembangan bawang putih jika hasil uji coba menunjukkan peluang positif," jelas Aris. Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini akan mengurangi ketergantungan pada impor, khususnya dari Tiongkok, yang selama ini menjadi penyuplai utama bawang putih di Indonesia.

Kebutuhan nasional bawang putih masih didominasi oleh pasokan dari luar negeri, dengan Tiongkok menjadi negara utama penyumbang impor. Aris menyoroti bahwa ekspansi bawang putih di areal yang lebih luas memerlukan persiapan matang. "Kalau tiba-tiba kita membongkar dan menanam 10.000 hektare tanpa ada kemampuan dan pengalaman, akan menjadi pemborosan waktu dan anggaran," tegasnya, menjelaskan bahwa keberhasilan swasembada tidak bisa dicapai tanpa persiapan yang serius.

Data BPS: Penurunan Impor Bawang Putih dalam Lima Tahun Terakhir

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor bawang putih Indonesia pada lima tahun terakhir menunjukkan tren penurunan jika dilihat dari berat bersih. Pada 2021, impor mencapai 602.745 ton, lalu turun menjadi 566.175 ton di 2022, atau menyusut sekitar 6,07 persen secara tahunan. Penurunan ini berlanjut pada 2023, dengan volume impor mencapai 564.02 ton, meski data tersebut belum lengkap. Aris menilai penurunan impor ini menjadi momentum untuk memperkuat produksi nasional.

Kehadiran PTPN I dalam pengembangan bawang putih diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dan petani. "Lokasi uji coba ini bisa menjadi percontohan bagi petani yang ingin belajar teknik budidaya bawang putih," katanya, menggarisbawahi peran perusahaan dalam memperkenalkan pertanian alternatif. Aris juga menyebutkan bahwa target pengembangan bawang putih dari Kementerian Pertanian sekitar 5.000 hektare, tetapi perusahaan memilih bertahap untuk memastikan keberlanjutan program.

Tantangan Utama dalam Budidaya Bawang Putih

Bawang putih dianggap sebagai komoditas yang kurang umum di Indonesia, terutama dibandingkan tanaman seperti padi atau jagung. Selama ini, sentra produksi bawang putih dominan terletak di daerah pegunungan dengan ketinggian yang sesuai. "Temanggung, Jawa Tengah, menjadi salah satu lokasi utama, karena datarannya tinggi," ujarnya, menjelaskan bahwa wilayah dataran rendah sulit mendukung pertumbuhan bawang putih yang optimal.

Aris menekankan bahwa pengembangan bawang putih memerlukan kehati-hatian dalam pemilihan lahan, pengelolaan teknis, dan kesiapan SDM. "Kalau kita langsung menanam 10.000 hektare, mungkin ada risiko tidak mencapai hasil yang diharapkan," katanya, menambahkan bahwa perusahaan sedang mempelajari berbagai aspek teknis, termasuk sistem irigasi dan penggunaan pupuk, agar proses penanaman bisa berjalan efektif.

Program ini juga bertujuan meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional. Dengan menanam bawang putih di daerah yang sebelumnya tidak produktif, PTPN I berharap memperluas pilihan komoditas pertanian. "Kami ingin menunjukkan bahwa lahan yang selama ini hanya untuk tanaman utama bisa dipakai untuk bawang putih jika ada kebutuhan," tutur Aris. Selain itu, inisiatif ini berpotensi mengurangi tekanan pada anggaran impor dan menstabilkan harga bawang putih di pasaran domestik.

Kesiapan Sumber Daya Manusia sebagai Kunci Sukses

Aris menyampaikan bahwa keterlibatan SDM sangat penting dalam mengelola bawang putih. "Pengalaman teknis dan kemampuan peng