Kepala Bapanas pastikan ketersediaan beras RI kuat hadapi kekeringan
Stok Beras Pemerintah Diperkuat untuk Hadapi Musim Kering dan El Nino 2026
Bisadonasi.com – Jakarta mengukuhkan posisinya sebagai pusat informasi mengenai ketahanan pangan nasional. Kepala Badan Pangan Nasional yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memberikan penegasan penting terkait kesiapan cadangan beras pemerintah. Menurutnya, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kokoh dibandingkan periode sebelumnya dalam menghadapi tantangan musim kemarau serta fenomena iklim El Nino yang diprediksi terjadi tahun ini.
Perbandingan Stok dengan Periode El Nino Sebelumnya
Amran menyoroti perbedaan signifikan antara kondisi saat ini dengan pengalaman masa lalu. Pada peristiwa El Nino yang lalu, cadangan beras nasional tercatat berada di kisaran 1,5 juta ton. Namun, angka tersebut mengalami peningkatan drastis menjadi sekitar 5,2 juta ton pada periode terkini. Pernyataan ini disampaikan oleh Amran melalui keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta pada hari Kamis.
"Dulu pada saat terjadi El Nino, kita ada stok (cadangan) beras nasional sekitar 1,5 juta ton. Sekarang (CBP kita) ada sekitar 5,2 juta ton," kata Amran.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa puncak fenomena El Nino tahun 2023 berlangsung dari bulan Oktober hingga Desember. Sementara itu, catatan internal Bapanas menunjukkan bahwa stok CBP pada awal September 2023, tepat sebelum puncak tersebut, berada di level 1,52 juta ton. Perkembangan ini menjadi indikator positif bagi stabilitas pasokan pangan nasional.
Kondisi Stok Terkini dan Proyeksi Kebutuhan
Berdasarkan data terbaru yang dirilis, stok beras pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog per tanggal 22 Juli 2026 telah mencapai angka 5,24 juta ton. Peningkatan ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 244,74 persen jika dibandingkan dengan momentum sebelum puncak El Nino tahun 2023. Angka ini menunjukkan bahwa cadangan beras Indonesia saat ini berada dalam kondisi sangat kuat dan siap menghadapi berbagai tantangan.
"Nah semua ini adalah pertahanan kita untuk mengantisipasi kekeringan. Kita sudah pengalaman El Nino tahun 2015, 2023, 2024. Dengan pengalaman ini, dulu saja kita bisa penyesuaian saat El Nino, alhamdulillah kita bisa lolos," beber Amran.
Menteri Pertanian juga memberikan imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak perlu khawatir berlebihan mengenai ketersediaan pangan, khususnya beras. Kapasitas stok yang dimiliki pemerintah dinilai sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan selama musim kemarau. Secara normal, kapasitas yang dibutuhkan selama musim kemarau berkisar sekitar 3 juta ton. Dengan stok saat ini yang mencapai 5,2 juta ton, terdapat surplus lebih dari 2 juta ton yang dapat digunakan sebagai penyangga.
Program Strategis dan Inflasi yang Terkendali
Bapanas menegaskan bahwa stok CBP tersebut memiliki fungsi ganda, yaitu menjaga stabilitas komoditas beras melalui program-program strategis pemerintah. Salah satu program utama adalah penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Hingga tanggal 22 Juli 2026, dari total target program SPHP beras untuk periode Maret hingga Desember sebanyak 828 ribu ton, sebanyak 61,32 persen atau setara dengan 507,75 ribu ton telah berhasil disalurkan kepada masyarakat.
Selain distribusi beras SPHP, pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan beras tahap kedua untuk alokasi Juli hingga September 2026. Total alokasi yang disiapkan mencapai 997,2 ribu ton. Penyaluran bantuan ini akan dilakukan secara one shoot atau sekaligus mulai bulan Agustus melalui Perum Bulog. Target penerima manfaat dalam program ini mencakup 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Di sisi lain, tingkat inflasi beras hingga bulan Juni menunjukkan tren yang cukup terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi beras pada Juni 2026 secara tahunan (year-on-year) mencapai 3,98 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,57 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen. Sementara itu, inflasi beras secara bulanan (month-to-month) hingga Juni 2026 tercatat sebesar 0,45 persen. Indeks tersebut masih berada di bawah level 1 persen, sehingga mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif stabil dan terkendali.
Prediksi BMKG untuk Musim Kemarau 2026
BMKG telah merilis prediksi mengenai puncak musim kemarau di Indonesia yang diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Pada bulan Juli, puncak kemarau mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau setara dengan 12,26 persen luas daratan Indonesia. Kemudian pada bulan Agustus, puncak kemarau meluas ke 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan. Sementara itu, pada bulan September, fenomena ini terjadi di 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan.
Berdasarkan analisis BMKG, musim kemarau di Indonesia tahun 2026 diprediksi akan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Fenomena El Nino diperkirakan akan terus bertahan hingga awal tahun 2027. Peluang intensitas mencapai kategori moderat diperkirakan sebesar 98 persen, sementara kategori kuat memiliki peluang sebesar 62 persen. Kondisi ini semakin memperkuat alasan mengapa cadangan beras pemerintah saat ini menjadi sangat krusial untuk menjaga ketahanan pangan nasional.