PGRI sebagai Penopang Keberdayaan Guru Nasional

PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) memandang keberdayaan guru sebagai prasyarat mutlak bagi kemajuan bangsa. Guru yang berdaya adalah guru yang memiliki kendali atas tugas profesionalnya, memiliki posisi tawar yang kuat, dan mampu menjadi solusi bagi persoalan di lingkungan sekitarnya.

Sebagai penopang utama keberdayaan, PGRI bergerak pada aspek struktural maupun kultural melalui strategi-strategi berikut:


1. Keberdayaan Politik dan Kebijakan (Collective Bargaining)

Guru tidak akan berdaya jika hanya menjadi objek regulasi. PGRI membangun kekuatan kolektif agar guru menjadi subjek yang menentukan arah kebijakan:

2. Keberdayaan Ekonomi dan Kesejahteraan

Kesejahteraan adalah fondasi dari keberdayaan. PGRI memastikan guru memiliki ketenangan finansial agar bisa fokus pada kualitas pembelajaran:

3. Keberdayaan Intelektual dan Literasi (Empowerment through Knowledge)

Guru yang berdaya adalah guru yang tidak gagap menghadapi perubahan zaman.

  • SLCC (Smart Learning and Character Center): Menjadi motor penggerak agar guru-guru di pelosok memiliki akses teknologi dan ilmu pedagogi terbaru (seperti integrasi AI dalam pendidikan 2026).

  • Budaya Menulis dan Meneliti: Mendorong guru untuk memproduksi pengetahuan sendiri (melalui artikel, buku, dan jurnal), sehingga guru menjadi sumber otoritas kebenaran ilmiah di masyarakat.


Dimensi Keberdayaan Guru Versi PGRI

Jenis Keberdayaan Instrumen Pendukung Hasil yang Diharapkan
Legal LKBH (Bantuan Hukum) Guru berani berinovasi tanpa takut kriminalisasi.
Pedagogis APKS (Asosiasi Keahlian) Guru mandiri dalam mendesain pembelajaran efektif.
Sosial Jejaring Komunitas PGRI Guru menjadi tokoh yang disegani di masyarakat.
Psikologis Solidaritas & Mentoring Sejawat Guru memiliki mentalitas pemenang dan resiliensi tinggi.

4. Keberdayaan di Era Digital (Resiliensi 2026)

Di tahun 2026, PGRI menekankan bahwa keberdayaan guru nasional terletak pada kemampuan konektivitas.

  • Smart PGRI: Digitalisasi database dan layanan anggota yang memudahkan akses informasi dan bantuan secara cepat (real-time).

  • Community of Practice: Memfasilitasi guru-guru di berbagai daerah untuk saling memberdayakan satu sama lain melalui berbagi modul ajar secara terbuka (Open Educational Resources).

5. Membangun “Guru Penggerak” Versi Organisasi

Jika program pemerintah bersifat top-down, PGRI membangun keberdayaan secara bottom-up. Organisasi menanamkan nilai bahwa setiap anggota adalah pemimpin di unitnya masing-masing. Keberdayaan ini muncul dari rasa percaya diri bahwa mereka adalah bagian dari organisasi besar yang selalu siap mendukung di belakang mereka.

“Keberdayaan bukan berarti guru bisa berjalan sendiri, tetapi guru yang tahu bahwa ia memiliki organisasi yang kuat sebagai penopang saat ia melangkah menghadapi tantangan zaman.”