PGRI dan Dinamika Konsensus dalam Organisasi Profesi
Berikut adalah bagaimana PGRI mengelola dinamika konsensus untuk menjaga marwah profesi:
1. Struktur Pengambilan Keputusan yang Demokratis
PGRI menggunakan mekanisme berjenjang untuk memastikan suara dari tingkat sekolah (ranting) sampai ke tingkat nasional didengar. Konsensus dibangun melalui:
2. Menyelaraskan Kepentingan yang Beragam
Tantangan terbesar konsensus di PGRI adalah adanya perbedaan kepentingan antara:
-
Guru ASN vs Guru Honorer: PGRI harus membangun konsensus agar perjuangan status ASN bagi honorer tidak mengesampingkan peningkatan kesejahteraan bagi yang sudah ASN.
3. Konsensus dalam Menghadapi Kebijakan Pemerintah
Sebagai organisasi mitra pemerintah sekaligus penyeimbang, PGRI seringkali berada dalam posisi dilematis.
-
Akomodasi vs Oposisi: Ketika muncul kebijakan baru (seperti perubahan kurikulum atau sistem sertifikasi di 2026), PGRI melakukan konsensus internal untuk menentukan apakah akan mendukung penuh, memberikan catatan kritis, atau menolak.
-
Kekuatan “Satu Suara”: Begitu konsensus dicapai, seluruh anggota dari tingkat pusat hingga daerah diharapkan bergerak dalam satu komando. Inilah yang memberikan PGRI daya tawar (bargaining power) yang tinggi di hadapan regulator.
Mekanisme Resolusi Konflik Internal
Dalam membangun konsensus, gesekan sering terjadi. PGRI menggunakan tiga pendekatan untuk meredamnya:
| Strategi | Implementasi | Tujuan |
| Audiensi Berjenjang | Pertemuan rutin dari cabang hingga pusat. | Mendeteksi kegelisahan anggota sejak dini. |
| Kajian Intelektual | Melibatkan APKS untuk riset data. | Mengubah perdebatan emosional menjadi diskusi berbasis data. |
| Pendekatan Budaya | Silaturahmi dan semangat “Kusuma Bangsa”. | Menjaga persaudaraan di atas perbedaan pendapat. |
4. Konsensus di Era Digital (2026)
Di tahun 2026, dinamika konsensus menjadi lebih cepat berkat teknologi:
-
Polling Digital: Pengurus pusat kini dapat mengambil sampel suara anggota secara real-time melalui aplikasi Smart PGRI sebelum mengambil keputusan penting.
-
Transparansi Informasi: Meminimalisir hoaks internal yang dapat merusak konsensus dengan menyediakan jalur informasi satu pintu.
Pentingnya Konsensus bagi Martabat Guru
Tanpa konsensus yang kuat, PGRI hanya akan menjadi sekumpulan individu tanpa arah. Konsensus memberikan kepastian langkah. Ketika PGRI memutuskan untuk mengadvokasi sebuah isu, pemerintah tahu bahwa itu adalah suara jutaan guru, bukan hanya suara pengurusnya.
“Konsensus di PGRI bukan berarti semua orang harus setuju sejak awal, tetapi semua orang sepakat untuk tunduk pada keputusan bersama demi kehormatan profesi.”
